Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 109


__ADS_3

Richi memasukkan Tien Lie kedalam bagasi mobil Willy, dia mengikat tubuhnya dengan tali yang sudah di siapkan. Mulut Tien Lie, ia tutup dengan lakban.


"Si brengsek telah usai, setelah ini segera ku bawa ke markas utama," ucap Richi.


Saat dia ingin mengajak Willy pergi, dia terkejut saat Willy mengendong seorang gadis.


"Siapa itu Willy?" tanya Richi.


"Dia nona Jeni, pemilik bar. Aku melihat dia tergeletak di lantai," jawab Willy.


"Astaga! dia terlihat sangat menyedihkan, bawa dia bersama kita ke markas utama," ucap Richi.


"Baik," jawab Willy.


Richi, Willy dan seluruh anggota Death Angel pergi meninggalkan bar yang telah rusak parah itu dan segera menuju markas utama mengendarai mobil Willy. Richi membiarkan Jeni berada di pangkuannya dan Willy yang menyetir mobil.


Di sepanjang perjalanan, Jeni mengigau, gadis itu memanggil nama bos Death Angel.


"Alex, dimana kau? aku ingin bertemu, Alex...Alex...," Suara Jeni mengigau memanggil nama Alex saat dia terpejam.


"Dia masih cinta mati dengan bos kita, tetapi terjebak oleh Mike, adik kandung Liu Earl," tukas Willy sambil terus fokus menyetir mobil.


"Kau tahu juga tentang itu, Willy?" tanya Richi.


"Iya, Nona Jeni ingin mendapatkan perlindungan bos kita dari mantan kekasihnya yang seorang psikopat, dia adalah bos mafia Shadow, nona Jeni melakukan segala cara agar bos Alex mau menikahinya,tetapi dia tidak pandai bermain strategi, di waktu yang bersamaan, dia justru terjebak permainannya sendiri, dia menjanjikan cinta kepada Mike, saat dia terdesak, nona Jeni harus benar-benar takhluk oleh kekuasaan Liu Earl, beruntung bos Shadow roboh oleh kekuatan Liu dan tidak pernah mengganggunya lagi, jadi dia hanya memikul satu beban saja, berpura-pura menjadi kekasih Mike," jawab Willy.


"Kasihan juga nona Jeni, aku kira dia gadis murahan yang selalu di katakan oleh Angela," ucap Richi.


"Awalnya aku juga sama, tetapi saat tahu hal ini, aku iba padanya," jawab Willy.


"Tolong siapapun itu, bawa aku bertemu Alex Fernando," ucap Jeni mengigau.


"Dia gadis malang. Richi, coba kau telepon bos, semoga dengan mendengar suara bos Alex, dia lebih tenang," saran Willy.


"Baiklah, akan ku coba," jawab Richi.


Richi mengambil ponsel yang ada di saku celananya dan segera menghubungi sang sahabat.


"Lex, kau sedang apa?" tanya Richi.


"Aku sedang bersama isteriku, ada apa?" tanya bos Alex.


"Apakah isterimu tidak akan cemburu saat dia mendengar seorang gadis yang cinta mati padamu berbicara?" tukas Richi.

__ADS_1


"Dia adalah isteriku dan aku sangat mencintainya, dia tahu itu, tidak perlu kau mengkhawatirkan hal semacam itu," jawab bos Alex.


"Baiklah jika kau setuju dengan ide gilaku ini," ucap Richi.


Richi mendekatkan ponsel miliknya ke arah telinga Jeni.


"Jeni, apa kau baik di sana?" tanya bos Alex.


Sungguh tidak terduga, mata Jeni terbuka saat mendengar suara Alex.


"Hay Lex, apa kabarmu? sudah lima tahun lamanya kita tidak bertemu," ucap Jeni.


"Apa hidupmu baik-baik saja setelah lima tahun itu?" tanya Alex.


"Tidak Lex, aku tersiksa, harusnya aku tidak berbuat buruk padamu, kau sudah terlalu baik padaku, maaf Lex, aku sangat mencintaimu," ucap Jeni sembari menangis.


"Jeni! kau dengar, sejak awal kita bertemu, aku sudah mengatakan jika kau hanyalah adik bagiku, aku hanya mencintai Laras, hanya dia, isteriku tercinta," jawab Alex tegas.


"Tapi Lex, aku tidak mampu hidup tanpamu, pertimbangkanlah perasaanku juga," ucap Jeni.


"Apa kau sudah berhenti bicara? suamiku lelah, dia ingin tidur, oh ya, jika kau adalah gadis baik-baik, berhenti mengganggu Alex, kau tahu? dia adalah suami Laras Nugraheni!" Suara Alex berubah menjadi suara Laras, Jeni langsung membungkam mulutnya dan menangis kembali.


Richi menjauhkan ponsel miliknya dari telinga Jeni dan segera menutup panggilan tersebut.


Paradise Land, kamar utama Alex dan Laras...


Laras terlihat sangat kesal, dia berbaring membelakangi tubuh sang suami.


"Sayang, apa kau marah?" tanya Alex sambil memeluk tubuh Laras.


"Menurutmu?" ucap Laras.


"Kau cemburu pada Jeni," jawab Alex.


"Jika kau tahu, mengapa kau bertanya?" tanya Laras.


"Sayang, dia hanya gadis lugu, kasihan dia, sudahlah... tidak perlu di perpanjang, kau kan isteriku sekarang, kita akan memiliki bayi, ayolah! hentikan perdebatan tidak berguna ini," jawab Alex.


Sang isteri masih saja marah, dia harus mencari cara agar amarah Laras mereda. Tetapi tanpa ia duga, sang isteri tiba-tiba memeluknya, Alex sangat terkejut.


"Jangan pergi," ucap Laras dengan tangis yang tertahan.


"Sayang? baru saja beberapa hari lalu kita mengucapkan janji pernikahan, aku tidak akan meninggalkanmu, kau tahu kan? aku tidak bisa hidup tanpamu," jawab Alex.

__ADS_1


Laras masih saja menangis, membuat bos Alex gemas, dia langsung mendaratkan ciuman di seluruh wajah sang isteri, dia ingin sang isteri merasa rileks, dia mulai berusaha melunakkan hati Laras dengan sentuhannya.


"Kita lakukan," ucap bos Alex.


"Tapi aku belum siap, perasaanku..." Belum sempat kata-kata penolakan itu terdengar dari mulut mungil Laras, bos Alex telah menyergapnya dengan mulutnya, akhirnya terjadi pertautan dua bibir yang sangat panas dan bergairah.


"I love you, love you, just for you Laras..," Kata-kata itu sengaja Alex bisikkan ke telinga Laras agar sang isteri merasa nyaman juga di cintai, dia meninggalkan bekas kepemimpinan di leher sang isteri, hingga terus menuju bagian kenyal itu. Alex melepas satu persatu kancing baju Laras, area sensitif Laras mulai terlihat, dengan rakusnya bos Alex membenamkan wajahnya ke dada sang isteri, dia bermain di sana bergantian dari puncak yang satu ke puncak yang lain, Alex menjelajah keduanya tanpa terlewat satu inchi 'pun sambil tangannya terus bergerilya mencari sesuatu di bawah sana.


Bos Alex bertubi-tubi membuat sang isteri terbang.


"Sayang, terima kasih," ucap Laras penuh dengan hasrat yang menggelora.


Di tatapnya wajah sang isteri yang mulai terhipnotis olehnya, peluh belum sepenuhnya membasahi wajah Laras, bos mafia tanpa henti memberikan kenyamanan kepada sang isteri.


Merasa aksinya tidak mendapatkan perlawanan, dia meminta Laras segera memegang kendali permainan.


"Jika kau marah, lampiaskan saja padaku, aku izinkan kau menghabisiku malam ini," ucap bos Alex.


Laras perlahan mulai mendekatkan wajahnya di milik bos Alex yang telah siap untuk bertempur itu. Jika sebelumnya bos Alex yang melakukannya, kini dengan segala cinta yang Laras miliki untuk bos Alex, giliran Laras yang memulainya, dia melucuti helai kain yang menutupi tubuh bos Alex tanpa ragu, Laras langsung beraksi setelah helai kain itu lepas seluruhnya dari tubuh sang suami. Sensasi hebat mulai menjalar di sekujur tubuh bos Alex saat miliknya mulai tersentuh, di bawah sana terasa sangat nyaman, tiap detiknya sang mafia merasakan sentuhan itu mulai semakin nakal.


"Lebih cepat lagi sayang," pinta bos Alex yang mulai kacau.


Berkali-kali bos Alex menjambak rambut sebahu Laras yang tergerai itu, terbesit di hati bos Alex untuk segera mengakhirinya dengan penyatuan yang luar biasa, namun dia masih mampu menahannya untuk beberapa menit lagi.


"Bangkitlah!" Sang isteri mematuhi perintah bos Alex, dia mengakhiri aksi brutalnya terhadap milik sang suami.


"Kau pandai menyenangkanku," ucap bos Alex.


"Jika aku tidak bisa menyenangkanmu, kau akan mengajariku bukan? kau yang terbaik suamiku," jawab Laras yang kini telah duduk di pangkuan bos Alex.


"Tetaplah di situ, lakukanlah sayang!" pinta sang suami.


Berkali-kali Laras merasa berada di puncak kenyamanan, semakin lama gerakan Laras mulai tak terkendali, dia memeluk tubuh sang suami dan kembali menangis.


"Maaf, aku meragukanmu," ucap Laras.


"Bukan masalah besar sayang, kini giliranku, lima baby A sudah menunggu terlalu lama," jawab Alex dengan kembali menautkan bibirnya dengan bibir sang isteri.


Perlahan Alex merebahkan tubuh sang isteri, dia melakukan pemanasan lagi agar sang isteri kembali relaks, dia benar-benar bersemangat untuk segera memunculkan lima baby A. Alex membuang helai kain yang menempel di tubuh isterinya ke lantai hingga tidak ada satupun yang menempel di tubuh mulus isterinya. Dengan nafas yang memburu, bos Alex melakukan penyatuan, ia ingin segera menuntaskan hasrat itu. Beberapa menit kemudian, nafasnya mulai naik turun, waktunya telah tiba, terdengar suara indah sang isteri yang menggema di seluruh kamar utama, ia semakin terpacu, bos Alex mempercepat gerakannya, tubuh kekar bos Alex seketika oleng saat rasa nyaman di sekujur tubuhnya terasa sampai di ubun-ubun


"Isteriku, aku adalah milikmu, selamanya akan begitu," ucap bos Alex.


Sang mafia mengecup kening Laras, mereka berpelukan sepanjang malam, membuang segala keraguan, menikmati kebersamaan yang luar biasa indah.

__ADS_1


__ADS_2