
Di sebuah apartemen di pusat kota New York, terlihat seorang pria sedang membuat panggilan menggunakan ponselnya. Dia terlihat kesal karena nomor ponsel yang ia hubungi tak kunjung mendapatkan jawaban. Apalagi terakhir saat ia mencoba menghubungi kembali, nomor tersebut sudah tidak aktif.
Bruak!
Pria tersebut membanting ponselnya hingga hancur, ini adalah kelima kalinya dia membanting ponsel miliknya. Sebelumnya, pria tersebut juga melakukan hal yang sama dengan ponsel yang lain bahkan harganya lebih mahal.
"Laras! di mana kau berada?" pekik pria tersebut dengan amarah yang membara.
Dia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, kemudian memejamkan matanya. Di khayalan nya hanya ada wanita itu, wanita yang menjadi teman saat berkuliah dulu. Dia adalah Laras Nugraheni, istri sang mafia.
Rafles sebenarnya pernah mendengar jika wanita pujaannya itu telah memiliki sebuah keluarga, tetapi dia tidak menerima hal tersebut. Beberapa kali pria yang sering di panggil Raf itu menghubungi Tuan Hans, tapi tak kunjung mendapatkan jawaban karena kepala polisi tersebut selalu sibuk.
Kini Rafles telah berada di kota New York, ini adalah saat yang tepat bertemu dengan wanita pujaannya.
Namun, dia tidak tahu jika sang pujaan hati memiliki suami bertitle boss mafia. Ini akan semakin menyulitkannya mendapatkan cinta Laras.
"Tuhan, mengapa semua ini terjadi kepadaku? jika aku bukan anggota kepolisian, aku tidak akan terpisah dari Laras dan membiarkannya menikah dengan pria lain." Sesal Rafles, semua penyesalan di benaknya sudah tidak berguna lagi, yang bisa dilakukannya hanya menemui Laras dan berbicara baik-baik dengan wanita itu jika dirinya merindukan pujaan hatinya. Namun, semua itu tidak akan pernah terjadi, karena Alex menjadi orang pertama yang menghalangi niat pria itu menemui istrinya.
"Aku penasaran dengan sosok pria yang menjadi istri Laras," ucap Raf sembari membuka matanya kemudian bangkit. Dia meraih gagang telepon dan menghubungi seseorang.
"Lovin, aku membutuhkan bantuanmu!" ucap Raf di sambungan telepon.
"Ada apa Tuan? bantuan apa yang kau inginkan?" jawab seseorang di sambungan telepon yang ternyata adalah anak buahnya.
"Cari tahu tentang suami Laras Nugraheni, aku memberikanmu waktu 10 menit, setelah mendapatkan informasi lengkap, kabari aku!" Raf ternyata penasaran dengan sosok Alex yang menjadi suami Laras, dia tidak ingin kecolongan lagi. Sebisa mungkin sebelum memulai peperangan, dia harus mempelajari situasi dan kondisinya terlebih dahulu.
"Siap Tuan! kurang dari 10 menit aku akan mengabarimu, kau tenang saja!" jawab sang anak buah.
"Bagus! aku suka gayamu! segera kau kabari aku, ini sangat penting bagiku!" Raf sangat berharap kepada anak buahnya agar mendapatkan informasi yang lengkap tentang suami Laras Nugraheni agar dia bisa segera bertindak.
"Siap Tuan!" jawab sang anak buah.
Setelah memberikan perintah, Raf menutup panggilan telepon tersebut. Dia memikirkan kemungkinan yang akan terjadi saat dirinya ingin merebut Laras dari sang suami.
"Aku pernah mendengar jika suami Laras adalah pria yang hebat, tetapi aku belum sempat menyelidiki tentang hal itu. Laras adalah gadis yang terhormat dan cerdas, sudah pasti sang suami juga seorang bisnis ataupun seorang pria yang berpengaruh dunia bisnis, atau suatu yang lebih dari itu? bos mafia? apakah mungkin Laras menikahi seorang penjahat? ini tidak mungkin terjadi, dia bukan orang yang mudah memberikan cinta kepada seorang pria. Apalagi dia adalah anak dari seorang kepala polisi, suatu hal yang tidak akan pernah terjadi! bos mafia menjadi menantu kepala polisi? Haha, ketidakmungkinan yang hakiki!" Raf hanya memahami dan mengenal Laras dari luarnya saja, dia tidak mengetahui apa yang sudah dialami oleh wanita itu. Selain penderitaan dan kekecewaan, tidak ada hal lain yang mampu dibanggakan. Hanya saja, Raf memiliki kesan lain saat berteman dengan Laras. Dia melihat sisi keibuan dari wanita itu, bahkan saat Laras masih bersama Juna, dia tetap setia mendengarkan keluh kesah dari wanita yang sangat dicintainya itu. Sampai di mana dia harus pergi, karena sang ayah menginginkan dirinya menjadi seorang polisi. Sejak saat itu, Raf tidak mengetahui kabar tentang Laras.
__ADS_1
Saat dia merenungkan apa yang terjadi di hidupnya, ia mendengar suara telepon rumah berdering. Dengan sikap, Raf menjawab panggilan telepon tersebut.
"Kau sudah mendapatkan informasi tentang suami Laras?" tanya Raf dengan antusias.
"Sudah Tuan, kau akan terkejut saat mendengarkan fakta bahwa suami Laras itu adalah seorang bos mafia terkenal! kau tahu siapa namanya, dia adalah Alex Fernando!"
Deg!
Raf terperanjat saat mengetahui identitas suami dari wanita yang sangat disayanginya. Dia tidak bisa berkata-kata lagi, Raf harus memikirkan rencana yang lebih matang karena saingannya bukan orang sembarangan.
"Shiit*t!!!" umpat Rafles, dia meluapkan kekesalannya dengan membuang semua koleksi buku-bukunya yang ada di rak. Di sana juga ada aku foto dengan Laras, dia membuka buku tersebut dan merobeknya. Dia benar-benar merasa kesal dengan fakta yang baru saja ia dengar.
"Tuan! kau baik-baik saja kan!"
Sang anak buah khawatir jika Tuannya melakukan hal diluar batas seperti sebelumnya, saat Raf marah, dia akan mengamuk. Meskipun dia seorang polisi, Raf juga seorang manusia biasa yang memiliki amarah, apalagi ini mengenai Laras.
Raf kembali mengambil gagang telepon dan berbicara dengan anak buahnya.
"Bunuh Alex! bagaimanapun caranya dia harus mati, dan hanya aku yang akan menjadi suami Laras! kau paham! aku tidak perlu dia seorang mafia ataupun bos mafia ataupun malaikat maut sekalipun! jika harus memiliki Laras dengan cara yang licik, aku akan melakukannya." Raf kalap, saya tidak bisa berpikir jernih lagi, statusnya sebagai pelindung masyarakat sudah terlupakan. Kini di dalam hati dan pikirannya hanya ada Laras, Laras dan Laras.
"Baik Tuan!"
Bruak!
Dia kembali membanting gagang telepon itu, hari ini, Raf sudah menghancurkan banyak barang hanya karena rasa cemburunya kepada seorang Laras, wanita pujaannya yang kini telah bersuami.
"Sial! mengapa aku harus mengetahui fakta menyebalkan ini di saat harapanku begitu tinggi untuk menjadikan Laras satu-satunya wanita paling berharga di hidupku."
Rafles memimpikan menjadi pengantin saat ia kembali ke negara asalnya. Sebenarnya, Raf akan diangkat menjadi kepala polisi, tapi saat dia mendengar kabar Laras berada di New York, dia segera terbang ke negara asalnya dan memilih menetap dan tidak akan berpindah-pindah tempat lagi.
Dia sudah menyiapkan sebuah acara lamaran di restoran paling mewah di kota tersebut, namun semuanya hanya menjadi khayalan semata.
"Brengsek kau Lex! mengapa kau harus hadir di hidup Laras! kau hanya mafia brengsek! tidak pantas mencintai wanitaku!"
Beberapa menit kemudian, terdengar bel berbunyi. Dia berjalan menuju pintu utama.
__ADS_1
KLEK!
Setelah pintu terbuka, ada 5 orang yang mengenakan jas berwarna hitam. Raf menyuruh kelima orang tersebut masuk ke dalam apartemennya.
"Tuan? mengapa apartemen anda sangat berantakan? biasanya kau kau tidak menyukai ruangan yang penuh dengan sampah, tapi mengapa hari ini semuanya hancur berantakan?" Salah satu anak buah heran dengan apartemen milik Tuannya, terlihat banyak barang yang terjatuh di lantai, bahkan kamar utama yang terbuka itu nampak banyak kertas bertebaran dan buku-buku tidak berada di tempatnya.
"Jangan banyak bicara! tugasmu dan kalian semua adalah menyusun rencana untuk menghabisi Alex Fernando! mengapa masih memikirkan hal yang tidak penting, apa aku harus mencekik leher mu agar kau memahami perasaanku yang hancur ini?" Raf menarik kerah baju salah satu anak buahnya, kemudian hampir saja melukai leher sang anak buah. Untung saja, keempat anak buahnya yang lain segera cara mencegah kejadian tersebut sehingga tidak terjadi hal yang lebih buruk lagi.
"Tuan! sadar Tuan! kau adalah seorang polisi, jangan sampai kejadian ini menurunkan image sebagai polisi yang baik! tenang Tuan kami akan segera menghabisi maaf itu tanpa melibatkanmu!" Anak buahnya menenangkan Tuannya agar tidak melakukan hal yang diluar batas.
Raf menghela nafasnya dan menghembuskan secara perlahan. Dia memejamkan matanya seraya meraih kesadarannya.
"Huft! oke, kali ini aku menuruti ucapanmu! mari kita duduk bersama membahas rencana yang akan segera di eksekusi!" Raf mempersilahkan kelima anak buahnya untuk duduk di sofa. Kemudian disusul dengannya yang juga duduk di kursi kebanggaannya.
"Tuan, bagaimana menurutmu jika kita menculik Nyonya Laras?" Usul salah satu anak buahnya.
"Jangan terlalu terburu-buru, lebih baik kita mengintai kehidupan keluarga mereka selama satu minggu ini, setelah kita memahami kebiasaan mereka. Barulah, kita bertindak. Aku tidak mau rencana ini gagal, laporkan kepadaku apapun yang terjadi dengan wanitaku. Apa kalian paham?" perintah Raf sorot mata membunuh.
"Tapi bagaimana jika kita ketahuan Tuan? dia itu memiliki suami seorang bos mafia, pasti banyak anggota yang menjaga rumah tersebut." Salah satu anak buah mengatakan fakta yang sebenarnya, dia mengkhawatirkan hal ini, bisa saja mereka terbunuh dengan sia-sia belum mendapatkan wanita pujaan Raf.
"Kau fokus saja dengan pengintaian, aku akan mengirim beberapa anak buah yang lain untuk membantu. Aku pastikan semuanya akan baik-baik saja, kalian tidak perlu cemas." Raf meyakinkan kepada anak buahnya agar tidak terlalu mengkhawatirkan hal yang tidak penting.
"Baik Tuan!"
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1