
Saat Alex sedang asyik mengobrol dengan para anggota, tiba-tiba saja ponsel miliknya berdering. Alex segera meraih ponselnya ada di kantong celananya, dia menatap layar ponsel tersebut.
Dahinya mengernyit menatap nomor ponsel yang tidak dikenal menghubungi dirinya. Dia enggan menjawab panggilan tersebut, tetapi rasa penasarannya lebih kuat daripada egonya.
"Ini siapa?"
"Alex Fernando? apa benar ini Alex? astaga! Lex!" Sang penelepon begitu heboh, membuat sang mafia menutup panggilan tersebut.
"Suaranya seperti seorang pria tetapi memanggil namaku saja seperti pria penggoda, aku masih normal dan aku menutup panggilannya!" ucap Alex berbicara sendiri.
"Bos? siapa yang menelepon?" tanya anak buahnya heran.
"Aku tidak tahu, ini..." Belum selesai sang mafia berucap, nomor ponsel yang menyebalkan itu kembali menghubunginya.
"Alex! mengapa kau menutup panggilan dariku? apa kau lupa denganku? singa liar?"
Deg!
Ingatan sang mafia terbang ke masa lalu, dia teringat akan seorang kerabat yang selalu memanggilnya dengan nama singa liar.
"Kau Joan? Joan Vin?" Alex masih belum percaya jika yang meneleponnya adalah Joan.
"Hahaha... akhirnya kau mengenali suaraku, Lex? kau apa kabar?"
Deg!
Jantung Alex seperti berhenti berdetak, dia berharap jika ini bukan hanya mimpi semata.
Joan Vin kerabatnya telah tewas beberapa tahun yang lalu, mungkin hidup kembali. Alex mencoba memastikan jika orang tersebut memang Joan.
"Sebutkan nama anjingg yang pernah aku ajak berkelahi?"
"Zero."
"Nama gadis yang mengejarku sampai celananya sobek?"
"Tiena Liem."
__ADS_1
Alex terdiam, dia masih meragukan jika sang penelepon adalah kerabatnya.
"Ini yang paling rahasia, hanya aku dan Joan yang mengetahuinya. Nama katana ayah yang paling legendaris, kau tahu namanya?"
"Tentu saja, namanya biru laut. Sama seperti geng Paman Fernando, Blue Sea. Kau bisa saja meragukanku, tetapi berita yang ada di masa lalu tidak akan pernah hilang begitu saja."
Fix, Alex mengenal pria ini, dia adalah Joan Vin kerabatnya yang di kabarkan tewas saat penyerangan geng naga api. Semua anggota bos Fernando tidak ada yang tersisa, kecuali Tuan Fudo, Guru Fu, Alex dan Justin.
"Jo? astaga, ini kau?"
"Iya, siapa lagi!"
"Haha...kau banyak gaya sekarang!"
"Aku bangkit dari kubur dan ingin mengajakmu bertarung, aku tidak sudi untuk mati jika tak bisa mengalahkanmu!"
"Coba saja?"
"Dimana rumahmu? aku ingin berkunjung."
"Siapa musuhmu? memangnya kau kira, aku akan diam saja?"
"Iya, aku tahu, kau adalah anggota terbaik di Tim Tuan Fudo. Aku tidak meragukan kemampuanmu!"
"Cih! hanya dengan satu pukulan, kau mampu merobohkanku, aku tidak terima jika kau mengejekku."
Saat asik mengobrol dengan sang kerabat, sosok sang istri tiba-tiba sudah berada di antara para anggota Death Angel.
"Aku memasak banyak makanan, ini untuk kalian semua. Apa ini sudah lengkap? anggota lain dimana?" tanya Laras sembari membawakan banyak makanan untuk para anggota Death Angel.
"Wah, Nyonya Laras baik hati sekali, sudah baik, cantik lagi."
Mata Alex langsung melotot ke arah sang anak buah, sedangkan Joan di sambungan telepon masih banyak bicara.
Otomatis sang anak buah langsung melempem mentalnya, dia tidak mau kena marah gara-gara salah berucap.
"Lex, kau tidak boleh marah-marah di depan anak buahmu, bagaimanapun juga, mereka yang membantu saat dirimu mengalami kesulitan."
__ADS_1
Ya, kalau Laras yang mengatakannya, pasti bos mafia tidak akan menolak, dia seperti hewan peliharaan yang patuh terhadap Tuannya.
"Lex, apa itu istrimu?" tanya Joan di sambungan telepon.
"Iya, sudah ya Jo? ibu negera sudah memberikan titah, rakyat jelata sepertiku tidak bisa menolaknya." Alex terlihat seperti seorang pria yang takut dengan istrinya, tetapi kenyataannya tidak, dia hanya menghormati ibu dari anak-anaknya.
"Jo, sebentar, nanti aku telepon lagi, ada panggilan telepon dari Tuan Fudo, jika tidak segera aku jawab, bisa habis jatah hidupku."
"Oke."
Alex menutup panggilan telepon dari Jo, kemudian menjawab panggilan telepon dari Tuan Fudo.
"Ya Tuan, ada apa?" tanya Alex heran, karena tidak biasanya Tuan Fudo menelepon dirinya.
"Ada misi untukmu, kau harus temukan Raf segera, dia terlalu meresahkan geng kita."
"Apa yang dia lakukan?"
"Dia membuat statemen jika Tuan Hans Kong kalikong dengan geng kita dalam bisnis narkoba!"
"Dam*n it! pria itu!"
Alex sudah mengetahui tentang kabar tersebut, tetapi jika kabar ini sudah sampai di telinga Tuan Fudo, menjadi suatu hal yang luar biasa.
"Aku akan melaksanakan misi dari Tuan!" Alex sebenarnya ingin menolak perintah Tuan Fudo, tetapi kali ini yang memintanya menjalankan misi adalah Tuan Fudo, tetua Death Angel, masa bisa dia menolaknya.
Laras sedari tadi menatap wajah kebingungan sang suami, dia memahami apa yang di rasakan Alex.
"Jalankan misi itu segera Lex, jangan tunda lagi! Raf jangan sekali 'pun kau remehkan, dia akan menjadi bom waktu yang siap meledak jika terlalu lama di biarkan."
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1