
Laras merasa bahagia karena akhirnya dirinya bisa bertemu dengan kedua orang tuanya. Meskipun hanya sebentar mereka ada di New York, mampu mengobati rasa rindunya yang teramat berat kepada keduanya. Sang isteri tak hentinya bernyanyi, dia mengungkapkan kebahagiaan yang ada di dadanya. Sampai kelima anaknya memprotes suara sang mommy yang fals.
"Mom? apa mommy tidak sadar? suara mommy itu itu membuat telingaku sakit?" celetuk Arsen si ahli protes.
"Haha, maaf sayang, mommy itu sedang merasa bahagia karena akan bertemu dengan kakek dan nenek. Mereka adalah segalanya bagi mommy," jelas sang isteri yang sangat menyayangi dan menghormati kedua orang tuanya.
"Mommy sangat luar biasa, aku juga sayang nenek dan kakek tetapi aku kesal karena mereka tidak berniat datang sebelumnya." Lexis, urutan kedua si kembar yang pandai protes. Dia dan Arsen sangat kritis orangnya.
"Sayang? coba lihat mommy, kita berbicara dulu jangan marah-marah, jangan kesal. Nenek dan kakak memiliki kesibukan masing-masing,
Laras tersenyum ke arah Lexis yang tak mau menoleh ke arahnya.
Alex yang mengetahui jika Lexis sedang marah, kemudian membantu membujuk si tengil untuk mau berbicara dengan mommynya.
"Mommy sedang bahagia, biarkan saja ya? apa perlu daddy ikut serta menambahkan kekacauan itu? suara daddy lebih fals daripada mommy," ucap sang mafia membuat lelucon agar Lexis berhenti marah kepadanya.
__ADS_1
"Daddy!!!" pekik Lexis yang lama kelamaan menyunggingkan senyum di bibirnya.
Misi sang mafia selesai, akhirnya Lexis tak marah lagi.
Perjalanan menuju bandara semakin menyenangkan dengan kebersamaan yang terjalin akrab antara sang mafia juga anak-anaknya.
Tak butuh waktu lama, mobil sang mafia telah berhenti di tempat parkir bandara.
Saat keduanya turun dari mobil, ada dua sosok yang ternyata telah menunggu di tempat parkir. Sosok itu adalah, Tuan Hans dan Nyonya Fira.
Aarav dan ke empat saudaranya, tak kuasa menahan rasa rindunya. Mereka berlima langsung memeluk kakek dan neneknya.
"Kakek? apa ini kakek?" Aarav memeluk erat tubuh sang kakek.
"Kau kira aku zombie? atau vampir? ada-ada saja. Iya ini kakek sayang," ucap sang kakek mencium pipi Aarav, membuat cucu yang lain iri.
__ADS_1
"Hanya kak Aarav sajakah? kami tidak kakek cium?" tukas Lexis, lagi-lagi dia kesal karena merasa cemburu.
Sang nenek berusaha menghibur ke empat cucunya.
"Kan ada nenek, ayo ikut nenek saja," pinta sang nenek yang sudah siap memeluk dan mencium pipi ke empat cucunya.
Namun ke empat bocah kembar itu enggan menuruti permintaan Nyonya Fira, alhasil ke lima baby kembar sang mafia berebut di cium Tuan Hans.
Laras dan Alex yang mengetahui kekacauan ini, kemudian menghampiri kedua orang tua itu.
"Sayang, lebih baik kita segera pergi ke tempat yang daddy janjikan ya? di sana ada nenek dan kakek yang lain, pastinya mereka jauh lebih keren dari kakek dan nenekmu ini," ledek sang mafia, membuat Laras menahan tawa.
"Hey? suami dari anakku, kau mulai lagi ya? coba aku tanya, sudah berapa tahun kau hidup dengan putriku? kau sama sekali tak ingin pulang ke tanah kelahiranmu? dasar kau ini! " Tuan Hans menyayangkan sikap sang mafia yang seperti melupakan dirinya, padahal saat kelahiran ke lima babynya, Tuan Hans mengajukan cuti sampai satu bulan, dia bahkan harus berurusan dengan kantor polisi pusat karena dia nekat bolos kerja, jatah cutinya yang hanya 2 minggu, secara pribadi dia menambahkan dua minggu lagi.
"Sudahlah ayah, lebih baik jangan mengungkit masa lalu, ayo ikut bersamaku. Aku akan membawa kalian ke rumah Guru Fu, ada hal penting yang harus aku bicarakan dengannya," ucap sang mafia mencoba menghindari perdebatan dengan sang ayah mertua.
__ADS_1
Laras yang sudah rindu dengan kedua orang tuanya, harus lebih bersabar karena kelima anaknya sangat lengket dengan Tuan Hans dan Nyonya Fira.
Sang mafia membantu membawa dua koper besar milik kedua mertuanya, agar Tuan Hans dan Nyonya Fira tidak kerepotan.