Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Surprise!


__ADS_3

Setelah matikan sambungan telepon itu, Alex berbaring di atas sofa ruang tamu. Dia memikirkan tentang sang peneror, sang mafia kembali menerka-nerka siapa orang yang datang ke rumahnya di tengah malam dan menebarkan teror.


"Semua musuhku kali ini rata-rata dari dunia bisnis, tapi masih ada dua orang yang harus aku eksekusi. Semoga segalanya kembali stabil. Aku masih ingin bersama anakku dan isteriku lebih lama lagi." Tak terasa mata sang mafia mulai terpejam, Dia terlihat lelah sekali, bukan kebiasaan bisa tidur dengan lelap.


Beberapa jam kemudian...


Suara gemuruh anak kecil sudah mulai terdengar di telinga sang mafia, segalanya seperti mimpi. Namun saat dia membuka mata, ternyata kelima jagoannya telah mengelilingi dirinya yang sedang tidur di sofa ruang tamu.


"Daddy? mengapa tidur di luar? apa mommy marah?" tanya Lexis si tengil yang kepo.


Alex mencoba membuka matanya dengan perlahan, wajah yang hampir sama menatap ke arah wajahnya.


"Hoam! ada acara apa ini ya? mengapa akan berkumpul di sekitar daddy?" Sang mafia merasa heran kepada kelima anaknya yang tidak berkedip memandangnya.


Sang mafia meminta kepada anaknya untuk memberikan ruang agar dirinya bisa duduk bersandar di sofa. Setelah mendengar permintaan sang daddy, semua baby A berpindah tempat.


"Nah, begini kan baik." Sang mafia masih mengucek kedua matanya, sembari beranjak dari sofa. Dia berpamitan kepada kelima babynya harus segera mandi karena dia ingin mengajak mereka jalan-jalan tempat yang indah.


"Mau jalan-jalan kemana? aku akan segera mandi," ucap Adelio yang langsung mencari mommynya yang ada di dapur.


Saat Laras sedang mencuci piring, Adelio menarik baju sang mommy.


"Mom! kita akan pergi ke tempat yang indah untuk jalan-jalan. Daddy sudah mengatakannya, ayo aku ingin mandi mommy!" Adelio sangat antusias jika diajak jalan-jalan.


Sang mobil yang masih bergelut dengan cucian piringnya, segera mencuci kedua tangannya dengan air mengalir yang bersih.


Setelah itu, Adelio menarik tangan Laras menuju ruang tamu.


Di sana, Alex dan ke empat saudaranya setelah melakukan negosiasi.

__ADS_1


"Jangan membawa barang yang tidak berguna, daddy akan menuruti semua permintaanmu, oke?" pinta sang mafia kepada anak-anaknya yang sedari tadi bersahut-sahutan agar segera di dengar pendapatnya.


Sesaat kemudian, datanglah Lexis dan Laras. Dengan posisi Laras yang menggandeng tangan si kecil.


"Mommy! coba mommy pastikan, akan kemana daddy membawa kita jalan-jalan," pinta sang anak penuh antusias.


Laras mendekati sang suami, dia mengkonfirmasi hal yang baru saja ia dengar dari Lexis.


"Kau ingin membawa kami jalan-jalan?" tanya Laras, mewakili semua anak-anaknya.


"Tengah malam ada teror, aku akan membawamu dan anak-anak Kita kata-kata rindu di rumah Guru Fu, aku bisa saja memanggil semua anak buah ku untuk menjagamu, tapi aku lebih percaya kepada Guru Fu," bisik sang mafia, suaranya terdengar begitu pelan di gendang telinga sang isteri, namun Laras memahami apa yang disampaikan oleh Alex.


"Oke, setelah ini aku akan memandikan mereka berlima. Kau segera mandi juga," balas Laras dengan berbisik juga.


Laras meminta anak-anaknya untuk segera masuk kamar mandi, awalnya mereka enggan mengikuti semua ucapan sang mommy. Tetapi Alex menjanjikan banyak hal setelah mereka berlima mau membersihkan diri.


Jurus ini mempan, Alex segera bangkit dari sofa, hampir sekujur tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa di karenakan posisi tidurnya yang tidak nyaman.


Alex masuk ke kamar mandi utama, sedangkan kelima anaknya membersihkan diri di kamar mandi yang lain.


Laras memerlukan banyak waktu dan tenaga untuk memandikan kelima anak kembarnya. Setiap anak memiliki kelebihan yang berbeda-beda, tidak terkecuali dengan anak-anaknya. Ada yang anteng saat dimandikan, tetapi ada juga yang masih ingin bermain air.


Lexis dan Adelio saling bermain bola didalam bak mandi yang di desain cukup besar untuk beberapa orang, Alex menyiapkan kamar mandi semenarik mungkin agar kelima anaknya mau mandi dan tidak terlalu banyak alasan.


Sejak satu tahun yang lalu, kelima baby sang mafia telah belajar membersihkan diri secara mandiri. Laras biasanya hanya akan membantu sekedarnya dan menyiapkan handuk untuk mereka.


"Setelah selesai, kalian segera memakai handuk kering ini," ucap Laras kepada kelima baby-nya yang menggemaskan itu karena sudah setengah jam lebih mereka bermain air, Laras khawatir jika mereka akan pilek.


Ternyata anak-anak sang mafia sangat patuh, tidak perlu banyak bicara mereka sudah mendengarkan apa yang menjadi permintaan mommy mereka.

__ADS_1


Setelah kelima babynya hanya berbalut handuk yang melilit di pinggangnya, mereka berlima keluar dari kamar mandi tersebut dan segera menuju ruangan luas yang menjadi kamar mereka berlima.


KLEK!


Aarav berhasil membuka pintu itu, dia sejak kecil dia ingin sekali bisa membuka dan menutup pintu. Hal yang sederhana dan aneh, namun itulah keluarga sang mafia yang selalu banyak kejutan.


Laras menyiapkan pakaian yang akan dipakai oleh kelima baby-nya sebelum pergi ke rumah Guru Fu.


"Mommy, kita perlu membawa banyak barang tidak?" tanya Aarav.


"Tidak, mommy yakin jika daddy sudah menyiapkan segalanya. Ganti pakaian kalian segera, Mommy juga akan mandi," ucap Laras yang membiarkan kelima anaknya berganti baju sendiri.


Saat dia keluar dari kamar kelima bocah kecilnya, dia terkejut saat mendapati sang mafia ada di depan matanya.


"Astaga! Lex! apa yang kau lakukan? mengagetkanku saja!" sang isteri menggelengkan kepala melihat tingkah konyol sang suami yang hanya diam saat dirinya bertanya.


"Hey? sayang? kau kenapa?" tanya sang isteri lagi, dia masih belum mengerti apa yang sebenarnya sang mafia lakukan di depan kamar jagoan kecil mereka.


"Ikut denganku sebentar, ada hal yang ingin aku sampaikan kepadamu sebelum pergi ke rumah Guru Fu." Sang mafia terdengar serius dengan ucapannya, setelah keduanya menjauh dari kamar anak-anak, Alex segera membisikkan hal yang akan membuat Laras terkejut.


"Kedua orang tuamu akan datang mengunjungimu, mereka baru sampai di bandara, beberapa menit lagi sampai di rumah," ucap sang mafia.


Mata Laras membulat sempurna, dia tidak menyangka jika kedua orangtuanya benar-benar akan datang.


"Terimakasih Lex, ini pasti kau yang merencanakan nya? kau yang terbaik Lex!" Laras memeluk tubuh sang suami dengan erat, secara reflek, Laras mencium pipi bos mafia itu.


"Kurang, yang lain juga butuh di cium," celetuk sang mafia yang mulai nakal.


"Kau selalu tidak puas jika masalah kiss," jawab sang isteri, dia memahami sang suami lebih dari siapapun, hasratnya semakin menggebu saat berada di dekat Laras.

__ADS_1


Saat keduanya terlibat perbincangan dengan jarak yang sangat dekat, ada suara menakutkan dari arah belakang.


"Daddy!" pekik Lexis, sedangkan ke empat saudaranya memandang sinis ke arah daddy mafia, rival terberat mereka.


__ADS_2