Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 27


__ADS_3

Justin merasa seluruh tubuhnya remuk. Dia mencoba bangkit dari tempat tidur yang terbuat dari bambu itu namun tak sanggup karena terlalu lemah. Guru Fu yang mengetahui jika Justin sudah siuman, merasa senang. Dia kemudian membantu Justin untuk duduk bersender di ranjang yang terbuat dari bambu itu.


"Siapa kau? dimana aku?" Tanya Justin.


"Kau ada di rumahku, aku adalah Guru Fu." Jawab Guru Fu.


Justin menghela nafas panjang. Terasa sesak di dadanya, dia merasa seluruh tubuhnya tak bertenaga. Guru Fu menjelaskan jika itu efek ramuan yang Ia buat. Setelah ini, dia akan segera pulih.


"Guru Fu, apa kau bisa membantuku?" Tanya Justin.


"Kau meminta bantuan seperti apa?" Jawab Tuan Fu.


"Segera sembuhkan aku, aku harus pergi ke kota membalaskan dendam kepada Alex Fernando." Ucap Justin.


Guru Fu terkejut karena Justin memusuhi sang adik. Pria tua itu bertanya tentang masalah yang terjadi antara dirinya dan Alex. Justin mengatakan jika dirinya menyukai seorang gadis yang juga di sukai oleh adiknya. Dia ingin berkuasa menjadi pemimpin Death Angel, tapi adiknya selalu mengganggu usahanya. Dia dan adik sedang dalam masa yang buruk. Guru Fu mengatakan jika Justin harus lebih bersabar untuk beberapa hari lagi karena luka di tubuhnya masih basah.


"Apakah kau ingin melenyapkan adikmu sendiri?" Tanya Guru Fu berhati-hati.


"Tentu saja. Dia pengacau." Jawab Justin.


"Sebaiknya kau jangan melakukannya, ayahmu tidak akan menyukainya." Ucap Guru Fu.


"Memangnya kau kenal ayahku?" Tanya Justin penasaran.


"Aku adalah Renzo, tangan kanan Tuan Fernando."

__ADS_1


Justin terkejut karena setahu dia semua yang ada hubungannya dengan Blue Sea telah lenyap. Dia mencoba menerka-nerka tentang kebenaran perkataan pria di depannya ini. Guru Fu alias Fu Renzo menunjukkan tato pedang samurai yang ada di lengan sebelah kanannya, setelah itu Justin percaya tentang kebenaran Guru Fu sebagai tangan kanan sang ayah.


"Saat pembantaian itu, kau masih berusia sepuluh tahun. Aku mengetahui tentang rencana Naga Api untuk membumi hanguskan Blue Sea jadi Tuan Fernando dan Nyonya Raihana meminta ku untuk membawamu dan adikmu pergi. Tuan Fudo sebagai kawanku sekaligus anggota Death Angel waktu itu bergabung melawan Young Devil dan Naga api, mencoba menyembunyikan mu di markas utamanya di tengah hutan. Setelah Blue Sea lenyap, geng naga api menjadi penguasa dan kota itu penuh dengan kehancuran. Hingga Young Devil datang merobohkannya. Sejak saat itu Young Devil dan Death Angel menjadi dua musuh bebuyutan sampai sekarang." Jelas Guru Fu.


"Young Devil telah roboh juga, geng itu hancur di tangan adikku." Ucap Justin.


"Luar biasa memang adikmu itu, aku sudah tahu sejak dulu jika dia akan menjadi pemimpin geng mafia yang hebat." Jawab Guru Fu.


"Kau juga memujinya? mengapa semua orang suka sekali memuji anak kecil itu." Ucap Justin ketus.


Guru Fu hanya tersenyum saat mendengar ucapan Justin. Dia meminta Justin untuk istirahat dulu karena kondisinya masih lemah dan tidak stabil.


Justin mengiyakan permintaan Guru Fu dan meminta tolong kepadanya agar jangan memberi tahu kepada siapapun tentang jati dirinya sebagai Justin Steven, karena Ia akan menyamar sebagai orang lain saat telah sembuh nanti. Guru Fu mencoba menerka tujuan dari Justin yang ingin menyamar sebagai orang lain. Tapi dia lebih memilih untuk segera pergi dan membuat ramuan baru untuk Justin.


* * *


"Kau lama sekali, Tuan?" Gerutu Laras.


"Apa kau begitu merindukanku?" Tanya Alex.


"Tidak juga, aku hanya ingin minta maaf padamu karena tadi aku marah padamu." Ucap Laras merasa bersalah.


"Jadilah istriku dan kau mendapat pengampunan dariku." Jawab Alex.


"Diamlah bocah tengik, kau selesaikan dulu masalahmu itu. Baru kita menikah." Ucap Laras dengan raut wajah gembira.

__ADS_1


Alex mengatakan kepada Laras agar berhati-hati jika berurusan dengan orang bernama Tuan Xiauling. Dia sangat berbahaya untuk sang gadis dan keluarganya. Laras mencoba bertanya tentang kekhawatiran Alex, tapi bos mafia itu masih menyembunyikan tentang identitas Tuan Xiauling karena dia belum mendapatkan bukti yang akurat.


"Sayangku, kau harusnya bersamaku di sini. Aku ingin sekali membelai rambut indahmu itu." Ucap Alex.


"Kau culik lagi aku, besok aku ke Bar pusat kota. Jangan kau mengantarku pulang." Jawab Laras.


Alex menjelaskan jika dia masih belum ingin menculik kekasihnya, dia masih banyak urusan. Dia tidak mau jika sang kekasih melihat sisi kejamnya. Laras mengatakan jika dirinya menerima Alex apa adanya. Tidak ada hal yang lebih indah selain di cintai oleh sang bos mafia. Alex menjadi kejam ataupun lembut, bukan masalah baginya.


"Gadis cantik, terima kasih telah mencintai ku setulus itu. Tapi maafkan aku, aku belum mampu menjadi pria yang baik untukmu." Ucap Alex.


"Tidak masalah Tuan, biarpun kau pria brengsek menyebalkan tapi aku tetap menyayangimu." Jawab Laras.


Alex mengatakan jika dia masih ada banyak kerjaan dan itu membutuhkan waktu beberapa hari untuk menyelesaikannya. Dia meminta kepada sang gadis untuk menjaga diri dan keluarganya. Setelah itu dia menutup panggilan telefonnya.


"Huft, pria mafia itu selalu banyak urusan. Semoga dia selalu menang di setiap pertarungan."


Laras mengenang kebersamaan dengan sang bos mafia itu, tidak ada hal yang buruk darinya. Dia menerawang jauh ke masa depan, ada rasa sakit di hatinya kala mengingat jika seorang mafia itu selalu di kelilingi oleh banyak gadis dan mereka lebih suka berfoya-foya. Ada ketakutan tentang hal itu di dalam hatinya. Laras mencoba menepis prasangkanya agar dirinya dan Alex bisa tetap bersama.


"Pria brengsek itu selama ini tidak pernah terlibat dengan gadis lain, semoga dia bisa menjaga hati hanya untukku."


Laras memutuskan untuk beranjak dari tempat duduknya dan segera pergi ke kampus karena ada hal yang harus di urusnya mengenai alasannya tidak masuk kuliah selama beberapa hari ini. Kedua orang tuanya sedang marah padanya, tidak mungkin untuknya meminta bantuan kepada mereka. Laras bersiap pergi ke kampus mengendarai mobil milik ibunya.


Di tengah perjalanan, dia melihat ada pria yang mirip dengan kekasihnya sedang berjalan bersama seorang gadis di sebuah taman. Hatinya panas dingin, dia mencoba menelfon nomor sang kekasih tetapi tidak kunjung ada jawaban. Ia kemudian memarkir mobilnya dia tempat parkir di taman itu. Dia menghampiri pria yang mirip kekasihnya itu, namun dugaannya salah, dia ternyata salah orang.


Untung saja pasangan kekasih itu tidak memperbesar masalah, jadi Laras merasa aman.

__ADS_1


"Ya Tuhan, Tuan Alex membuatku hilang akal." Gumamnya.


Dia kemudian kembali ke parkiran dan melanjutkan perjalanan ke kampus mengendarai mobilnya dengan rasa malu karena salah menerka orang.


__ADS_2