Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 186


__ADS_3

"Sayang, sudahlah! biarkan saja mereka," pinta Laras. Ibu hamil itu meminta Alex untuk tidak terlalu menggubris yang lain karena semua orang di tempat itu sangat menyayangi Laras dan Alex, jadi wajar jika ingin mengetahui apapun yang pasangan itu lakukan.


"Kalian semua aman kali ini, apa kalian dengar?" pekik sang mafia.


"Dengar bos!" sahut para manusia yang berada di dalam kamar tamu.


"Bagus!" Alex merasa puas karena mampu membereskan para pengganggu.


Alex berbalik, langkah kakinya kembali menuju sang isteri yang sedang menonton televisi.


"Mengapa kau tersenyum?" tanya Alex saat dia ingin duduk di samping Laras.


"Kau selalu membuatku tersenyum sayang, peluk aku," pinta sang isteri.


"Tanpa kau minta aku juga akan memelukmu," Alex mendekat ke arah sang isteri, dia segera memeluk tubuh sang isteri yang makin berisi itu.


"Kau tidak akan pergi lagi kan?" Laras memainkan jarinya di dada bidang bos Alex, dengan nada suara manja yang membuat sang mafia gemas.


"Tidak akan sayang, kau tenanglah!" Alex mempererat pelukannya. Ia mencium kening Laras dan membelai rambut Laras yang semakin panjang itu.


"Sayang?" panggil sang isteri.


"Iya?" jawab sang mafia lembut.


"Aku sangat bahagia saat kau kembali, apa kau tahu apa yang aku rasakan saat kau tidak ada di sampingku?" ucap Laras lirih. Dia mencoba menyembunyikan rasa pedih itu di dalam hatinya, namun saat orang yang di nantikan sudah kembali, rasa kehilangan itu sirna.


"Apa itu sayang?" Alex menatap wajah sendu Laras. Di sudut matanya, ada setetes air yang tertahan.


"Aku takut kau tiada, setiap hari aku memikirkan hal itu, bagaimana jika kau pergi dariku dan tak kembali? aku merasa menjadi orang bodoh tiap detiknya. Berusaha tegar namun tak mampu menahan rasa itu, aku seperti orang gila tanpamu Lex, aku..." Belum sempat Laras melanjutkan curahan hatinya, Alex segera menyergap bibir Laras lembut. Dia menunjukkan sisi lembutnya si sana. Tidak ada sentuhan penuh naf*su, yang ada hanya kasih sayang dan kelembutan. Laras terbuai oleh rasa nyaman yang Alex berikan padanya. Tak terasa airmatanya mengalir dengan deras.

__ADS_1


Alex melepaskan pertautan bibir yang ia lakukan, ia mencium kening Laras dan menghapus air mata sang isteri.


"Cukup, ini terakhir kalinya aku mengetahui kau bersedih karena kepergianku. Aku akan menjaga anak kita sampai dewasa, entah musuh seperti apa yang akan menghancurkanku kelak tetapi satu hal yang harus kau tahu, yang ada di pikiranku hanya kalian berenam, kalian adalah kekuatanku, jangan merasa aku tidak akan pernah kembali. Jika itu terjadi, setidaknya aku sudah memberikan banyak harta warisan kepadamu dan kelima anak kita," Alex mengubah topik pembicaraan membuat Laras tersenyum dan mencubit pipinya.


"Sayang? aku ingin kau tetap hidup, kita rawat anak kita sampai dewasa, berjanjilah kepadaku sayang," Laras menyodorkan jari kelingking ke arah sang mafia.


"Apa ini!" tanya sang mafia yang tidak mengerti sama sekali maksud dari jari kelingking itu.


"Haha, kau harus banyak menonton film drama romantis sayang. Ini namanya janji jari kelingking, kau tinggal menautkan jari kelingkingmu dengan milikku, kau sudah paham?" Laras mengajari sang mafia membuat janji jari kelingking, setelah siap mereka berdua berjanji akan selalu bersama merawat kelima anaknya hingga dewasa.


"Aku baru mengetahu hal seperti ini. Waktuku hanya untuk bertarung dan mempertahankan kekuasaan sayang, mana ada menonton drama romantis," ucap sang mafia. Dia menyadari posisinya sebagai penjahat. Tidak ada waktu untuknya melakukan kegiatan seperti orang normal pada umumnya.


Perbicangan pasangan penuh cinta itu berakhir kala semua orang yang ada di dalam kamar tamu berhamburan keluar, mereka merasa sesak harus mendengarkan kata romantis terus menerus.


Dengan menggerutu, semua orang menuju pintu utama. Mereka ingin keluar dari lingkaran keromantisan Laras dan Alex.


"Biarkan saja Lex, kau selalu semangat untuk mengerjai mereka," Laras heran dengan kelakuan sang suami yang selalu seenak jidatnya sendiri, tapi meskipun begitu, dia sangat mencintai sang suami.


"Lex, kau seperti anak kecil setelah kembali dari misi. Kau baik-baik saja kan?" sambung Laras melihat perbedaan yang signifikan dari sifat sang suami.


"Aku hanya mencoba menghibur diriku sendiri, ini adalah sisi lain dariku. Tengil dan banyak tingkah, apa kau tidak menyukainya?" tanya sang mafia. Alex merasa jika sang isteri tidak terlalu menyukai sisi lain darinya.


"Haha, aku menyukaimu dulu, sekarang, sampai maut memisahkan. Tidak perlu merubah apapun karena kau pria yang bertanggung jawab. Hidupmu sudah penuh dengan masalah, tak ada salahnya bercanda," jawab Laras penuh pengertian.


"Terimakasih karena mau memahamiku. Kau dengar jagoan daddy? mommy sangat mencintai daddy. Kau tahu sayang? Daddy sangat bahagia menanti kelahiran kalian," Alex mengelus-elus perut sang isteri. Dia sangat antusias saat kaki baby A menendang tangannya.


Saat tubuh sang mafia mencium perut isterinya dengan posisi tubuh membungkuk, Laras tanpa sengaja melihat ada noda warna merah di punggung sang suami.


"Sayang, ada apa di punggungmu?" tanya Laras penasaran.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa, itu hanya lecet saja," Alex mencoba menutupi apa yang terjadi.


"Coba ku lihat," Kali ini dia tidak bisa berbohong karena Laras sudah mencurigainya.


Laras meminta Alex untuk membuka bajunya dan duduk membelakanginya agar dia bisa melihat apa yang terjadi di punggung sang suami.


"Astaga, ini luka sayang! kau terluka?" Laras histeris, dia panik. Tapi sang mafia mencoba menenangkannya.


"Hanya luka kecil, aku lupa memasang perbannya," jawab sang mafia.


"Ini luka serius, kau tunggu di sini, aku akan mengambil kotak obat," Laras beranjak dari tempat duduknya, namun sang mafia mencegahnya.


"Biarkan aku yang mengambilnya," Alex meminta Laras tetap duduk.


Sang mafia segera beranjak ke dalam kamar utama dan mengambil kotak obat, setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Alex keluar dari kamar tamu dengan menenteng kotak obat di tangannya.


"Kau yakin ingin mengobatiku?" tanya sang mafia memastikan.


"Iya, tentu saja," jawab Laras yakin.


Laras meminta Alex duduk di depannya, ia mencoba membersihkan luka dengan kapas yang telah di lumuri cairan alkohol, lukanya terlihat cukup dalam, tetapi sudah tertutup rapat karena terdapat beberapa bekas jahitan di sana.


Setelah usai memasang perban, Laras tersenyum. Dia merasa lega karena luka sang mafia berhasil di atasi.


"Lain kali lebih berhati-hati tuan mafia!" celetuk sang isteri.


"Iya sayangku, nyonya mafia!" jawab Alex.


Keduanya merasa bahagia, setelah sekian lama menjalin hubungan, baru kali ini Alex dan Laras merasa lebih lengkap karena ada lima baby A yang akan segera lahir.

__ADS_1


__ADS_2