
Daffa mengambil ponsel Alby yang berada di atas meja mencari kontak seseorang yang harus segera dia hubungi.
"Assalamualaikum," ucap Daffa saat panggilan teleponnya tersambung.
"........."
"Kamu lagi di mana?" tanya Daffa.
"......."
"Apa kamu bisa ke kantor sekarang?" Daffa kembali bertanya.
"......"
"Baiklah, saya tunggu." Panggilan selesai kemudian Daffa menaruh ponsel Alby kembali di atas meja.
*
*
*
"Selamat sore, Mba. Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis.
"Saya ingin bertemu dengan Pak Alby," jawabnya.
"Azmia," panggil Daffa saat sampai di lantai bawah.
"Mas Daffa," ucap Azmia kemudian berjalan menghampiri Daffa yang berdiri tak jauh dari resepsionis.
"Ayo!" ajak Daffa. Azmia mengangguk berjalan mengikuti Daffa dari belakang mereka menaiki lift menuju lantai tiga tempat dimana direktur utama berada.
__ADS_1
"Masuklah!" Daffa mempersilakan Azmia masuk ke dalam ruangan Alby.
Azmia masuk, tapi dia bingung di dalam tidak ada Alby terus kenapa dia di suruh ke kantor.
"Tidak perlu takut, Alby ada di dalam ruangan itu." Daffa menunjuk ke arah pintu yang tertutup rapat.
"Masuk saja kasihan dia, mungkin dengan ke datangan kamu bisa memberikan ketenangan dan jawaban untuknya," ucap Daffa.
Azmia bingung tidak mengerti dengan ucapan Daffa apa maksudnya jawaban terus ketenangan memangnya Alby gila perasaan yang di liat kemarin baik-baik saja malah sepertinya bahagia sekali saat bersama perempuan di kafe miliknya.
"Sana masuk," lanjut Daffa karena dari tadi Azmia hanya berdiri dan memandangi pintu tersebut.
Azmia mengangguk, kemudian berjalan perlahan menuju pintu. Akan tetapi saat ingin membuka pintu tiba-tiba ada seseorang yang datang.
"Sayang," teriak seseorang yang baru datang tanpa permisi langsung masuk ke dalam ruangan.
Alby yang mendengar teriakan perempuan langsung keluar ruangan pribadinya.
"Elvina, bukankah katanya kamu pergi keluar kota?" Alby yang terkejut karena tadi pagi dia mengantarkan Elvina ke Bandara, tapi sekarang orangnya ada di depannya.
"Ah, itu tadi asisten Papa menggantikan aku," jawab Elvina.
Azmia melongo melihat pemandangan yang ada di depannya. Sedangkan Alby belum sadar jika di situ ada Azmia.
Daffa bingung harus ngapain niat hati ingin mendekatkan Alby dengan Azmia, eh malah ada pemandangan yang menyesakkan dada.
"Apa kamu tidak suka aku disini?" tanya Elvina.
"Bukan begitu. Aku senang kamu ada disini." Alby mengelus lembut kepala Elvina. "Duduklah." Alby merangkul pinggang Elvina ingin berjalan menuju kursi, tapi belum sampai sofa Alby di kejutkan dengan sosok perempuan yang berada di samping Daffa.
"Azmia," ucapannya dengan melotot tak percaya bahwa yang di depannya adalah istrinya.
__ADS_1
"Siapa, dia?" tanya Elvina menatap ke arah Alby dan Daffa secara bergantian.
Alby dan Daffa hanya diam tak menjawab. Bukan Daffa tak mau jawab, tapi dia hanya ingin melihat respon Alby saja.
"Sayang," ucap Elvina sambil menggoyang-goyangkan lengan Alby seakan dia meminta jawaban.
"Di __." Belum selesai Alby berkata Azmia sudah dulu menjawab pertanyaan Elvina.
"Saya teman Pak Daffa yang ingin melamar pekerjaan di sini," jelas Azmia dengan tersenyum meyakinkan Elvina. Dia tahu Alby tidak akan berkata jujur siapa dia sebenarnya jadi lebih baik dia sendiri yang menjawab.
Mendengar penuturan Azmia. Daffa langsung menoleh ke arah Azmia. Daffa merasa bersalah pada Azmia karena telah membawanya kesini.
"Oh, calon karyawan baru." Elvina menatap Azmia dari atas sampai bawah. Mungkin karena penampilan Azmia yang sederhana dan masih muda.
"Sepertinya kamu tidak cocok bekerja di sini, lihat saja penampilannya," ucap Elvina dengan nada meremehkan.
"Iya, saya memang tidak cocok berada di sini. Maaf telah mengganggu waktunya." Azmia berjalan keluar ruangan Alby dengan perasaan kecewa, meskipun dia belum bisa menerima pernikahan itu, tapi setidaknya Alby memberi waktu untuknya bukan malah bermain api dengan wanita lain.
"Azmia, tunggu!" panggil Daffa.
Namun, Azmia tak menghiraukan panggilan Daffa dia terus berjalan keluar kantor. Sampai di parkiran refleks Daffa menarik pergelangan tangan Azmia supaya tidak masuk ke dalam mobil dengan cepat Azmia menghempaskan tangan Daffa.
"Maafkan saya," ucap Daffa.
"Tidak perlu minta maaf, Mas Daffa tidak salah. Saya memang bukan istri yang baik untukNya," balas Azmia tanpa menoleh kearah Daffa. Dia berusaha untuk tetap tenang. Dia tidak ingin orang lain melihat dirinya rapuh. Setelah itu Azmia langsung masuk ke dalam mobil melajukan ke arah kafe karena motornya ada di kafe. Mobil hanya dia pakai saat keadaan darurat dan mobil itu selalu dia tinggal di kafe karena Azmia tak ingin keluarganya tahu tentang dirinya hanya keluarga Angga yang mengetahui semuanya.
'Ternyata menjadi peran pengganti itu sangat sulit, andai saja waktu bisa berputar kembali mungkin aku juga akan memilih kabur seperti Kak Rania,' batin Azmia. Meskipun Azmia belum tahu siapa sebenarnya Elvina. Tapi dia sudah menebak Elvina adalah orang kesayangan Alby karena di lihat dari kedekatan dan cara memanggilnya.
***
Jangan lupa like dan vote ya Kakak 😊
__ADS_1
Terima kasih.