
"Mas, ponselnya bunyi," teriak Azmia saat mendengar ponsel Alby yang berada di atas meja berdering.
"Angkat saja, Dik," balas Alby, dia pikir paling Daffa karena memang nomor pribadi Alby hanya orang terdekat saja yang tahu.
Alby melanjutkan mandinya.
Setelah mendengar jawaban dari Alby, Azmia mengambil ponsel Alby melihat di layar tak tertera namanya hanya nomor saja karena takut ada yang penting Azmia langsung menggeser layar hijau. "Assalamualaikum," ucap Azmia setelah menekan tombol hijau.
"....."
"Kak Rania."
"....."
"Maaf, Kak. Mas Alby sedang di kamar mandi ada pesan, nanti Mia sampaikan?"
"........"
"Baiklah."
Sambungan telepon terputus.
"Siapa yang telpon sayang?" tanya Alby setelah keluar dari kamar mandi.
"Kak Rania," jawab Azmia sambil memberikan ponsel Alby.
"Dia bilang apa, sayang?" tanya Alby.
__ADS_1
"Nanti di telpon lagi," jawab Azmia.
Alby menggenggam tangan Azmia. "Apa kamu cemburu?" Alby tersenyum menggoda Azmia.
"Tidak," jawab Azmia dengan santai meskipun di dalam hati nyeri bukan cemburu, tapi marah karena di saat mereka sudah bersama dia datang menjadi orang ketiga, dan lebih parahnya Rania seakan menuduh Azmialah yang menjadi pelakor.
Jika waktu bisa di putar kembali mungkin Azmia akan memilih tidak ingin hidup di dalam keluarga Pranata.
"Cemburu dong sayang," bujuk Alby.
"Enggak, ngapain Mia harus cemburu kan memang awalnya Mas Alby harusnya nikah sama Kak Rania bukan Mia," jelas Azmia dengan tegas.
"Namun, aku lebih bersyukur karena nikah denganmu." Alby menggenggam erat tangan Azmia mencium punggung tangan istrinya.
"Kenapa, Mas bersyukur, harusnya Mas kembali ke Kak Rania karena kini dia telah kembali." Azmia ingin tahu bagaimana reaksi Alby. Sakit memang saat mengucapkan kata-kata itu, tapi Azmia ingin tes Alby. Apakah Alby mencintainya atau tidak.
"Azmia Syafiqa Pranata, lihat Mas." Alby memutar Azmia agar menghadap ke arahnya.
"Kenapa, apa kamu tidak ingin melihat suamimu yang tampan ini?" goda Alby sambil memegang ke dua tangan Azmia yang menutupi wajahnya.
"Bukan, begitu Mas, Mia nggak biasa," jawab Azmia. Dia malu jika harus bertatap muka dengan lawan jenis.
"Tapi kan kita sudah sah, sayang," bujuk Alby.
"Malu, Mas." Azmia tetap saja memalingkan wajahnya dari Alby.
"Baiklah." Alby menyerah tak ingin memaksa Azmia.
__ADS_1
"Azmia Syafiqa Pranata, awalnya aku memang menolak pernikahan ini, aku tidak terima dengan keputusan sepihak keluarga Pranata, aku marah karena mereka seakan mempermainkan diriku serta keluarga ku. Apalagi pernikahan itu karena perjodohan aku masih memiliki kekasih, aku sudah berusaha untuk menerima pernikahan itu, tapi yang Rania lakukan padaku. Dia pergi begitu saja tanpa dosa, tanpa memikirkan bagaimana perasaanku. Jujur saat itu aku menerima dirimu juga karena kasihan setelah mendengar cerita tentang siapa kamu sebenarnya hatiku tersentuh entah kenapa ingin menerima kamu, dan melindungi mu, tapi aku tak bisa mencintaimu. Setiap kali aku melihat mu hanya ada amarah mengingat kejadian itu, Aku juga berpikir bahwa kamu adalah wanita yang hanya ingin menikmati hartaku, tapi ternyata aku salah besar hidup bersama dalam waktu hampir satu tahun sedikit demi sedikit hatiku mulai terbuka ingin memilikimu seutuhnya, karena kelembutan mu, kesabaranmu, kebaikanmu yang mampu meluluhkan hatiku, aku begitu nyaman saat bersama mu, tapi saat kau jauh dariku membuatku merasa ada yang hilang dalam hidupku.
Azmia Syafiqa Pranata, aku belum tahu betul bagaimana cinta yang sesungguhnya, tapi aku hanya ingin kamu terus berada di sampingku selamanya. Kita berjalan bersama, menjalin rumah tangga yang sesungguhnya, menghadapi setiap ujian itu bersama.
Azmia Syafiqa Pranata, apa kamu mau menjadi satu-satunya wanita yang akan mendampingi ku dalam suka maupun duka?" tanya Alby sambil memegang kedua tangan Azmia.
"Mia __." Azmia menahan ucapannya.
"Maafkan, Mas karena selama ini selalu saja menyakitimu." Alby menciumi tangan Azmia.
"Sebelum, Mas Alby meminta maaf Mia sudah memaafkannya. Mia tak ingin memaksa Mas Alby untuk mencintai Mia. Mia juga tak akan merebut kebahagiaan Mas Alby. Mia hanya ingin melihat orang di samping Mia bahagia, meski bukan bersama Mia karena cinta itu tidak bisa di paksa dan tak harus memiliki. Jika Mas Alby benar-benar mencintai Mia. Mia hanya ingin ketulusan hati Mas Alby," jelas Azmia.
"Aku akan membuktikan itu, tapi percayalah saat ini dan selamanya kamu akan selalu menjadi ratu di dalam hatiku," ujar Alby.
"Berkata itu mudah, tapi melakukannya yang sulit." Bukan Azmia tak percaya, tapi kucing jika terus di beri umpan lama-lama akan luluh.
"Apa kamu tidak percaya padaku?" tanya Alby.
Azmia hanya membalasnya dengan senyuman tanpa mengucap sepatah katapun. Senyuman itu sudah mengisyaratkan bahwa dia terlalu lelah untuk terus percaya, tapi akhirnya terluka.
"Sayang, aku sudah memutuskan hubunganku dengan Elvina, dan soal Rania, aku hanya ingin memberikan pelajaran padanya. Aku ingin dia juga merasakan bagaimana sakitnya di tinggalkan saat kita sudah cinta, dan menerima keadaan," ujar Alby. Dia mendekati Rania hanya ingin balas dendam saja tidak lebih. Apalagi saat melihat sikap Rania yang begitu membuatnya semakin ingin membalas semua kelakuan Rania padanya.
"Jangan bermain-main dengan perasaan karena cinta itu bisa berubah dalam sekejap mata," balas Azmia. Jika terus bersama pasti sedikit demi sedikit rasa itu akan kembali tumbuh, apalagi dengan perubahan sikapnya, perhatiannya, tidak mungkin orang tidak luluh pasti hati akan luluh kembali. Kita lihat saja bagaimana sekarang wanita diluar sana pasti akan berusaha keras untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, apapun akan dia lakukan asal dia bisa mendapatkan sesuai dengan keinginannya. Istri sah akan di buat terlempar karena kerakusannya.
"Aku janji tidak akan berpaling dari mu, sayang," ucap Alby berusaha untuk meyakinkan Azmia.
"Jangan pernah berjanji karena janji adalah hutang jika tidak bisa menepati dosa," tegas Azmia tanpa ragu dia sedang berkata dengan siapa karena sudah sering tersakiti jadi dia berucap apa adanya.
__ADS_1
Alby terdiam otaknya berkelana memikirkan setiap kata yang di ucapkan Azmia. Alby begitu terkejut ternyata istri dadakannya bukanlah wanita yang biasa saja, bukan seperti yang dia pikirkan. Azmia yang terlihat lemah lembut, tak banyak bicara, selalu direndahkan orang lain karena masa lalunya. Kini dia bisa skakmat suaminya, ucapannya begitu tajam hingga menusuk sampai ke relung hati. Diamnya bukan karena dia lemah, tapi karena dia wanita berkelas jadi untuk apa berkata jika tidak bermanfaat.
Hidup itu pilihan BESTie jika di sakiti satu laki-laki yaudah tinggal pilih lagi masih banyak yang antri.