Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Draft 88 Di temukan


__ADS_3

Setelah hampir dua minggu menemani Rania di rumah sakit kini Alby pulang ke rumah ingin melihat keadaan istrinya.


"Assalamualaikum," ucap Alby saat masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumussalam," jawab Mbok Asih yang berada di dapur.


"Azmia sudah pulang, Mbok?" tanya Alby.


"Belum, Den. Sudah beberapa hari ini Nona tidak pernah pulang," jawab Mbok Asih.


"Apa dia sedang pergi?" tanya Alby.


"Si Mbok tidak tahu Den, terakhir Nona hanya pulang kemudian pergi lagi membawa tas sepertinya berisi pakaian," jelas Si Mbok.


"Apa dia tidak titip pesan Mbok?"


"Tidak, Den," balas Mbok Asih.


"Baiklah kalau begitu, saya ke kamar dulu Mbok," pamit Alby.


"Iya, Den," balas Mbok Asih.


Sampai di kamar Alby langsung membuka lemari pakaian Azmia. Pakaian masih banyak, kemudian menuju meja rias, di cermin rias terdapat selembar kertas yang sengaja Azmia tempelkan pesan untuk Alby.


Alby mengambil kertas, dia duduk di kursi rias sambil membaca pesan dari Azmia.


'Assalamualaikum, Mas Alby. Mungkin saat Mas menemukan kertas ini Mia sudah pergi, maafkan Mia pergi tidak pamit, Mia hanya tidak ingin ganggu waktu Mas Alby yang sibuk bekerja atau jadi mantan siaga. Mas Alby tidak perlu khawatir atau mencari Mia karena Mia baik-baik saja, terima kasih karena Mas Alby sudah mau membaca pesan Mia. Wassalamu'alaikum."


'Apa Mia mengetahui semuanya, maafkan Mas, Mia. Mas tidak bermaksud membuatmu terluka lagi, Mas melakukan ini demi Papa. Mia pulanglah sayang, sekarang kamu ada dimana Mia,' batin Alby.


***


Di cafe.


"Mia mana, Nin?" tanya Karina dan Melia.


"Mba Mia, sepertinya belum pulang Mba," jawab Nina.


"Memangnya, Mia kemana?" tanya Karina.


"Mba Mia, sudah tiga hari," balas Nina.


"Mel, coba telpon kemana dia pergi, kenapa tidak memberi tahu kita?"


"Ok, bentar." Melia mengambil ponselnya yang berada di tas.


"Rin, nggak di angkat telponnya," ucap Melia setelah melakukan beberapa kali panggilan hanya suara Mba operator yang menjawab.


"Pasti ada yang nggak beres nih, Mel. Kita minta bantuan Kak Dery buat lacak Azmia berada di mana," ujar Karina.


"Sekarang kamu telpon Kak Derry suruh kesini," lanjut Karina.


"Ok, siap." Melia langsung melakukan panggilan telepon ke Derry.

__ADS_1


Tak lama Derry datang setelah memakai mobilnya Derry langsung menghampiri Karina dan Melia yang sudah menunggunya di meja depan cafe.


"Apa yang terjadi?" tanya Derry


"Azmia pergi Kak, tapi entah kenapa perasaan Karin tidak enak coba Kakak lacak dimana di sekarang," ucap Karina.


"Baik, sabar nggak usah panik, mudah-mudahan dia baik-baik saja," balas Derry.


Derry membuka layar laptopnya melacak lewat nomor handphone dan semua media sosial miliknya. Setengah jam memgulik-ulik laptop akhirnya membuahkan hasil keberadaan Azmia di temukan.


"Telpon, Revan sekarang, Rin!" Melia menyuruh Karina menelpon Revan karena menurut penelusuran mereka ada satu foto dari status Revan yang menunjukkan itu Azmia, meskipun foto tersebut di ambil dari belakang, tapi Melia yakin itu adalah Azmia.


"Apa sebaiknya kita kesana saja langsung biar surprise, dia kan pergi tanpa pamit ke kita terlebih dahulu," ucap Karina


"Boleh juga tuh, Kak Derry ikut ya, biar kita bisa bergantian bawa mobilnya," ujar Melia.


"Baiklah, kita berangkat sekarang saja," ajak Derry.


"Otw." Mereka pergi tanpa persiapan apapun yang ada di pikiran mereka hanya ingin segera melihat keadaan Azmia sahabat terbaik yang tiada duanya.


Sepuluh jam perjalanan kini mereka telah sampai di tempat tujuan mereka langsung menuju hotel.


"Kita tanya resepsionis terlebih dahulu," ucap Melia.


Mereka pun masuk menuju resepsionis sebelum mereka memesan kamar untuk istirahat, mereka terlebih dahulu bertanya apakah ada salah satu pengunjung yang menginap bernama Azmia. Alhamdulillah usaha mereka tidak sia-sia, ternyata feeling mereka benar Azmia menginap di hotel W kamar no 35.


Setelah mendapatkan informasi dari resepsionis Karina, Melia serta Derry langsung bergegas menuju kamar no 35.


"Wa'alaikumussalam," balas Azmia kemudian membukakan pintu.


"Kalian." Azmia di buat terkejut dengan hadirnya para sahabatnya.


"Kenapa, terkejut?" tanya Karina sambil melangkah masuk ke dalam tanpa menunggu di persilakan masuk oleh Azmia, di ikuti Melia, dan juga Derry.


"Kok kalian bisa tahu aku disini?" Azmia yang heran. Padahal tidak ada satupun yang mengetahui keberadaannya selain Kak Revan.


"Mau kamu pergi ke ujung dunia sekalipun kita akan menemukan kamu, Mi," ucap Melia dengan sombongnya, meskipun dia minta bantuan ke Derry.


'Percuma aku pergi sendiri, udah ngumpet-ngumpet ujung-ujungnya di susul juga sama pasukan,' batin Azmia sambil menghela nafasnya.


"Duduk, Kak!" Azmia mempersilakan Derry duduk di sofa.


"Terima kasih, Mi," ucap Derry karena badannya yang sudah sangat lelah Derry bukan duduk, tapi merebahkan tubuhnya di sofa.


Sedangkan kedua wanitanya sudah lebih dulu merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Kalian istirahatlah, biar aku buatkan sarapan buat kalian," ujar Azmia kemudian berjalan menuju dapur memasak yang ada di dapur.


Setengah jam berperang di dapur kini acara masak-memasak selesai. Azmia memasak nasi goreng telur ceplok, Azmia menyiapkan di piring kemudian membawanya menuju ruang depan menaruhnya di meja dekat Derry tidur. Karena begitu dekat hidung Derry langsung beraksi. "Hemm, aromanya harum sekali," ucap Derry sambil mengucek-ucek matanya yang masih terasa berat untuk melek.


"Sarapan dulu, Kak!" Azmia menyuruh Derry sarapan terlebih dahulu kerena para sahabatnya pasti belum sarapan melihat mereka bertiga datang masih jam enam pagi.


"Wangi banget, Mi pasti enak nih," ujar Derry.

__ADS_1


"Pasti. Azmia gitu lho," balas Azmia.


"Oh, iya Mia bangunin Melia dan Karina dulu, Kak," pamit Azmia kemudian berjalan menuju kamar membangunkan kedua sahabatnya agar sarapan bersama.


"Karina, Melia, bangun." Azmia menggoyang-goyangkan kaki kedua sahabatnya.


"Ah ... Mia aku masih ngantuk banget, nih," ucap Karina.


"Kita sarapan dulu, setelah itu kamu bisa kembali tidur lagi," balas Azmia.


"Baiklah." Karina dan Melia bangun dengan malas-malasan karena badannya masih sangat lelah serta matanya ngantuk sekali semalam tidak bisa tidur nyenyak karena harus nemenin ngobrol Derry supaya tidak ngantuk.


"Kakakku sayang," teriak seseorang di depan pintu kamar Azmia.


"Siapa, Mi?" tanya Karina.


"Biasa siapa lagi," jawab Azmia.


"Masuk, Kak," ucap Azmia dari dalam.


"Kak Revan," teriak Karina.


"Kalian ngapain?" tanya Revan dengan terkejut.


"Nyusul kalian lah, takut kalian CLBK," celetuk Karina.


"Sembarangan kalau ngomong," omel Melia sambil mencubit lengan Karina.


"Kakak, sudah sarapan belum?" tanya Azmia.


"Belum, Dik," jawab Revan.


"Ya sudah kita sarapan bareng biar Mia buatin satu lagi," ucap Azmia.


"Kita makan sepiring berdua saja, Dik," balas Revan.


"Modus," sindir Karina.


"Lu ngapa sih, Rin iri," ucap Revan.


"Tidak," balas Karina.


"Kan sekarang gue jadi adik ipar Azmia, sebagai adik harus perhatian sama Kakaknya, iya kan Kakakku sayang," ucap Revan.


"Ah, sudahlah. Ayo, sarapan!" Azmia yang pusing mendengar perdebatan mereka.


**


Di tempat lain.


Alby semakin galau dan merasa bersalah, tapi dia nggak tau harus berbuat apa, dia sudah mencari Azmia ke cafe, tapi tidak ada. Menghubungi Azmia setiap jam sudah, tapi tetap saja hasilnya nihil setiap di telpon selalu saja Mba operator yang jawab.


Si Alby pusing mikirin Azmia, sedangkan yang di pikirin malah happy-happy bersama para sahabatnya. Sesekali kita juga butuh refreshing untuk membahagiakan diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2