Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 230 Emak-emak kurang jatah


__ADS_3

"Kamu ngapain sih bantuin Mamanya Kak Diaz segala diakan udah jahat sama kamu buat apa di bantuin, udah di bantuin juga suaminya nggak tau terima kasih," ucap Karina.


"Sebagai sesama manusia sudah sepatutnya kita menolong orang yang sedang membutuhkan bantuan, tidak mungkin kan kita meninggalkan orang yang saat itu benar-benar membutuhkan bantuan kita. Terserah orang lain mau berkata apa yang terpenting kita sudah melakukan kewajiban kita," balas Azmia.


"Menyebalkan sekali itu bapak-bapak. Kak Diaz Nemu dari mana sih bapak seperti itu? bapak sama anak sifatnya beda banget bagaikan bumi dan langit." Karina masih saja menggurutu hingga tiba di cafe saking kesalnya Karina sampai melempar tasnya.


"Kamu nih ngomel-ngomel mulu udah kayak emak-emak kurang jatah," ucap Azmia.


"Kesel banget aku sama Papanya Kak Diaz. Mulutnya tuh Mi kalau ngomong nggak mikir dulu," balas Karina.


"Ngapain sih di pikirin, mending kita membersihkan diri selesai sholat maghrib kita siap-siap ke balkon buat nanti makan malam bersama Mamanya pak Ali," ujar Azmia agar Karina tidak terus mengomel seperti orang kurang sajen.


"Ok-ok," balas Karina menuruti ucapan Azmua badannya juga sudah gerah dan lengket karena keringatan.


Azmia merebahkan tubuhnya terlebih dahulu menunggu Karina keluar dari kamar mandi.


Salah apa aku hingga beliau begitu benci sekali padaku. Apa aku salah menolong orang yang membutuhkan bantuan? batin Azmia mengingat kembali kejadian di rumah sakit. Niat dia menolong, tapi malah dapat tuduhan yang tidak-tidak.


***


Di tempat lain.


"Ali, Mama masuk ya," ucap Mama Iren di depan pintu kamar Putranya.

__ADS_1


"Iya, Ma masuk saja pintunya tidak di kunci," balas Ali dari dalam kamarnya.


Setelah mendapat jawaban dari putranya Mama Iren membuka pintu kamar Ali melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Terlihat Ali sedang bersiap-siap untuk berangkat ke cafe.


Mama Iren memilih duduk di sofa sambil menunggu Ali yang sedang bersiap.


"Bagaimana, Nak, apa Azmia bersedia bertemu dengan Mama?" tanya Mama Iren.


"Iya, Ma nanti kita ke cafe lovely saja ya tempat kerja Azmia," jawab Ali.


"Apa kita tidak menggangu kerja dia? nanti kasihan kalau dia di marahin bosnya," ucap Mama Iren.


"Mama tenang saja itu cafe milik Abangnya sendiri jadi dia bebas mau ngapain aja di cafe," balas Ali.


"Ayo, Ma!" Ali mengajak Mamanya untuk berangkat ke cafe.


Mama Iren mengangguk kemudian mereka berdua berjalan keluar kamar menuju garasi mobil.


"Bi, saya pergi dulu ya," pamit Mama Iren saat berpapasan dengan Artnya.


"Iya, Bu," balas Art.


Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke luar rumah. Setibanya di garasi Ali lebih dulu membukakan pintu untuk Mamanya kemudian baru dia masuk ke dalam mobil lewat pintu samping.

__ADS_1


"Apa cafenya jauh, Li?" tanya Mama Iren.


"Enggak kok, Ma," jawab Ali.


Sekitar tiga puluh menit perjalanan kini mobil Ali tiba di parkiran cafe lovely.


"Tempatnya bagus ya," ucap Mama Iren saat melihat cafe.


"Iya, Ma. Cafe ini hasil desain Azmia sendiri, dia juga yang mengatur semuanya," balas Ali.


"Hebat ya, pasti orang tuanya sangat bangga bisa memiliki putri seperti Azmia," ucap Mama Iren.


Ali hanya membalasnya dengan senyuman. "Mari Ma kita masuk!" Ali menggandeng tangan Mamanya berjalan masuk ke dalam cafe.


"Mba, saya ingin bertemu dengan Azmia," ucap Ali saat tiba di kasir.


"Pak Ali ya?" tanya Novi tadi Azmia sudah memberi tahu Novi jika akan ada seseorang yang datang mencarinya.


"Iya," jawab Ali membenarkan ucapan Novi.


"Mari, Pak silakan ikut saya!" ucap Novi.


Ali dan Mama Iren pun mengangguk kemudian mengikuti langkah Novi menuju balkon lantai tiga.

__ADS_1


__ADS_2