
Antara senang dan sedih
Hari ini Azmia menyerahkan berkas surat cerai kepada pengacaranya. Azmia pergi bersama Karina mereka membuat janji bertemu di restoran terdekat sekalian makan siang bersama.
"Orang udah datang, Mi?" tanya Karina sebelum masuk ke dalam restoran yang berada di lantai tiga.
"Belum, beliau masih ada klien," balas Azmia.
"Kita jalan-jalan saja dulu," lanjut Azmia memberikan solusi dari pada menunggu lebih baik main dulu di mall karena restoran berada di dalam mall.
"Ide yang cerdas," balas Karina. Dia paling semangat sekali kalau sudah ngomongin soal jalan-jalan. "Go!" Karina langsung menarik tangan Azmia masuk ke dalam Mall mengelilingi berbagai toko-toko yang ada di Mall. Lelah keluar masuk toko mereka pun memutuskan untuk ke restoran.
Tak lama setelah mereka Azmia dan Karinasik restoran orang yang di tunggu-tunggu datang.
"Maaf, menunggu lama," ucap seorang wanita cantik yang baru datang menghampiri Azmia dan Karina.
"Nggak apa, Mba. Silakan duduk!" Azmia menyalami wanita tersebut kemudian mempersilakan wanita cantik tersebut duduk bergabung.
__ADS_1
"Rin, kenalin ini Mba Dinda -- pengacara yang akan mengurus perceraian aku." Azmia memperkenalkan Dinda pada Karina.
Karina dan Dinda saling bersalaman mengenalkan diri masing-masing.
Azmia sengaja mencari pengacara perempuan agar saat ngobrol lebih nyaman karena kan mereka nggak hanya sekali bertemu dan gak cukup waktu sepuluh menit mereka membicarakan masalah yang ada sehingga mengajukan permohonan perceraian. Semua butuh proses dan waktu yang cukup lama jadi jika perempuan Azmia lebih nyaman dan santai.
"Maaf ya, Mi soalnya tadi pas mau berangkat tiba-tiba ada tiga orang datang jadi terpaksa saya harus menemui mereka terlebih dahulu," ucap Dinda.
"Santai saja, Mba. Hari ini Mia sedang free kok," balas Azmia.
"Mba Dinda kesini sendiri?" tanya Azmia.
"Hehehe. Oh, iya, Mba. Mia ngajak Mba Dinda ketemuan di sini ingin nyerahin ini." Azmia memberikan amplop putih pada Dinda.
"Kamu sudah yakin dan siap, Mi?" tanya Dinda karena perceraian bukanlah permainan jadi sebelum dia memproses kelanjutannya maka Dinda lebih dulu bertanya sekali lagi pada Azmia dan meyakinkan Azmia jika keputusannya saya sudah benar agar tak ada penyesalan di hari esok.
"Insya'Allah yakin, Mba," jawab Azmia dengan tegas sudah tak ada lagi keraguan dalam hatinya. Memang awalnya sulit untuk mengambil keputusan ini, tapi jika cinta sudah dan kepercayaan sudah tak ada lagi untuk apa di pertahankan.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, besok saya akan mulai prosesnya semoga tidak ada halangan apapun supaya semua masalah cepat terselesaikan," ucap Dinda.
"Amin. Kita makan dulu, Mba!" Azmia mempersilakan Dinda untuk menikmati hidangan yang disajikan di meja.
Dinda membalasnya dengan anggukan kepala kemudian mengambil sepiring spaghetti.
Selesai makan mereka Dinda langsung pamit pulang karena sudah di tunggu seseorang.
Kini tinggal Azmia dan Karina yang masih duduk santai di restoran.
"Mi, kamu sepertinya kenal betul dengan Mba Dinda," ucap Karina.
"Iya. Mba Dinda itu dulu tetangga di apartemen, tapi sekarang beliau sudah pindah di rumah sendiri bersama suami," balas Azmia.
"Oh, pantas saja akrab sekali," ujar Karina.
"Pulang yuk, Rin!" ajak Azmia.
__ADS_1
Karina mengangguk kemudian mereka berdiri dari duduknya melangkah keluar dari restoran.