Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 239 Kesedihan Bunda


__ADS_3

"Ah ... menyebalkan sekali sih Mba Nila. Ngapain sih dia segala ikut makan malam bikin suasana hati hancur aja," gerutu Revan sambil menyetir mobil.


"Sudahlah, Van. Nanti kan kita bisa makan bersama lagi," ucap Bunda.


"Iya, Bun, tapi tadi Mba Nila keterlaluan banget. Mas Alby nemu dia di mana sih." Revan yang kesal mengingat kejadian tadi di cafe.


"Jangan salahkan Mas mu, mungkin dia juga tidak tahu jika Nila sifatnya seperti itu," ujar Bunda.


"Iya sih," balas Revan.


****


Di cafe lovely.


"Tuh, perempuan ya mulutnya pengen aku jejelin sendal," kesal Karina. Dia juga tak jauh beda dengan Revan, terus saja ngomel-ngomel setelah selesai makan malam.


"Sudahlah, Rin biarkan saja. Aku malah pusing dengerin kamu ngedumel terus," ucap Azmia.


"Wanita seperti itu harus di kasih pelajaran biar kapok," balas Karina.


"Buang-buang tenaga aja hal nggak penting," ujar Azmia. Dia itu selalu santai mengatasi orang-orang seperti Nila.


"Lagian kamu seneng banget sih Mi di bully orang terus, sampai kapan kamu akan menyembunyikan identitas kamu?" tanya Karina. Dia merasa gemes sendiri dengan Azmia karena seneng banget di bully orang, coba aja kalau mereka tahu sebenarnya Azmia pasti pada langsung tutup mulut.


"Tunggu tanggal mainnya saja, nanti kalau sudah saatnya pasti aku akan membuka identitas ku sekalian kita bikin acara untuk cafe," jawab Azmia.


"Kapan itu kapan?" tanya Karina.


"Nanti Karina sayang," jawab Azmia sambil mencubit kedua pipi Karina yang chubby dengan gemes.

__ADS_1


****


Di rumah Bunda


Setelah memarkirkan mobilnya Revan segera keluar dari mobil dan berjalan menuju ke kamar.


"Revan tunggu!" teriak Bunda karena Revan berjalan begitu cepat. Bunda tahu Revan sangat kesal makanya dia segera masuk ke dalam rumah agar tidak berjumpa dengan Alby dan Nila.


"Bun, Revan kenapa?" tanya Alby.


"Entahlah, mungkin dia lagi pms," jawab Bunda berbohong. Dia nggak mungkin berkata jujur jika Revan marah dengan Nila yang sudah menghancurkan mood dan acara makan malamnya.


"Oh," ucap Alby seakan percaya dengan ucapan Bundanya.


"Mas ayo cepetan!" Nila menyuruh Alby agar berjalan lebih cepat. Nila sudah berjalan lebih dulu sedangkan Alby berjalan sambil ngobrol dengan Bundanya.


"Iya, sabar," balas Alby. "Bun, Al ke kamar dulu ya," pamit Alby.


Setelah berpamitan dengan Bunda, Alby segera menghampiri istrinya yang sudah menunggunya di dekat tangga.


Melihat anaknya sudah pada masuk kamar, Bunda bukannya ikut masuk ke dalam kamar melainkan menuju dapur duduk di kursi meja makan dengan lesu.


"Nyonya butuh sesuatu?" tanya Mba Lasmi saat melihat majikannya duduk sendiri.


"Bikinkan saya teh hangat ya, Mba," ucap Bunda.


"Baik, Nyonya," balas Mba Lasmi.


Kenapa semua jadi seperti ini, batin Bunda. Beliau merasa sedih mengingat kejadian tadi karena pasti akan berpengaruh pada kedamaian dalam keluarganya. Apalagi saat melihat Revan yang begitu kecewa.

__ADS_1


"Nya, ini tehnya," ucap Mba Lasmi sambil menaruh segelas teh manis hangat di atas meja.


"Iya, Mba," balas Bunda.


Setelah memberikan teh pada majikannya Mba Lasmi kembali ke kamar.


Apa terjadi sesuatu ya, kok Ibu tumben duduk sendirian di dapur, batin Mba Lasmi yang merasa heran dengan majikannya karena nggak biasanya bunda duduk sendirian di dapur malam hari begini.


**


Di kamar


"Mas nggak suka ya kamu seperti itu di depan Azmia," ucap Alby tanpa basa-basi.


"Kenapa? Mas Alby masih mencintainya?" tanya Nila.


"Bukan begitu, tapi harusnya kamu bisa jaga sikap dan ucapan di depan umum," jawab Alby.


"Aku berkata apa adanya kok, sesuai kenyataan," ucap Nila.


"Kamu belum mengenal siapa Azmia, jadi lebih baik kamu jaga sikap." Alby mengingatkan Nila agar tidak meremehkan Azmia, karena jika Nila tahu sebenarnya Azmia pasti Nila akan malu sendiri.


"Memangnya siapa dia, Mas hanya seorang karyawan cafe yang sok belaga seperti bos," ucap Nila.


"Stop! jaga bicara kamu," balas Alby.


"Terus saja membanggakan dia, mantan istri kamu itu," ujar Nila dengan nada sedikit tinggi. Dia begitu marah karena Alby seakan berpihak pada Azmia.


Nila langsung menutup sekujur tubuhnya dengan selimut seakan sudah tak ingin lagi mendengar ucapan Alby.

__ADS_1


Alby hanya bisa menghela nafas melihat sikap istrinya. Bukan dia tak ingin menjelaskan pada Nila, tapi belum apa-apa aja Nila sudah marah padanya apalagi jika dia menceritakan tentang Azmia bisa-bisa si Nila semakin berpikir kalau dia masih cinta dan membela Azmia. Jadi Alby berpikir biarkan waktu yang memperlihatkan pada Nila sosok Azmia sebenarnya.


__ADS_2