
Meskipun berat, tapi dia harus tetap tersenyum di depan wanita yang dia cintai.
"Semangat." Derry memberikan semangat dengan menepuk bahu sahabatnya.
"Lebay, Lu. Gue nggak apa-apa," balas Ardiaz.
Ardiaz mulai melambatkan langkahnya saat tiba di singgasana. Ardiaz memasang wajah sumringah supaya tak terlihat jika saat ini dia patah hati.
"Selamat ya bro." Ardiaz memberikan ucapan pada Revan.
"'Selamat ya, Dek. Semoga kamu bahagia." Kini Ardiaz memberikan ucapan pada Azmia.
Azmia hanya mengangguk dan tersenyum, dia di buat terkejut dengan hadirnya Ardiaz, karena dia merasa tidak mengundang Ardiaz, tapi ternyata Ardiaz datang.
Setelah mengucapkan selamat pada kedua pengantin Ardiaz kembali ke tempat duduknya bersama Derry.
Waktu semakin larut, tapi tamu masih berdatangan terutama para anak-anak mudah teman Azmia dan Revan.
"Surprise," ucap seseorang di depan Azmia dengan membawa buket besar menutupi wajahnya.
"Abang," ucap Azmia setelah melihat wajah orang yang tertutup buket.
Angga dengan gemas mencubit kedua pipi Azmia.
"Abang, sakit." Azmia memegang pergelangan tangan Angga supaya melepaskan cubitan di pipinya.
"Maaf."
__ADS_1
"Mia, marah sama Abang," ucap Azmia sambil membuang muka ke arah samping.
"Jangan ngambek gitu dong. Maafkan Abang karena baru bisa datang." Angga berkata sambil memegang tangan adiknya.
"Kenapa tidak pulang dari kemarin." Azmia berkata seperti anak kecil yang merajuk.
"Abang sudah berusaha, Dek, tapi kan Abang nggak mungkin ninggalin kerjaan begitu saja sedangkan klien sudah lama atur jadwal, beliau juga sudah jauh-jauh datang dari luar kota masa iya Abang harus cancel." Angga mencoba menjelaskan alasannya kenapa tak bisa datang tepat waktu. Bukan dia mementingkan pekerjaan, tapi dia hanya memenuhi tanggung jawabnya sebagai direktur utama, orang yang amanah dan menepati janji.
"Iya-iya, terus sekarang mana Mami dan Papi?" tanya Azmia.
"Ada, tuh." Angga menunjuk ke arah segerombolan orang yang sedang berbincang-bincang.
Waktu yang semakin larut tanpa terasa kini sudah menginjak pukul sebelas malam, tamu juga sudah mulai sepi hanya tinggal sahabat terdekat mereka yang masih pada temu kangen. Itung-itung sekalian reuni.
Azmia dan Revan pun memilih untuk ikut bergabung dengan para sahabatnya.
Tepat pukul dua belas semua berpamitan pulang, ada juga yang menginap di hotel, Azmia dan Revan pun masuk ke dalam kamar mereka.
Tapi setelah ijab di istirahat di kemar dua puluh sekarang dia di suruh masuk ke dalam kamar yang berada di lantai tiga.
"Entahlah, Kakak juga nggak tahu, tadi Bunda hanya bilang kita harus ke kamar seratus dua puluh lima," ucap Revan. "Capek, mau di gendong?" tanya Revan.
"Enggak perlu, Kak. Mia masih kuat kok jalan sendiri," jawab Azmia. Dia malu lah jika harus di gendong ala-ala begitu.
Sesampainya di kamar Azmia di kejutkan dengan keadaan di dalam kamar yang membuatnya kagum karena kasur di hias dengan bunga-bunga mawar, lantai pun di taburi dengan bunga mawar, dinding juga di hias untuk menyambut pengantin baru.
"Wau, pantas saja kita di suruh kesini dalamnya beda," ucap Revan saat melihat dalam kamar.
__ADS_1
Setelah melihat keadaan kamar, Azmia duduk di sofa melepaskan sepatunya terlebih dahulu, kemudian dia berjalan menuju lemari.
"Apa ini," lirih Azmia sambil menggeser-geser baju yang tergantung dalam lemari.
'Duh, gimana dong ini, nggak mungkin kan aku baju itu. Ah, itu sangat memalukan,' batin Azmia saat melihat baju-baju yang tergantung dalam lemari.
Melihat Azmia tak kunjung pindah dari depan lemari. Revan pun menghampiri sang istri.
"Kenapa nggak belum ganti baju?" tanya Revan.
"I ... tu ... Hmmm ... anu," jawab Azmia dengan gugup, dia malu ingin berkata jujur.
"Apa ini anu itu?" Revan yang bingung dengan tingkah istrinya.
"Hmmm, Kak, Mia boleh pinjam baju Kakak tidak?" Azmia bukannya menjawab dia malah bertanya lagi pada Revan.
"Kenapa harus pinjem baju saya, memangnya baju kamu tidak ada?" tanya Revan.
Azmia diam tak menjawab.
"Kenapa sih, Dek diam aja?" Revan semakin di buat bingung.
"Coba geser Kakak mau lihat masa sih nggak ada baju di dalam, tadi Bunda bilang baju kita sudah lemari," ucap Revan.
Revan mencoba menggeser tubuh Azmia, tapi Azmia tak mau berpindah, dia masih saja di posisi awal berdiri di depan pintu lemari.
"Dek." Karena Azmia tak kunjung bergeser Revan semakin mendekatkan dirinya pada Azmia seketika Azmia langsung bergeser, kemudian Revan membuka pintu lemari.
__ADS_1
"Astaghfirullah," lirih Revan saat melihat pakaian yang ada di dalam lemari, sesaat kemudian Revan menoleh ke arah Azmia.
Azmia hanya mengangkat kedua bahunya. Pertanda dia juga tidak tahu.