Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 218 Makan malam


__ADS_3

Malam yang di tunggu-tunggu.


Di kediaman Ardiaz


"Ar, ayo!" teriak Mama Irana dari ruang tamu. Mama Irana yang sudah siap untuk pergi.


"Iya, Ma," balas Ardiaz dari lantai dua.


"Udah kayak cewek aja lama sekali dansanya," omel Mama Irana pada Putranya saat turun dari tangga.


"Papa mana, Ma?" tanya Ardiaz karena tak melihat Papanya.


"Sudah nunggu di mobil," jawab Mama Irana.


"Oh. Kalau begitu Ar jemput Azmia dulu ya, Ma," ucap Ardiaz.


"Ngapain segala di jemput biarkan saja dia naik taksi," balas Mama Irana.


"Ma, kasihan kalau Azmia harus datang sendirian ke resto," ucap Ardiaz.


"Dia kan bukan anak kecil lagi, Ar," balas Mama Irana. Dia tidak setuju jika Ardiaz menjemput Azmia.


"Tapikan, Ma __." Ucapan Ardiaz harus tertahan karena Mama Irana menyahutnya.


"Enggak ada tapi-tapian atau Mama akan batalkan pertemuan ini," sahut Mama Irana.


"Baiklah." Ardiaz pasrah daripada pertemuan makan malamnya di batalkan. Dia nggak bisa membantah atau berdebat dengan orang tuanya hanya demi seorang wanita. Ardiaz nggak mau jika nanti di bilang anak durhaka oleh Mamanya.


Akhirnya Ardiaz satu mobil dengan kedua orangtuanya. Dia mengirim pesan pada Azmia agar berangkat menggunakan taksi.


Setelah menempuh jarak sekitar empat puluh menit kini Ardiaz beserta kedua orangtuanya tiba di restoran tujuan mereka.


"Selamat datang di restoran RY," sapa karyawan restoran yang berjaga di dekat pintu masuk saat Ardiaz melangkah masuk ke dalam. Mereka berjalan menuju meja yang kosong.


"Mana Azmia?" tanya Mama Irana. Kini mereka sudah duduk.


"Sabar, Ma sebentar lagi juga sampai. Nah itu dia." Ardiaz menunjuk ke arah pintu dimana Azmia baru saja masuk restoran.


"Assalamualaikum, selamat malam Om, Tante maaf Mia terlambat," ucap Azmia sambil menyalami Mama dan Papa Ardiaz.

__ADS_1


"Malam juga, silakan duduk!" Mama Irana mempersilakan Azmia duduk bergabung bersama mereka.


"Maaf ya, tadi nggak jadi jemput kamu," ucap Ardiaz.


"Tidak apa, Kak," jawab Azmia dengan tersenyum.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Ardiaz sambil menyodorkan buku menu.


"Samain aja," jawab Azmia.


"Mah, Pah. Ar permisi dulu ya ke toilet," ucap Ardiaz.


"Iya," jawab Mama irana.


Setelah itu ardiaz berdiri dari duduknya berjalan menuju toilet.


"Sudah berapa lama kamu mempunyai hubungan dengan anak saya?" tanya papa Irwan mulai membuka obrolan.


"Mia dan Kak Dias hanya berteman baik," jawab Azmia.


"Kamu jangan berbohong Ar bilang kamu adalah calon istrinya," ucap Papa Irwan.


"Bagus deh kalau kalian nggak ada hubungan jadi saya tidak perlu capek-capek untuk memisahkan kalian," ujar Papa Ardiaz.


"Maksud, Om?" Azmia yang tidak mengerti dengan ucapan Papa Irwan.


"Saya nggak mau basa-basi lagi. Saya cuma ingin bilang pada kamu tolong kamu jauhi anak saya," ucap Papa Irwan.


"Memangnya apa salah saya?" tanya Azmia karena dia merasa tidak punya salah pada keluarga Ardiaz. Ini aja hari pertama mereka bertemu.


"Kamu memang tidak ada salah, hanya status kamu yang salah," jawab Papa Irwan.


Azmia terdiam memikirkan tentang perkataan Papa Irwan.


Apa Kak dia sudah cerita dengan mama dan papanya ya tentang status aku yang seorang j**da, batin Azmia.


"Maaf ya Mia memang awalnya saya setuju dengan hubungan kalian, karena saya belum tahu jika kamu itu seorang j**da, tapi setelah saya tahu, kamu seorang j**da saya jadi berpikir ulang karena Ar itu kan anak tunggal, dia harapan kami jadi kami juga menginginkan dia bisa mendapatkan pendamping yang sederajat dan sepadan dengan dia serta statusnya juga sama-sama masih single," sambung Mama Irana.


"Baiklah saya akan mengikuti keinginan om dan tante untuk menjauhi Kak Diaz, jika itu memang yang terbaik. Kalau begitu saya permisi dulu terima kasih untuk undangan makan malamnya," ucap Azmia kemudian berdiri dari duduknya berjalan keluar restoran. Azmia berlari kecil dengan derai air mata mengiringi langkahnya. Azmia menghentikan langkahnya saat melihat kursi di depan toko yang tak jauh dari restoran. Azmia duduk di kursi tersebut mengeluarkan sesak di hatinya. Azmia tak menyangka jika Papa dan Mama Ardiaz bisa berbicara seperti itu.

__ADS_1


"Kenapa menangis?" tanya seseorang yang berada di depan Azmia.


Mendengar ada suara seseorang aslinya mendongakkan kepalanya melihat seseorang yang menyapanya. "Kak Revan," ucap Azmia.


"Apa terjadi sesuatu padamu, siapa yang berani membuatmu menangis?" tanya Revan.


Revan yang tadinya hanya ingin keliling Mall mencari kado untuk acara tunangan Kakaknya, tanpa sengaja dia melihat seorang wanita yang mirip dengan Azmia karena penasaran jadi dia menghampiri wanita itu karena feeling-nya berkata itu Azmia, maka dari itu Revan melangkahkan kakinya menghampiri wanita tersebut dan ternyata benar dia adalah Azmia.


* Restoran berada di dalam Mall ya.


Azmia hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Baiklah kalau kamu tidak mau cerita tidak apa, kalau begitu lebih baik sekarang kamu aku antar pulang kakak ipar tersayang," ucap Revan dengan tersenyum manis.


"Jangan menangis lagi nanti cantiknya ilang loh," goda Ardiaz.


"Tetap cantik kok meskipun nangis," balas Azmia dengan tersenyum kecil.


"Nah gitu dong tersenyum kan lebih cantik," ujar Revan.


"Ya udah yuk pulang, apa mau keliling dulu?" tanya Revan.


"Mia pulang aja," jawab Azmia.


"Oke baiklah tuan putri," ucap Revan. kemudian mereka melangkahkan kakinya untuk turun ke lantai 1 menuju parkiran mobil.


Di dalam restoran


Selesai dari toilet Ardiaz kembali ke mejanya, tapi dia bingung kenapa di meja tersebut tidak terlihat ada Azmia.


Mama Kirana yang mengerti dengan tatapan putranya dia pun bertanya. "Apa yang kamu cari?"


"Di mana Azmia? bukankah tadi dia bergabung dengan Mama dan Papa?" Ardiaz balik bertanya.


"Oh, tadi dia bilang ada urusan mendadak jadi dia harus pulang, karena kamu lama jadi dia tidak sempat berpamitan dengan kamu dia hanya menitipkan salam permohonan maaf kalau dia tidak bisa makan malam bersama kita," jawab Mama Irana berbohong.


"Mama tidak sedang berbohong kan dengan Ar?" tanya Ardiaz karena merasa ada yang aneh.


"Apa kamu tidak percaya dengan Mamamu sendiri?" Mama Irana mulai berakting.

__ADS_1


"Bukan begitu, Ma. Ar percaya kok sama Mama. Ya sudah kita lanjutkan makan malamnya," ucap Ardiaz tak ingin banyak bicara dan berdebat dengan Mamanya. Meskipun dalam hati dia merasa gelisah karena perginya Azmia yang begitu dadakan tanpa memberitahu.


__ADS_2