Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 121 Pulang kerumah


__ADS_3

Setelah sarapan bersama Revan dan Kabin harus berpisah mereka pulang ke rumah masing-masing.


"Assalamualaikum," ucap Revan di depan pintu.


"Wa'alaikumussalam," balas Lasmi sambil membukakan pintu. "Den Revan, ya?" tanya Lasmi saat pintu terbuka terlihat laki-laki muda wajahnya mirip sekali dengan Bunda Rita. Karena Lasmi baru jadi dia belum pernah bertemu atau melihat langsung Revan. Lasmi hanya melihat dari foto yang terpajang di rumah.


"Iya. Bunda ada, Mba?" tanya Revan. Dia merasa heran karena art di rumahnya beda.


"Ada. Silakan masuk!" Lasmi mempersilakan Revan masuk ke dalam rumah.


Revan masuk ke dalam rumah duduk di sofa ruang tamu.


Setelah mempersilakan Revan masuk Lasmi meninggalkan Revan di ruang tamu berjalan menuju kamar Bunda.


"Ada apa, Mba Lasmi?" tanya Bunda bertepatan saat Mba Lasmi ingin mengetuk pintu. Bunda membuka pintu ingin keluar kamar.


"Itu, Nyonya ada Den Revan di bawah," jawab Lasmi.


"Revan? Anak saya?" tanya Bunda seakan tak percaya anaknya pulang. Pasalnya kemarin anak bontotnya bilang sedang pergi berlibur dengan sahabatnya.


"Iya, Nyonya," jawab Mba Lasmi.


Setelah mendengar jawaban Lasmi. Bunda Rita langsung berjalan menuju ruang tamu dan benar saja putra bungsunya sedang bersantai di sofa sambil menonton acara televisi.

__ADS_1


"Dasar anak nakal. Bilangnya sedang berlibur bersama Kabin, tapi ternyata bohongin Bunda," ucap Bunda sambil menjewer kuping Putranya.


"Au ... sakit, Bun. Hehehe maaf, Bun. Kan biar surprise, Bun kalau Revan bilang terlebih dahulu bukan surprise namanya," balas Revan sambil memegangi kupingnya bekas jeweran Bunda.


"Sejak kapan pulang?" tanya Bunda kini sudah duduk di sofa samping Revan.


"Tiga hari yang lalu." Revan berkata dengan tersenyum manis agar Kanjeng Mami tidak marah.


"Kenapa baru pulang sekarang?"


"Ada acara sama teman-teman, Bun," jawab Revan.


"Acara apa? kenapa sampai nggak pulang ke rumah?" Bunda mengintrogasi Putranya.


"Kalau, Bunda tidak percaya tanya saja ke Kakak ipar," lanjut Revan.


"Apa hubungannya dengan menantu Bunda?" tanya Bunda.


"Jadi yang menikah itu sahabat dekat Azmia, Bun," jawab Revan.


"Oh. Bagaimana kabar menantu, Bunda?" tanya Bunda.


"Alhamdulillah, dia baik-baik saja, tapi ada yang aneh. Kenapa saat acara, Azmia bukan bersama Mas Alby melainkan bersama Kakak angkatnya," ujar Revan.

__ADS_1


"Bunda juga tidak apa yang sebenarnya terjadi pada Kakakmu. Dari awal Bunda sudah bilang jangan pernah bermain-main dengan dua hati, tapi Kakakmu tidak mendengarkan orang tua ya begitulah sekarang jadinya," balas Bunda.


"Maksudnya dua hati?" Revan bukan tak mengerti, tapi Revan hanya ingin tahu siapa di antara dua hati itu. Karena yang Revan tahu dulu Alby masih bersama Elvina.


"Jadi Rania sudah kembali lagi dan meminta agar Alby kembali padanya. Awalnya memang Kakakmu menolak, tapi lama-lama Alby masuk kedalam perangkap mereka. Ya jadi begitulah jadinya. Pada akhirnya Azmia memilih untuk mengalah dan meminta cerai pada Kakakmu." Bunda menceritakan tentang permasalahan yang sedang di hadapi Alby. Bunda hanya ingin Revan mengambil pelajaran dari semua itu agar suatu hari nanti saat berumah tangga tidak pernah bermain-main meskipun pernikahan itu hasil dari perjodohan para orang tua.


"Semua di luar dugaan kami, Nak. Padahal dulu Bunda dan Ayah pernah menolak secara langsung permintaan Rania, tapi entah kenapa Kakakmu bisa terjebak ke dalam perangkapnya. Bunda jadi merasa menyesal dulu pernah menjodohkan Kakakmu dengan Rania," ucap Bunda penuh dengan penyesalan andai saja beliau tahu lebih awal sikap Rania yang sesungguhnya maka dia tidak akan pernah menjodohkan putranya padanya.


"Sudahlah, Bun. Jangan di sesali semua yang sudah terjadi biarlah terjadi sekarang kita pikirkan bagaimana mengatasi permasalah Azmia dan Mas Alby," balas Revan. Revan tak ingin Bundanya sedih karena rasa bersalah semua sudah suratan takdir jadi tidak perlu di sesali lagi.


"Bunda nggak tahu harus berbuat apa, Van. Sepertinya Azmia sudah berada di titik final jadi Bunda hanya bisa berdoa buat kebaikan mereka," ucap Bunda. Mau membujuk Azmia tidak mungkin karena anaknya yang salah, jadi ya sudahlah biarkan semua berjalan sesuai dengan takdir.


"Doa Bunda sudah cukup, Bun. Nanti biar Revan saja yang berbicara dengan Azmia. Bunda tidak perlu memikirkan itu lagi." Revan mencoba menenangkan Bundanya agar tidak terus memikirkan kehidupan Kakaknya. Beliau sudah terlalu tua kasihan jika harus ikut pusing dalam kehidupan rumah tangga anaknya.


"Bunda ingin bertemu Azmia, Van," ucap Bunda Rita meminta pada Revan agar mempertemukannya pada menantu tercinta.


"Besok Revan akan bawa Bunda bertemu dengan Azmia," balas Revan.


"Benarkah?" tanya Bunda dengan mata berbinar seperti anak kecil yang ke inginannya di wujudkan.


"Iya." Revan mengangguk.


Seorang anak tak akan pernah bisa ketika melihat orang tuanya terluka ataupun sedih.

__ADS_1


__ADS_2