
"Apa semua sudah siap, Bin?" tanya seorang laki-laki yang sedang sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
"Sudah, Rev. Besok pukul tujuh pagi kita berangkat," jawab Kabin.
"Bagus kalau begitu gue udah nggak sabar pengen segera menginjakkan kaki di rumah," ucap Revan.
"Sama gue juga udah kangen sama bonyok," sambung Kabin.
*
*
*
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam akhirnya mereka sampai di bandara kota tujuan.
"Alhamdulillah." Revan dan Kabin mengucapkan rasa syukur karena mereka kini telah tiba di kota kelahiran dengan selamat.
"Rev, ayo itu Beni udah jemput," ucap Kabin saat melihat Beni berdiri di depan pintu bandara.
"Woi, apa kabar lu berdua?" tanya Beni sambil bersalaman pada ke dua sahabatnya.
Revan, Kabin, dan Beni mereka bersahabat sejak SMA, tapi harus berpisah karena Revan bersama Kabin harus kuliah di luar kota.
"Apa Bunda dan Ayah tahu kalau lu pulang hari ini?" tanya Kabin pada Revan. Kini mereka sudah berada di dalam mobil.
"Tidak, sengaja bikin surprise," jawab Revan.
"Kebiasaan banget lu. Oh, iya, nanti malam kita nongkrong di kafe yang lagi viral," ucap Beni.
"Kafe apa, dimana?" tanya Revan.
"Tempatnya nggak jauh dari universitas A. Namanya kafe cinta pasti kalian betah deh kalau di sana," jawab Beni.
__ADS_1
"Sepertinya sesuatu banget tuh gue jadi penasaran," ujar Revan.
"Sama-sama, Rev," sambung Kabin.
"Nanti juga kalian akan tau," balas Beni.
"Siapa yang punya, Ben?" tanya Kabin.
"Dengar-dengar sih mahasiswi universitas A," jawab Beni. Dia juga nggak tahu pasti hanya denger dari orang lain saja.
"Wah, keren mahasiswi sepertinya perlu cari tahu nih, apalagi kalau bisa di ajak kenalan." Jika urusan perempuan Kabin paling garcep.
"Sakit woi," keluh Kabin sambil mengusap-usap keningnya yang di jitak ke dua sahabatnya.
"Ngaca woi ngaca mana mau dia sama lu," ucap Revan menyadarkan Kabin agar tidak menghalu.
"Kalau mimpi jangan terlalu tinggi, Bin nanti jatuh sakit," sambung Beni.
"Mimpi itu memang harus setinggi langit, Bambang." Kabin yang tak mau kalah.
"Sudahlah biarkan jomblo bahagia dengan khayalannya," ucap Revan.
"Sadar woi situ juga jomblo," balas Kabin.
"Sesama jomblo jangan saling menghina," sambung Beni.
Itulah obrolan para jomblo ngalur ngidul.
Tak lama mobil Beni sampai di pekarangan rumah berlantai dua. Beni memarkirkan mobilnya di garasi. Ke tiga laki-laki keluar dari mobil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum," ucap Revan di depan pintu.
"Wa'alaikumussalam." Azmia membuka pintu karena kebetulan Azmia ingin ke dapur.
__ADS_1
Pintu terbuka terlihat wanita muda cantik tersenyum.
"Azmia, lu Azmia kan?" Revan terkejut saat melihat sosok Azmia yang berada di depannya bukan Bunda atau Mbok Inem.
"Kak Revan." Azmia juga tak kalah terkejutnya.
"Lu, ngapain di rumah gue?" tanya Revan menyelidik.
Azmia bingung harus jawab apa dia hanya diam tak menjawab.
"Ah, sudahlah kalau lu nggak mau jawab nanti biar gue tanya Bunda saja," ucap Revan.
"Den Revan," teriak Mbok Inem dari arah belakang. Tadi Mbok Inem lagi menjemur pakaian jadi tidak tahu jika Revan pulang.
"Mbok, apa kabar?" Revan menyalami Mbok Inem. Meskipun Mbok Inem art di rumahnya, tapi Revan selalu bersikap sopan karena beliau lebih tua dari nya. Lagi pula Mbok Inem sudah di anggap sebagai keluarga sendiri.
"Alhamdulillah, Mbok sehat, Den," jawab Mbok Inem.
"Ayo, masuk biar si Mbok bikinin minum." Mbok Inem mempersilakan Revan beserta sahabatnya untuk masuk kedalam.
Revan, Kabin, dan Beni masuk duduk di sofa.
"Lu nggak capek berdiri terus, sini duduk!" Revan menyuruh Azmia duduk di sampingnya.
"Duh bakal ada yang balikan lagi nih," celetuk Kabin.
Deg
Azmia bingung melihat situasi yang seperti ini, siapa Revan sebenarnya dan apa hubungannya dengan Alby. Pertanyaan itu kini mengelilingi pikirannya.
**
Terima kasih sudah baca cerita saya.
__ADS_1
yuk tinggalkan jejak kalian dengan like dan vote, komentar juga boleh kok asal jangan pakai cabai rawit setan ya, takut author down. hehe.