
"Keren." Revan, Alby, Kabin dan Daffa menghampiri Azmia sambil bertepuk tangan.
Azmia hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Gue nggak nyangka, kamu hebat banget, Mi. Gue sama Revan berhari-hari nyari bukti belum juga menu titik terang hingga saat ini," ucap Kabin.
"Kak Kabin kurang berusaha," balas Azmia.
"Ngeledek nih anak, nggak tahu aja gue sama Revan udah kayak detektif," ujar Kabin.
Azmia hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Lu kurang keren, Bin. Azmia dong tinggal nujuk tangan langsung ada yang bergerak," ujar Daffa.
"Beda kelas, Kak," balas Kabin.
"Istriku memang luar biasa," ucap Revan dengan bangganya.
"Malu, lu jadi laki, harusnya lu yang nyelesein masalah ini lha ini kebalik," balas Daffa menonyor dahi Revan.
"Kan gue lagi galau, Kak jadi nggak bisa mikir," ucap Revan.
"Alasan aja," balas Daffa.
"Wanita hebat. Mas nggak nyangka kamu yang terlihat lemah lembut, tapi sekali beraksi membuat semua orang terdiam membisu." Kini Alby ikut angkat bicara.
"Makanya jangan berani-berani membangunkan singa," sambung Daffa.
"Kak Daffa bisa aja. Mia hanya ingin memberikan efek jera pada orang-orang seperti mereka. Jika di biarkan maka mereka akan semakin merajalela," balas Azmia.
"Betul banget, Mi," sambung Kabin.
"Maafin Kakak karena teledor," ucap Revan.
Azmia mengangguk.
"Terima kasih." Revan berkata sambil mencium tangan Azmia sebagai rasa terima kasih.
"Van, inget disini masih ada orang," sindir Daffa.
"Biarin, biar pada inget istri di rumah," balas Revan.
"Istri gue dimana." Kabin berkata seakan meratapi nasibnya yang berbeda dengan ketiga orang di sampingnya, karena hanya dia yang masih sendiri.
"Makanya cepat kawin," ucap Daffa.
__ADS_1
"Nikah, Kak," balas Kabin.
"Sama saja," ujar Daffa.
"Nikah sama siapa, pacar aja gue nggak punya," lirih Kabin.
"Sabar ini adalah ujian," ucap Daffa sambil menepuk pundak Kabin.
Karena semua sudah terbongkar maka Alby dan Daffa berpamitan pulang.
*****
Kediaman Bakhri
"Duduklah, Nak Papa ingin bicara!" Papa Ari menyuruh Azmia dan Revan duduk. Mereka pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Papanya.
'Apa Papa tahu ya tentang kejadian itu,' batin Azmia.
'Ada apa ya, kok sepertinya Papa serius banget, aku jari sedikit ngeri,' batin Revan.
"Princess Papa apa kamu tahu kenapa Papa menyuruhmu kesini?" tanya Papa Ari mulai membuka pembicaraan.
**Flashback
Tadi saat pulang dari kantor Revan tiba-tiba Azmia dapat panggilan darurat dari Mama Iren yang menyuruhnya agar segera ke rumah atas perintah Papa Ari.
"Tidak, Pa," jawab Azmia.
"Apa yang sedang terjadi hari ini?" tanya Papa Ari.
"Maksud, Papa?" Azmia yang tak mengerti dengan pertanyaan Papanya.
"Princess, Kamu tidak perlu menyembunyikan semua dari Papa. Sekarang kamu jujur sama Papa yang terjadi sehingga Raya dan kedua temannya menemui mu di apartemen?" tanya Papa Ari beliau berkata dengan nada yang lembut.
"Kok Papa tahu?" Azmia bukannya menjawab malah balik bertanya.
"Tanpa sengaja Papa mendengar obrolan raya saat bersama temannya," jawab Papa Ari.
"Oh. Cuma masalah kecil kok, Pa. Lagi pula sekarang semua sudah beres nggak ada yang perlu di khawatirkan," ucap Azmia.
"Princess, jika itu masalah kecil kenapa kamu panggil Raya tidak seperti biasanya," balas Papa Ari. Karena yang Papa Ari tahu selama Raya jadi bodyguard Azmia baru ini pertama kalinya Azmia meminta bantuan Raya. (Raya -- bodyguard yang di siapkan Papa Ari untuk Princess tercinta sebagai pendamping Azmia saat membutuhkan bantuan)
Azmia hanya tersenyum kecil.
"Maafin Revan, Pa karena belum bisa menjaga Azmia dengan baik," ucap Revan.
__ADS_1
"Kamu nggak perlu minta maaf, Van. Semua terjadi juga bukan karena kesalahan mu. Kalian berdua kan suami istri jadi sudah sepatutnya saling menjaga satu sama lain, saling melindungi. Papa senang lihat Putri Papa bijak dan tegas dalam menyikapi setiap masalah," balas Papa Ari.
"Terima kasih ya, Pa karena sudah percaya pada Revan untuk menjaga Azmia," ucap Revan.
"Iya, Nak," balas Papa Ari.
*****
Di tempat lain
"Dek," panggil Daffa.
"Iya, Kak," balas Karina.
"Kakak butuh sesuatu?" tanya Karina. Dia bergegas menghampiri suaminya yang duduk di sofa kamar.
"Tidak," balas Daffa.
"Lalu?"
"Boleh tanya sesuatu nggak?" tanya Daffa.
"Apa?"
"Kamu tahu nggak, seseorang yang bernama Ray?" tanya Daffa.
"Ray?" Karina belum bertanya karena dia baru mendengar nama itu.
"Iya, Ray. Kamu nggak kenal?" tanya Daffa.
"Enggak, bahkan Karin baru denger nama itu. Kakak tahu dari mana nama itu?" tanya Karina.
"Ceritanya panjang intinya tadi saat di kantor Revan. Azmia bersama tiga wanita berpakaian hitam rapi nah salah satunya itu bernama Ray," jawab Revan.
"Mungkin mereka bodyguard Azmia. Kakak kan tahu status sekarang Azmia putri, cucu dari keluarga Bakhri," ujar Karina menebak sosok Ray.
"Iya, ya masuk akal juga. Pantas saja dia bisa secepat itu menemukan bukti," balas Daffa.
"Bukti apaan?" tanya Karina.
"Memangnya Azmia tidak cerita padamu?"
"Tidak." Karina menggelengkan kepalanya.
"Nanti kamu bisa tanya Azmia sendiri," ucap Daffa karena dia juga belum tahu cerita yang sebenarnya dari Revan dan Azmia.
__ADS_1
"Ok. Baiklah," balas Karina. Emang lebih baik mendengar langsung dari sumbernya.