Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 210 Sebasib


__ADS_3

Selesai makan bersama dengan Ardiaz dan Mamanya. Azmia dan Karina langsung pulang menuju cafe.


Sesampainya di cafe Azmia dan Karina langsung menuju ruangannya. Saat tiba di ruangan mereka berdua langsung menuju kamar merebahkan tubuhnya di atas kasur menatap ke arah langit-langit kamar. Membayangkan nasibnya masing-masing.


"Mi," panggil Karina.


"Iya, Rin," balas Azmia.


"Ini gimana nasib kita, Mi?" tanya Karina dengan nada lesu.


"Entahlah, Rin. Aku juga pusing," jawab Azmia.


"Malam ini aku harus memberikan keputusan pada Kak Daffa, tapi sampai saat ini otakku masih belum memberikan jawaban yang tepat," ucap Karina.


"Aku juga bingung gara-gara tadi Kak Diaz ngomong seenak jidatnya bikin pusing aja," sambung Azmia karena tadi setelah makan Mama Irana menyuruh Ardiaz agar segera meresmikan hubungannya dengan Azmia.

__ADS_1


"Terus gimana ini? rasanya aku ingin teriak yang kenceng sekali," ujar Karina.


"Sama," balas Azmia.


"Apa aku terima aja kali ya lamaran Kak Daffa?" tanya Karina.


"Iya, Kak Daffa baik kok. Mungkin memang dia jodoh kamu, Rin. Dari pada berharap dengan yang tak pasti lebih baik terima yang ada saja," jelas Azmia.


Jika ada yang sudah pasti untuk apa menunggu yang tak pasti. Lebih baik di cintai dari pada mencintai.


"Eh ... kenapa aku juga di samain. Aku kan baru kenal kak Diaz lagi pula aku udah janji sama Abang untuk fokus kuliah dulu," balas Azmia. Bukan tidak menerima takdir, tapi semua harus dia pikirkan mateng-mateng karena ini adalah yang kedua baginya.


"Aku juga baru kenal Kak Daffa. Gara-gara ide Kak Daffa nih. Aku jadi mumet." Ada rasa penyesalan dalam hati Karina karena menerima saran Daffa yang pada akhirnya membuatnya terjebak dalam situasi rumit.


"Oh, iya memangnya gimana sih ceritanya kalian bisa seperti sekarang?" tanya Azmia menyambungkan obrolannya yang tadi tertunda karena kedatangan tamu yang rak di undang .

__ADS_1


"Jadi tuh kemarin aku bolos kuliah karena bad mood nongkrong lah di cafe, eh ternyata di cafe itu ada Kak Daffa. Singkat cerita kita ngobrol lah aku kasih tau alasan ku nggak kuliah, terus Kak Daffa memberi ide kalau dia bakal bantu aku. Dia jadi pacar pura-pura aku supaya Mama dan Papa nggak maksa aku untuk nikah, tapi ternyata di luar dugaan. Pas aku kenalin Kak Daffa ke Mama dan Papa malah nyuruh Kak Daffa langsung ngelamar aku minggu depan." Karina menceritakan awal mula masalah di mulai.


"Hahaha, garcep bener Mama dan Papa kamu, mungkin mereka sudah tidak sabar pengen punya cucu," ucap Azmia dengan tertawa kecil.


"Jangan tertawa inget nasib kamu nggak jauh beda sama aku," balas Karina.


"Iya-iya, hahaha," ucap Azmia dengan tertawa menertawakan dirinya sendiri.


Mereka tak menyangka kini nasibnya bisa sama. Awalnya hanya pura-pura pacaran, tapi malah terjebak dalam ikatan yang lebih serius.


***


Di tempat lain.


Kenapa tadi gue bisa ngomong seperti itu ya, Gue nggak sedang mimpikan? Masa iya gue beneran jatuh cinta pada Azmia? Mana tadi udah bilang Mama lagi, tapi kira-kira Mama tetap setuju nggak ya kalau tahu Azmia ja*da, batin Ardiaz.

__ADS_1


***


__ADS_2