
"Mas, kenapa kita nggak ganti art aja," ucap Nila.
"Memangnya kenapa dengan mbok Asih?" tanya Alby.
"Nila kurang cocok sama dia kerjanya lelet lama sekali selesainya," jawab Nila.
"Kalau lama kenapa kamu nggak bantuin mbok Asih," ucap Alby.
"Ih ... ogah, aku kan bukan pembantu, Mas," balas Nila.
"Meskipun kamu bukan pembantu, tapi kan gak ada salahnya jika bantuin mbok Asih meringankan beban dia sedikit," ucap Alby.
"No." Nila menolak keras saran Alby. "Kenapa, kita nggak nambah art lagi kalau gitu?"
"Untuk apa nambah art jika di rumah ada kamu," balas Alby.
"Mas aku itu istri kamu, bukan pembantu kamu," kesal Nila.
"Iya, saya tahu, tapi menyediakan makanan juga tugas istri nggak semuanya harus art. Saya suami kamu bukan suami Mbok Asih," ucap Alby yang tak kalah kesal dengan sikap istrinya.
"Katanya orang kaya, bayar dua art saja tidak mampu," cibir Nila.
"Saya bukan tidak mampu, tapi saya hanya ingin istri yang menyiapkan kebutuhan suami bukan art," ujar Alby.
"Bilang saja sayang uangnya, emang dasar pelit," balas Nila.
Tanpa ucapan dan kata Alby beranjak dari tidurnya berjalan keluar kamar menuju ruang kerja. Bukan mengalah, tapi Alby tidak ingin berdebat dengan istrinya apalagi dalam keadaan emosi takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Jadi dia lebih memilih untuk keluar kamar menangkan hati dan pikirannya.
__ADS_1
"Mas, kamu mau kemana, aku kan lagi bicara," teriak Nila saat melihat Alby berjalan keluar kamar.
Alby tak menghiraukan panggilan Nila, dia tetap melangkahkan kakinya keluar menuju ruang kerjanya mungkin dengan sendiri bisa menenangkan pikirannya.
"Ah ... menyebalkan," teriak Nila sambil melempar bantal, guling ke lantai. Kamar yang tadinya bersih rapi, kini begitu berantakan karena ulah Nila.
****
Pagi hari
Di cafe lovely
"Mi," panggil Karina. Kini Azmia dan Karina sedang duduk bersantai di balkon menikmati udara pagi di temani secangkir teh hangat dan cemilan.
"Iya," balas Azmia.
"Bagaimana acara makan malam kamu semalam bersama keluarga pak Ali?" tanya Karina.
"Kamu sendiri gimana sama Kak Daffa?" Azmia balik bertanya.
"Alhamdulillah juga," balas Karina.
"Rin, kamu tahu nggak?"
"Enggak, kan kamu belum cerita jadi ya aku nggak tahu," balas Karina.
"Ih, makanya dengerin dulu," ucap Azmia.
__ADS_1
"Hehehe, iya-iya," balas Karina dengan tersenyum renyah.
"Kemarin saat aku si suruh papi bertemu dengan klien. Aku di buat terkejut oleh kliennya," ucap Azmia.
"Memangnya kenapa?" tanya Karina.
"Karena kliennya itu adalah ... papanya Kak Ardiaz," jawab Azmia.
"Apa?" Karina begitu terkejut saat mendengar jawaban Azmia.
"Biasa aja dong." Azmia sambil menepuk pelan lengan Karina.
"Aku nggak kebayang bagaimana reaksi papanya Kak Diaz saat lihat kamu," ucap Karin dengan tertawa kecil membayangkan reaksi pak Irwan.
"Ya jangan di bayangin, lagi pula ngapain kamu bayangin," balas Azmia.
"Ih ... bukan begitu maksudnya," ucap Karina.
"Ah ... pokonya sekarang kamu jelaskan saja dari awal hingga akhir," lanjut Karina.
"Awalnya aku juga nggak tahu kalau kliennya Pak Irwan. Pada saat bersalaman barulah aku tahu jika kliennya itu.
Terus-terus reaksi pak Irwan gimana tuh mi?" tanya Karina.
"Pastinya sangat terkejut, syok. Aku mah santai saja meskipun dalam hati juga aku kaget," jelas Azmia.
"Hahaha, lucu kali ya, Mi saat itu." Karina membayangkan muka pak Irwan saat bertemu Azmia sebagai anak pemilik perusahaan.
__ADS_1
***
Maaf ya author baru sempat up karena lagi pindahan jadi repot.