Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 240 Kekesalan Karina


__ADS_3

Pagi hari


Alby dan Nila sudah bersiap untuk pindah ke rumahnya sendiri. Mereka keluar dari kamar dengan membawa koper.


"Kalian sudah bangun, ayo sarapan dulu!" ajak Bunda.


"Tidak perlu, Bun. Kami makan di luar saja sekalian jalan pulang," balas Nila menolak ajakan mertuanya untuk sarapan.


"Baiklah kalau begitu, kalian hati-hati di jalan. Al, jaga istri mu dengan baik," pesan Bunda pada Putranya sambil memegang bahu Alby.


"Iya, Bun. Al pamit ya, Bun," ucap Alby.


"Iya," balas Bunda.


"Nila pamit ya, Bun," ucap Nila.


"Iya," balas Bunda.


"Alhamdulillah, akhirnya," ucap Revan yang baru tiba di dapur.


"Revan." Bunda seakan mengerti dengan ucapan Revan yang menyindir Nila.


"Iya, Bun. Revan hanya mengucap rasa syukur karena sebentar lagi akan kembali damai rumah ini," ujar Revan.


"Lu, nyindir gue." Nila yang merasa tersinggung dengan ucapan Revan.


"Sudahlah, ayo! nanti keburu siang." Alby menarik tangan Nila keluar rumah sebelum perang dunia ketiga.

__ADS_1


"Kamu ini," omel Bunda.


Revan hanya membalasnya dengan tertawa kecil.


****


Di kampus


Azmia, Karina, Melia dan Derry. Mereka berempat duduk bersantai di kursi taman kampus menikmati udara pagi sambil menunggu dosen datang.


"Mi, bagaimana hubungan kamu dengan Ardiaz?" tanya Derry.


"Sudahlah, Kak jangan bahas dia males dengernya." Bukan Azmia yang menjawab melainkan Karina. Dia masih terbayang-bayang kejadian saat di rumah sakit.


"Memangnya kenapa, Rin?" tanya Derry.


"Kami sudah tidak berkomunikasi, Kak," balas Azmia.


"Kenapa, Mi? bukankah saat itu kalian baik-baik saja," ucap Derry.


"Iya, hanya saja Mia merasa tidak pantas berada di samping Kak Ardiaz. Kami bagaikan langit dan Bumi, Kak. Status kita juga berbeda," jelas Azmia.


"Kenapa kamu bicara seperti itu, kamu baik, pintar kalian sangat cocok," ucap Derry.


"Setiap orang memiliki pandangan dan pendapat yang berbeda. Itu pandangan Kak Dery, tapi kita tidak pernah tahu pandangan orang terhadap saya," jelas Azmia.


"Jika kalian saling cinta kenapa tidak kalian perjuangkan?"

__ADS_1


"Cinta memang butuh perjuangan, tapi jika tanpa restu orang tua untuk apa kita bersatu. Bukankah ridho Allah ada pada orang tua," balas Azmia.


"Kamu benar, Mi, tapi aku yakin suatu hari nanti pasti akan ada jalan," ucap Derry.


"Mia bukanlah wanita sempurna yang patut untuk di perjuangkan, Kak. Jadi biarkan takdir yang menentukan," balas Azmia. Bukan tidak ingin berjuang, tapi Azmia lebih menyerahkan semuanya sama Allah, apalagi ini menyangkut restu orang tua.


"Memangnya sebenarnya ada apa sih, Kak?" tanya Melia yang tidak tahu menahu tentang kisah Azmia dan Ardiaz yang Melia tahu Azmia bekerja sama dengan Ardiaz. Karena Melia sekarang jarang nongkrong dengan Azmia dan Karina jadi dia tidak mengetahui apapun


"Tidak apa, hanya ada sedikit perbedaan pendapat," jawab Derry. "Saya ke kelas dulu ya," pamit Derry.


"Iya, Kak," balas Azmia, Karina dan Melia secara bersamaan.


"Memangnya kamu sama Kak Ardiaz pacaran, Mi?" tanya Melia.


"Enggak, Mel," jawab Azmia.


"Jangan sampai deh, Mi. Lebih baik cari yang lain aja," sahut Karina. Meskipun bukan dia yang mengalami, tapi dia kurang setuju jika Azmia dengan Ardiaz karena melihat sikap Papa Ardiaz yang begitu.


"Memangnya ada apa sih?" Melia semakin bingung dan penasaran.


"Papanya Kak Ardiaz tuh nggak setuju kalau Kak Diaz punya hubungan dengan Azmia," jawab Karina.


"Kenapa nggak setuju, Azmia cantik, baik apa yang salah?" tanya Melia.


"Enggak kaya, seorang ja*da makanya mereka tidak setuju," jawab Karina. "Mereka aja yang belum mengenal Azmia, kalau tahu Azmia yang sebenarnya bungkam dah tuh mulut aki-aki yang pedesnya kayak mulut tetangga," jelas Karina.


"Sudah-sudah tidak perlu di bahas lagi, lebih baik sekarang kita masuk kelas Pak Ali sudah datang," ucap Azmia menghentikan obrolan kedua sahabatnya.

__ADS_1


"Baiklah." Mereka pun akhirnya berdiri dari duduknya berjalan menuju ruang kelas.


__ADS_2