Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 252 Kejujuran Azmia


__ADS_3

Hari ini setelah pulang kuliah Azmia menyempatkan waktu untuk ke rumah Angga menemui Kakak Angkatnya yang baru pulang dari luar kota.


"Bang," panggil Azmia. Kini mereka berdua duduk di gazebo samping rumah ngobrol santai sambil menikmati suasana malam hari dengan di temani secangkir teh manis dan beberapa cemilan.


"Iya," balas Angga.


"Kira-kira, Abang percaya nggak sih kalau kelurga Mia yang asli masih ada?"


"Ya percaya tidak percaya, tapi takdir Allah itu nyata. Jika memang Allah sudah berkehendak semua itu bisa aja terjadi," jawab Angga.


"Jika suatu hari nanti Mia kembali pada keluarga asli Mia, Abang seneng nggak?" tanya Azmia.


"Sedih dan senang. Sedih karena Abang pasti kehilangan kamu, tapi Abang juga senang karena kamu bisa berkumpul dengan keluarga kamu," balas Angga.


"Abang nggak akan kehilangan Mia, karena Mia akan selalu ada buat Abang," ucap Azmia.


"Dari tadi kamu yang di bahas itu Abang jadi curiga nih. Apa kamu sudah menemukan keluarga kamu yang sebenarnya?" tanya Angga.


"Semua belum pasti sih, Bang, tapi menurut mereka ini adalah bukti bahwa Mia adalah anak kandung mereka yang hilang dua puluh satu tahun lalu," jawab Azmia.


"Jadi beneran kamu sudah bertemu kembali dengan mereka?"


Azmia mengangguk sebagai jawaban.


"Siapa?" Angga yang semakin penasaran karena selama ini mereka mencari nggak ketemu.


"Abang jangan kaget ya," ucap Azmia.


Angga menggelengkan kepalanya.


"Abang kenal kok sama dia bahkan dekat juga coba tebak siapa," ujar Azmia.


Angga diam mencerna dan memikirkan siapa yang di maksud Azmia. Setelah diam beberapa saat, tapi dia tidak menemukan jawabnya. "Siapa, peri kecil?" tanya Angga.


"Pak Dosen Ali," jawab Azmia.


"Apa? kamu nggak salah kan, Dek?" Angga di buat terkejut dengan jawaban Azmia.

__ADS_1


"Ngapain bohong, tapi masih menunggu hasil tes DNA sih, Bang," jawab Azmia.


"Ini seperti mimpi. Abang masih nggak nyangka jika kamu adik Ali," ucap Angga.


"Bukan hanya, Abang. Mia saja masih belum percaya," balas Azmia.


"Anak Mami pada ngapain sih sepertinya seru banget ngobrolnya," ucap Mami Angga saat baru tiba di gazebo.


"Mami dari mana?" tanya Azmia karena saat Azmia datang Mami nggak ada di rumah.


"Tadi Mami ada arisan sama temen-temen, kamu sudah lama sayang?" tanya Mami.


"Lumayan, setengah jam yang lalu. Papi mana, Mi?"


"Ada tuh lagi di ruang kerja," jawab Mami kemudian beliau duduk bergabung bersama Angga dan Azmia tak berselang lama Papi Dewata datang menghampiri anak, istrinya.


"Pada ngumpul nggak ngajakin papi," ucap Papi sambil tertawa kecil.


"Papi sibuk sama kerjaan terus," balas Mami.


"Sayang, papi ingin bertanya padamu boleh?" tanya Papi pada Azmia.


"Apa kamu pernah bertemu pak Irwan sebelum kerjaan kemarin?" tanya Papi Dewata.


"Memangnya kenapa, Pi?" Azmia bukannya menjawab malah balik bertanya.


"Enggak apa sih, hanya saja Papi merasa ada yang aneh saat Papi memperkenalkan kamu pada beliau, terus setelah kamu pulang pak Irwan bertanya tentang kamu," jelas Papi.


Azmia terdiam dia bingung harus berkata jujur menceritakan semuanya apa tidak. Kalau jujur takut Papinya marah, tapi jika bohong pasti papi Dewata akan mencari tahu sendiri.


"Kenapa diam apa terjadi sesuatu?" tanya Papi. Karena Azmia tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Apa kamu sudah pernah bertemu dengannya, Dek?" Kini pertanyaan itu di lontarkan oleh Angga.


Azmia mengangguk.


"Tuh kan benar feeling papi. Pantas saja dia begitu penasaran dengan kamu, tapi papi masih heran kenapa dia seperti orang yang terkejut saat kamu anak papi. Coba cerita ke papi apa yang sebenarnya terjadi!" Papi menyuruh Azmia agar menceritakan semuanya.

__ADS_1


"Janji dulu jika Mia cerita, Papi, Mami dan Abang nggak akan marah," ucap Azmia.


"Insya'Allah kalau itu tergantung ceritanya dulu," balas Angga.


"Mami setuju dengan Angga kita denger dulu ceritanya baru bisa memberi keputusan," sambung Mami.


"Iya papi juga sama," sambung Papi Dewata.


"Oke-oke, tapi Mia berharap semua tidak ada yang marah," ucap Azmia.


"Buruan, Dek ceritanya." Angga yang sudah tidak sabar menunggu cerita Azmia.


"Sabar, Bang," balas Azmia.


"Jadi anak pak Irwan itu teman Mia dari situlah Mia kenal dengan beliau," jelas Azmia.


"Udah itu duang," ucap Angga.


Azmia mengangguk kemudian tersenyum kecil ke arah Angga.


"Apa kamu punya hubungan khusus dengan putra pak Irwan?" tanya Papi.


"Tidak. Kami hanya teman dekat saja," jawab Azmia.


"Papi nggak percaya cerita saja apa yang sebenarnya terjadi," ujar Papi Dewata dengan nada yang begitu tegas.


"Iya, Pi," balas Azmia.


"Jadi awalnya Mia dan Kak Diaz itu bekerja sama. Kak Diaz harus menjadi pacar bohongan Azmia di depan Mas Alby sampai Mas Alby nikah lagi, tapi ternyata seiring berjalannya waktu Kak Diaz mengajak Mia untuk menjalin hubungan yang sebenarnya, tapi ternyata saat Mia di perkenalkan dengan orang tuanya, mereka menyuruh Mia agar menjauhi Kak Diaz. Makanya saat Papi memperkenalkan Mia, beliau langsung terkejut karena yang beliau tahu Mia hanyalah seorang karyawan cafe," jelas Azmia.


"Apa alasan pak Irwan menolakmu?" tanya Papi.


"Karena Azmia ja**a dan seorang karyawan cafe," jawab Azmia dengan polosnya. Azmia tersenyum getir setiap teringat dengan kata-kata orang tua Ardiaz yang begitu menusuk ke dalam hatinya.


Mami langsung menarik Azmia dalam pelukannya. "Sabar ya sayang memang tidak mudah menjalani semua itu," ucap Mami di sela-sela pelukannya. Mami tahu betul bagaimana perasaan Azmia saat orang mengatakan seperti itu apalagi di usianya yang masih muda.


"Awas saja Abang akan memberi pelajaran pada mereka," kesal Angga yang tak terima peri kecilnya di perlukan seperti itu.

__ADS_1


"Eh ... jangan, Bang. Biarkan saja Mia tidak apa kok. Kejahatan tidak perlu di balas dengan kejahatan karena suatu hari nanti mereka juga akan diam sendiri tanpa mengotori tangan kita," ujar Azmia menasehati Angga. Biarlah waktu yang membuktikan semuanya.


__ADS_2