Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 117 Pernikahan Melia


__ADS_3

Sore hari Melia sudah mulai di makeup karena ini acara besar dan banyak orang yang harus di rias jadi di mulai dari sore agar selesai tepat waktu yang makeup juga ada lima MUA satu khusus buat pengantin empat lainnya makeup para orang tua terlebih dahulu agar saat tamu undangan mulai datang para orang tua sudah siap untuk menyambut para tamu penting mereka.


Sedangkan bridesmaids masih menunggu giliran. Azmia dan Karina membantu para MUA mengambilkan sesuatu yang di butuhkan.


Dua jam berlalu Melia, Derry serta para orang tua kedua mempelai telah selesai di makeup. Kini giliran para pendamping pengantin yang di make up termasuk Azmia dan Karina.


Tak butuh waktu lama kini Azmia dan Karina sudah selesai di makeup serta para bridesmaids lainya yang terdiri dari pihak laki-laki.


Kali ini tamu undangan mencapai seribu lebih karena yang hadir tamu undangan dari kedua belah pihak menjadi satu.


**


Di tempat lain.


Daffa sudah berada di rumah Alby duduk bersantai di ruang tamu menonton acara televisi sambil memakan cemilan yang di sediakan Mbok Asih. Sedangkan Alby masih berada di kamarnya bersiap-siap untuk pergi bersama Daffa, tapi dia masih ragu antara pergi atau tidak.


"Al, cepatlah ini sudah jam tujuh lewat," teriak Daffa dari lantai bawah karena Alby tak kunjung keluar dari kamar.


"Iya, sabar," balas Alby dari lantai dua.


"Lama bener lu, udah kayak cewek dandan berjam-jam. Lu pakai bulu mata dulu," cerocos Daffa mulutnya udah kayak emak-emak yang sedang memarahi anaknya. Karyawan paling berani itu hanya Daffa, kalau bukan karena teman mungkin dia juga nggak akan berani.


"S**l*n, lu. Lu kira gue Maemunah," kesal Alby. Sudah ganteng-ganteng begini cewek-cewek aja pas lihat pasti bakal klepek-klepek di kira pakai bulu mata.


"Ayo!" Alby berjalan keluar rumah tanpa memperdulikan Daffa yang berteriak-teriak memanggilnya.


Alby berjalan menuju garasi mobil.


"Dari tadi gue nungguin, tapi di tinggalin begitu saja dasar temen nggak ada akhlak." Daffa terus saja ngedumel seperti Mbah dukun yang sedang baca mantra dan emak-emak yang kurang di kasih jatah. (uang)


"Lama-lama lu udah kayak emak-emak komplek, Daf," ucap Alby. Kini mereka sudah berada di dalam mobil seperti biasa Daffa lah yang jadi sopirnya.


"Bodo amat," balas Daffa.


*****

__ADS_1


Di tempat lain.


Kediaman Pranata


"Apa Mama boleh masuk, Nak?" tanya Mama Sonia di depan pintu kamar Rania.


"Masuk saja, Ma, pintunya tidak di kunci," jawab Rania.


"Apa kamu sedang banyak kerjaan?" tanya Mama Sonia saat melihat Rania di sofa dan fokus pada layar laptop di depannya.


"Tidak juga, hanya melihat beberapa laporan dari Susi," jawab Rania.


Melihat sang Mama duduk di depannya Rania langsung menutup laptopnya. "Apakah ada sesuatu yang ingin Mama sampaikan?" tanya Rania karena tiba-tiba sang Mama mencarinya.


"Tidak. Mama hanya ingin bertanya apa kamu ingin ikut bersama Mama dan Papa di acara teman Papa?" tanya Mama Sonia pada putrinya.


"Tidak, Ma. Nia ada janji sama teman makan malam bersama," jawab Rania.


"Baiklah, kalau begitu Mama sama papa pergi dulu ya," ucap Mama Sonia.


"Iya, Ma," balas Rania.


***


Kembali ke hotel.


Suasana hotel sudah sangat ramai tamu mulo berdatangan acara puncak akan segera di mulai.


Semua sudah berbaris sesuai arahan WO dan fotografer.


Melia berada di barisan paling depan setelah itu barisan ke dua ada Azmia dan Devan. Barisan ke empat Karina dan Angga selanjutnya dari pihak keluarga.


Azmia dan Karina membawa sekeranjang kecil yang berisi bunga mawar untuk di taburkan saat perjalan menuju pelaminan.


Melia terlihat bagaikan ratu dan Derry Rajanya. Mereka berjalan dengan posisi tangan Melia melingkar di lengan Derry. Berjalan di atas karpet merah yang penuh dengan asap putih seperti di negeri dongeng.

__ADS_1


Setelah sampai di pelaminan Azmia dan Karina menyapa para tamu undangan dari alumni SMA dan para sahabat kuliah mereka yang satu jurusan.


Para dosen juga datang Devan sibuk mengobrol dengan para Dosen kampus dimana Melia dan Derry kuliah. Sedangkan Angga mengobrol dengan para klien bisnisnya karena tamu undangan memang kebanyakan dari para pembisnis.


"Rin, aku duduk ngambil air minum dulu, ya," pamit Azmia pada Karina yang masih sibuk berkumpul dengan para sahabat mereka.


Setelah berpamitan dengan Karina. Azmia berjalan ke arah tempat minum. Azmia mengambil satu gelas air minum yang telah di sediakan kemudian dia duduk di meja yang kosong menikmati air minumnya serta melihat beberapa tamu undangan yang hadir begitu membeludak banyak sekali. 'Kenapa tiba-tiba deg degan gini ya, apa aku punya penyakit jantung dadakan. Ya Allah, berilah hamba mu ini umur yang panjang ya Allah. Mia, masih ingin hidup ya Allah. Mudah-mudahan ini bukan penyakit jantung yang serius,' batin Azmia.


Dari kejauhan ada seseorang yang terus saja memperhatikan Azmia.


"Daf, lu lihat perempuan yang sedang duduk di sana?" tanya Alby menunjuk ke arah meja paling pojok.


"Iya, kenapa?" Daffa balik bertanya.


"Kok gue ngerasa mukanya nggak asing ya," ucap Alby.


"Ah ... perasaan lu aja kali, Al. Inget, Al masih ada istri jangan sakiti Azmia lagi. Perempuan itu memang cantik sekali, tapi kamu sudah beristri di lapangan mencari lagi," cerocos Daffa.


"Gue tahu itu, Bambang. Lu lihat deh dengan seksama mukanya tuh nggak asing lagi seperti __?" Alby berpikir keras mengingat-ingat seperti siapa wanita yang ada di meja pojok.


"Sudahlah jangan terlalu di pikirkan," balas Daffa.


"Daf, itu pengantinnya bukankah temennya Azmia, lu inget nggak cowok itu yang pernah jenguk Azmia saat di rumah sakit." Alby menunjuk ke arah Derry. Alby baru sadar jika dia mengenali pengantinnya saat tadi melihat perempuan dimeja pojok. Alby datang karena undangan dari Ayah Derry beliau adalah seorang pembisnis besar.


Namun, Alby tidak mengenali Melia karena di makeup jadi pangling.


"Iya, jangan-jangan dia __." Daffa menghentikan ucapannya. Menoleh ke arah Derry kemudian berganti menatap ke arah Azmia.


"Azmia," ucap mereka bersama. Alby mulai yakin bahwa perempuan yang berada di meja paling pojok itu adalah istrinya. Alby mulai melangkah kan kakinya menuju meja, tapi baru beberapa langkah tiba-tiba ada yang memanggilnya.


"Alby," panggil seseorang dari belakang.


Mendengar namanya di panggil Alby pun menoleh ke belakang. "Hai ...," sapa Alby.


"Siapa, Al?" tanya Daffa

__ADS_1


"Teman saat SMA," jawab Alby.


"Oh ...." Daffa mengangguk tanda mengerti.


__ADS_2