
"Sudah?" tanya Alby pada Daffa saat Daffa kembali ke dalam mobil.
Daffa mengangguk sebagai jawaban.
"Mau langsung pulang apa gimana?" tanya Daffa yang kini sudah duduk di kursi sopir.
"Pulang saja. Maksudnya gue ikut lu pulang," jawab Alby.
"Sudah ku duga," ucap Daffa karena setiap Alby lagi galau pasti tak akan pulang ke rumahnya. Dia jadi seperti emak-emak kemana-mana di ikutin anaknya.
Daffa mulai melajukan mobilnya keluar dari cafe cinta menuju rumahnya.
****
"Terus setelah ini gimana lagi?" tanya Karina pada Azmia.
"Besok aku langsung bawa ke pengacara biar beliau yang mengurus semuanya. Mudah-mudahan prosesnya berlangsung dengan lancar agar segera terselesaikan," jelas Azmia. Jika semua berjalan dengan lancar dan tak ada ini itu dari pihak laki-laki maka dengan cepat semuanya selesai dan dia juga bisa menyandang status yang jelas tidak seperti sekarang statusnya tergantungkan. Istri bukan, janda juga tidak.
"Amin," ucap Karina. Dia hanya bisa mendukung dan mendoakan yang terbaik buat sahabatnya.
"Kita ke cafe Lovly yuk, Rin! Kak Fakhri ngajak ketemuan," ucap Azmia.
"Ayo!" balas Karina dengan semangat.
"Semangat bener yang mau ketemu Kak Fakhri," sindir Azmia.
"Biasa saja," balas Karina. "Oh, iya lupa tadi kan aku bawa es coklat Boba dan cemilan." Karina berkata sambil menepuk jidatnya kemudian dia berjalan menuju meja yang tak jauh dari tempat kerja Azmia mengambil nampan yang tadi dia bawa dari dapur.
"Yah, esnya udah nggak dingin," ucap Karina setelah melihat esnya sudah tak dingin lagi.
"Kamu sih bawa minum bukannya langsung di minum malah di tinggal tidur," balas Azmia.
"Hehehe kan aku ngikutin kamu, Mi," ujar Karina karena tak tega membangunkan Azmia jadi dia ikutan tidur saja dari pada bengong sendirian nungguin Azmia tidur.
"Ah, sudahlah kembalikan saja ke dapur. Ayo, berangkat Kak Fakhri sudah otw." Azmia berdiri dari duduknya berjalan keluar ruangan di ikuti Karina dari belakang.
Azmia berjalan ke luar cafe sedangkan Karina ke dapur terlebih dahulu.
Sebelum berjalan keluar pintu cafe Azmia lebih dulu menemui Nina.
"Nin, saya pulang dulu ya," ucap Azmia.
"Iya, Mba," balas Nina.
Setelah berpamitan pada Nina. Azmia melanjutkan langkahnya keluar dari cafe menuju parkiran mobil milik Karina.
__ADS_1
Tak lama Karina datang. "Ayo!" Karina mengajak Azmia agar segera masuk ke dalam mobil.
Azmia mengangguk kemudian membuka pintu depan masuk ke dalam mobil duduk di samping Karina.
Selama perjalanan menuju cafe Lovly tak ada obrolan, mereka bernyanyi bersama menikmati alunan musik yang di nyalakan Karina lagu kesukaan mereka. Mungkin dengan menyanyi bisa menghilangkan sedikit kesedihan Azmia.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit kini Azmia dan Karina telah tiba di cafe Lovly. Karina memarkirkan mobilnya sedangkan Azmia masuk lebih dulu ke dalam cafe.
"Assalamualaikum," ucap Azmia saat tiba di depan meja kasir.
"Wa'alaikumussalam, Mba," balas Novi -- asisten Azmia di cafe Lovly. Novi dulu karyawan lama di cafe cinta sekarang dia di pindahkan ke cafe Lovly agar bisa membimbing para karyawan baru di cafe Lovly.
Azmia sengaja tidak mengambil karyawan baru semua agar tidak keteteran saat cafe sedang ramai. Sebagian karyawan cafe Lovly adalah karyawan dari cafe cinta mereka sengaja di pindahkan untuk membimbing para karyawan baru.
"Hari ini siapa yang tugas di dapur, Nov?" tanya Azmia.
"Mas Rudi, Mba," jawab Novi.
"Baiklah, kalau begitu saya ke dapur dulu ya, Nov," ujar Azmia.
"Iya, Mba," balas Novi.
Setelah dari kasir Azmia melanjutkan langkahnya menuju dapur. "Masak spa, Rud aromanya harum sekali," ucap Azmia saat baru masuk ke dalam dapur.
"Kamu ngapain di sini, Rin?" tanya Azmia yang melihat Karina sudah berada di dapur duduk bersantai sambil menikmati segelas es jeruk.
"Lagi nungguin Mas Rudi masak. Aku lapar, Mi," jawab Karina.
"Itu seblak buat Karina, Rud?" tanya Azmia.
"Iya, Mba," jawab Rudi.
"Pasti dia mau juga tuh, Rud," sindir Karina.
"Kamu tahu aja, Rin," balas Azmia. Jangan di tanya lagi kalau sudah mencium bau seblak Azmia langsung mengiler apabila ini seblak aromanya sudah menggugah selera.
"Tuh kan benar apa kataku, Rud," ucap Karina.
Rudi hanya tertawa kecil membalas ucapan Karina.
Azmia duduk di kursi samping Karina.
"Kak Fakhri belum datang?" tanya Karina.
"Belum," jawab Azmia.
__ADS_1
Tak lama kemudian seblak ala chef Rudi sudah jadi. "Silakan, Mba Mia, Mba Karin!" Rudi mempersilakan Azmia dan juga Karina menikmati seblak buatannya.
"Ini aromanya beda banget lho sama yang biasa kita beli," ucap Karina
"Betul banget, Rin. Ini pasti enak sekali nih." Azmia mulai mencicipi seblak buatan Rudi.
"Hem.m.m sesuai dugaan rasanya enak banget, Rud," ucap Azmia setelah memasukkan sesendok kuah seblak ke dalam mulutnya.
"Rud, jangan bilang kalau ini kamu kasih mantra biar rasanya enak," ujar Karina dengan nada menggoda karena seblak buatan Rudi sangat pas sekali di lidahnya.
"Tadi kuahnya Saya tambahin air dari Mbah dukun Mba biar nanti Mba Karin tergoda dengan saya," balas Rudi dengan nada bercanda.
"Kalau dukunnya murahan nggak akan mempan, Rud," ucap Karina.
"Jangan salah, Mba. Gini-gini dukun saya sekali ketemu sepuluh juta bayarnya," balas Rudi.
"Itu dukun apa jambret?" tanya Karina.
"Kalian ini ngomong apaan sih," sahut Azmia yang sedari tadi diam kini dia angkat bicara.
"Mba Karin tuh Mba yang mulai," balas Rudi.
"Lha kok jadi aku yang salah," sambung Karina.
"Sudah-sudah kalian ini merusak selera saya makan seblak," ucap Azmia.
"Enak banget ya, Mba seblak bikinan saya?"
"Lumayan, besok-besok bolehlah bikin lagi atau kita tambahin aja di daftar menu cafe gimana, Rud menurut kamu?" tanya Azmia.
"Saya mah ikut apa kata Bu bos sajalah," balas Rudi.
"Kalau aku sih setuju banget," sambung Karina dengan semangat.
"Baiklah, kalau begitu besok kita coba saja dulu ya," ujar Azmia.
"Siap, Mba Mia," balas Rudi.
"Besok kita obrolin lagi aku mau lanjutin makan seblak lagi." Azmia kembali fokus pada semangkok seblak yang ada di depannya. Sedangkan Rudi kembali memasak pesanan pembeli.
Azmia dan Karina makan seblak hingga habis tak tersisa hanya tinggal sendok dan mangkok yang tersisa di meja.
"Kak Fakhri sudah datang, Rin. Ayo, keluar!" Azmia menarik tangan Karina agar mengikutinya keluar.
"Sabar, Mi," ucap Karina dia baru saja mau minum, airnya saja belum masuk ke dalam tenggorokan Azmia sudah narik-narik tangannya.
__ADS_1