
Hari ini semua sudah mulai aktivitas kembali setelah satu minggu libur. Tiga hari jalan-jalan empat hari libur istirahat pemilihan tenaga lagi untuk memulai aktivitas kembali.
Hari ini Azmia juga sudah mulai masuk kuliah, tapi hari ini dia berangkat menggunakan motor karena Karina pulang ke rumahnya jadi nggak ada tebengan. Meskipun Azmia memiliki mobil sendiri, tapi saat kuliah dia lebih suka naik motor atau nebeng Karina.
Nasib memang sedang tidak berpihak pada Azmia saat di pertengahan jalan ban motornya tiba-tiba kempes dengan terpaksa dia harus mendorong motor tersebut ke bengkel terdekat. "Duh, nih motor kenapa sih nggak bisa di ajak kompromi, kenapa harus bocor mana kampus masih jauh, nggak ada bengkel di sekitar sini,' lirih Azmia sambil berjalan mendorong motornya. Karena lelah Azmia menghentikan langkahnya sambil mengusap keringat di dahinya. "Aku telpon Karina sajalah, kali aja dia belum berangkat," batin Azmia. Dia pun merogoh tasnya ingin mengambil ponsel, tapi tiba-tiba dia di bekap seseorang dari belakang ia pun langsung tak sadarkan diri. Karena keadaan di sekitar sangat sepi jadi mudah bagi mereka untuk membawa Azmia.
"Akhirnya kita berhasil juga," ucap si A.
"Iya. Ayo! cepat kita serahkan anak ini ke emak rempong," balas si B.
Kedua orang tersebut langsung memasukkan Azmia ke dalam mobil mereka kemudian melanjutkan mobilnya ke tempat tujuan.
Satu jam perjalanan mereka sampai di tempat. Sebuah rumah tidak terlalu besar, tapi lumayan bagus dan mewah. Mereka menurunkan Azmia kemudian membawanya masuk ke dalam. Ternyata di dalam sudah ada yang menunggu kehadiran mereka berdua.
"Di mana ini?" tanya Azmia saat sadar dari pengaruh obat bius yang di berikan ke dua laki-laki tersebut.
Azmia di dudukkan di sebuah sofa.
"Selamat pagi, sayang," sapa seorang wanita.
"Mama, Kakak," ucap Azmia. Dia begitu terkejut saat melihat Mama Sonia dan Rania berada di hadapannya.
"Oh, ternyata kamu masih mengenal kita. Duh, anak Mama," ucap Mama Sonia sambil memegang pipi Azmia, tapi dengan nada yang begitu membuat merinding.
"Ada apa ini, Ma?" Azmia yang bingung.
"Jangan panggil saya Mama karena kamu bukan anak saya," tegas Mama Sonia.
"Mia, tahu itu kok, tapi jangan paksa Mia untuk berhenti memanggil Mama karena Mama adalah seseorang yang berarti dalam hidup Mia," balas Azmia. Sakit sekali rasanya saat Mama Sonia berkata seperti itu, meski dia bukan anak kandungnya, tapi Azmia begitu menyayangi Mama Sonia dan Mama menganggap Mama Sonia sebagai Ibu kandungnya.
"Tidak usah drama, saya tidak kasihan sama kamu meskipun air mata itu berubah menjadi darah," tegas Mama Sonia.
Azmia diam tak membalas.
__ADS_1
"Karena gue nggak suka basa-basi jadi kita ke intinya saja. Awalnya memang kesalahan gue, tapi harusnya lu itu ngelindungi gue sebagai saudara lu, tapi ini lu malah menghancurkan masa depan gue." Kini Rania yang angkat bicara.
"Maksud, Kak Nia?" tanya Azmia.
"Eh ... lu nggak perlu pura-pura bodoh ya. Pasti lu kan yang memberi tahu Mas Alby kalau gue paksa lu untuk bercerai dengan Mas Alby." Rania berkata sambil menunjuk ke arah Azmia.
"Tidak, bahkan Mia selalu berusaha menutupi semua itu. Mia pun tidak mengetahui jika Mas Alby tahu semuanya," balas Azmia berusaha membela diri karena memang dia tidak bersalah.
"Jangan bohong," ucap Mama Sonia dan Rania bersamaan.
"Mia, tidak berbohong. Mia, sudah melakukan apa yang Kakak minta. Sekarang Mia dan Mas Alby pun sudah bercerai seperti yang Kakak ingin," balas Azmia.
"Kalau lu tidak bercerita lantas dari mana Mas Alby bisa mengetahui semuanya. Lu, tahu karena ulah Lu, gue di marahin Mas Alby. Sekarang masa depan gue untuk bersamanya sirna," ujar Karina. Dia berkata seakan dia tidak sadar pada dirinya sendiri kalau semua itu terjadi karena berawal dari ulahnya sendiri.
"Mia, tidak tahu. Lagi pula sekarang Mia dan Mas Alby sudah tidak ada hubungan apapun, jadi Azmia sudah tidak peduli lagi dengan masalah Kakak dengan Mas Alby. Jika kakak sayang beneran dengan Mas Alby harusnya Kakak perjuangkan cinta Kakak dan buktikan pada Mas Alby bahwa cinta kakak tidaklah palsu," balas Azmia.
"Berani sekali lu ngajarin gue," kesal Rania.
"Lu, bener-bener ya, anak tak tahu terima kasih." Rania yang kesal tangannya sudah melayang ingin menampar pipi Azmia, tapi tiba-tiba ...
"Jangan!" teriak seseorang laki-laki berwajah tampan dengan pakaian rapi berjalan dengan gagahnya menghampiri Rania yang ingin melayangkan tangannya ke pipi Azmia.
Azmia yang tadi memejamkan mata karena melihat tangan Rania ingin menamparnya, kini dengan perlahan dia buka saat mendengar teriakan seseorang.
"Pak Ali," ucap Azmia. Dai begitu terkejut melihat Ali ada di rumah ini.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Ali pada Azmia.
Azmia menggeleng.
"Jangan pernah melakukan hal sekeji itu pada saudara, Anda sendiri," tegas Ali.
"Anda siapa berani sekali mencampuri urusan gue?" tanya Rania dengan tegas.
__ADS_1
"Anda tidak perlu tahu siapa saya, tapi yang jelas jangan pernah menyentuhnya, bahkan melukainya, jika itu terjadi Anda akan berurusan dengan saya. Ingat itu!" tegas Ali. Kemudian menggenggam erat tangan Azmia membawa Azmia keluar dari rumah itu.
"Masuklah!" ucap Ali setelah membukakan pintu mobil untuk Azmia.
Tanpa sepatah katapun Azmia pun masuk ke dalam mobil. Setelah Azmia masuk Ali juga masuk ke dalam mobil dari arah samping kemudian Ali melajukan mobilnya keluar dari rumah tersebut.
"Sial, siapa laki-laki itu? kenapa dia selalu saja di lindungi oleh orang-orang," kesal Rania.
**
Di dalam mobil Azmia masih saja terdiam dia masih syok dengan apa yang terjadi hari ini.
Ali juga bingung harus berkata apa, dia hanya sesekali melirik ke arah Azmia.
"Loh, Bapak mau membawa saya ke mana ini bukan jalan ke kampus," ucap Azmia saat sadar melihat jalanan berbeda dengan arah ke kampus.
"Tenang saja saya tidak akan menculik kamu," balas Ali. "Bisa nggak sih jangan panggil, Pak. Saya berasa tua sekali," lanjut Ali sambil tersenyum kecil.
"Maaf, lupa," balas Azmia.
"Turun!" Ali menyuruh Azmia turun.
"Bapak menyuruh saya turun di sini? Bapak tega, Mia pikir tadi Bapak beneran nyelametin Mia dari Mama dan Kakak," cerocos Azmia.
"Hust ... Azmia dengerin saya. Maksud saya kita sudah sampai di tempat tujuan," jelas Ali.
"Oh, hi." Azmia tersenyum kecil.
"Duh, nih anak bikin gemes banget," batin Ali.
***
Hai reader terima kasih ya selalu setia membaca cerita author. Semoga kalian sehat selalu lope lope buat kalian semua ♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️❤️♥️♥️♥️♥️❤️
__ADS_1