Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 196 Rumah sakit


__ADS_3

Pagi hari


"Mba Mia," panggil seseorang dari depan pintu ruangan Azmia.


"Iya, tunggu!" balas Azmia dari dalam. Azmia yang baru saja selesai melaksanakan sholat subuh langsung bergegas keluar kamar membuka pintu.


"Ada apa, Nov pagi-pagi ketuk pintu?" tanya Azmia.


"Maaf Mba itu si Nita, Mba, si Nita," ucap Novi karena panik.


"Kenapa dengan si Nita?" tanya Azmia mulai ikut panik.


"Itu si Nita demam tinggi, badannya menggigil bergemetar gitu, Mba," ujar Novi memberi tahu keadaan Nita -- salah satu karyawannya.


"Astaghfirullah, di mana dia sekarang?" tanya Azmia makin panik mendengar karyawannya ada yang sakit.


"Dikamar, Mba," jawab Novi.


"Yasudah ayo, cepat ke sana!" Azmia dan Novi langsung berlari menuju kamar Nita yang tak jauh dari ruangan Azmia.


Sesampainya di kamar Nita ternyata sudah ada para karyawan lainnya yang menunggu.


Azmia berjalan masuk menghampiri Nita yang berbaring di atas kasur.


"Nit, kamu kenapa?" tanya Azmia sambil menempelkan tangannya ke dahi Nita.


"Astaghfirullah, badan kamu panas sekali, Nit," ucap Azmia.


"Rudi, cepat siapkan mobil," teriak Azmia.


"Baik, Mba," balas Rudi yang memang sudah berada di depan kamar Nita. Rudi langsung berlari mengambil kunci mobil yang berada di laci kasir kemudian segera mengeluarkan mobil dari garasi.


Tak berselang lama Azmia bersama yang lain tiba di parkiran mobil. "Sabar ya, Nit kita ke rumah sakit ya," ucap Azmia sambil membantu Nita masuk ke dalam mobil.


"Nov, nitip cafe nanti bilangin ke Karina kalau saya pergi," pesan Azmia sebelum dia pergi.


"Baik, Mba," balas Novi.


"Ayo, Rud!" perintah Azmia.


"Siap, Mba," balas Rudi kemudian langsung tancap gas menuju rumah sakit.


Sekitar tiga puluh menit mereka tiba di rumah sakit karena jalanan masih sepi jadi mereka sampai lebih cepat.


Azmia keluar dari mobil berteriak memanggil suster agar segera membawa Nita masuk ke dalam rumah sakit.


"Tolong tunggu di luar ya, Mba!" ucap salah satu suster saat tiba di ruang IGD.


Azmia mengangguk kemudian duduk di kursi tunggu.


"Sejak kapan Nita demam?" tanya Azmia pada Rudi.


"Rudi juga kurang tahu Mba tadi selesai subuhan tiba-tiba Novi teriak-teriak pas saya lihat Nita sudah meringkuk," jawab Rudi.

__ADS_1


"Semoga dia baik-baik saja," ucap Azmia.


"Amin," balas Budi.


Tak lama kemudian keluarlah dokter dari ruang IGD. Azmia langsung berdiri dari duduknya saat mendengar pintu terbuka.


"Kak Diaz," ucap Azmia saat melihat dokter yang keluar dari IGD.


"Lho, Mi kamu ngapain disini?" tanya Ardiaz.


"Anggota keluarga dari pasien yang bernama Nita," jawab Azmia. "Bagaimana keadaan Nita, Kak?" tanya Azmia.


"Alhamdulillah dia baik-baik saja. Sekarang dia lagi istirahat setelah tadi di beri obat. Dia harus di rawat inap untuk beberapa hari hingga keadaannya pulih kembali," jawab Ardiaz.


"Alhamdulillah, baik, Dok. Apa Mia boleh melihatnya?" tanya Azmia.


"Boleh, tapi lebih baik biarkan dia istirahat nanti jika sudah di pindahkan ke ruang rawat inap baru kamu bisa lebih leluasa menemuinya," jelas Ardiaz. Karena kan ruang IGD itu tidak boleh keluar masuk, tidak seperti ruang rawat inap yang bebas.


"Mari ikut ke ruangan saya!" ucap Ardiaz.


"Baik, Dok," balas Azmia.


"Rud, kamu jagain Nita dulu ya. Oh, iya kamu bilang saja ke Nina shif pagi Pras suruh masuk ke cafe lovely supaya bisa gantiin kamu sementara," ucap Azmia sebelum pergi ke ruang dokter.


"Siap, Mba," balas Rudi.


Setelah memberi tahu Rudi. Azmia bersama Ardiaz berjalan menuju ruang Ardiaz.


"Pagi, Dok," sapa salah satu perawat.


Azmia jadi merasa kurang nyaman karena setiap perawat yang melihat tatapannya berbeda gitu agak sinis.


"Masuklah!" Ardiaz membukakan pintu menyuruh Azmia masuk ke dalam ruangannya.


"Terima kasih," ucap Azmia.


"Duduk, Mi!"


Ardiaz mempersilakan Azmia duduk.


"Kamu mau makan apa?" tanya Ardiaz.


"Makan?" Azmia balik bertanya karena bingung. Dia pikir di suruh ke ruangan Ardiaz ingin memberi tahu tentang keadaan Nita.


"Iya, temenin saya sarapan ya," ucap Ardiaz.


"Enggak menerima penolakan," lanjut Ardiaz.


"Baiklah." Azmia pasrah dengan keadaan.


"Kak Diaz pulang nganter Mia langsung tugas lagi?" tanya Azmia.


"Iya, ada teman yang nggak masuk jadi suruh gantiin," jawab Ardiaz.

__ADS_1


Ardiaz duduk di kursi bersandar di kursinya karena merasa lelah dia memejamkan matanya sebentar sambil menunggu makanan tiba.


Kak Diaz pasti lelah banget, kemarin selesai tugas bantuin aku, setelah itu tugas lagi, batin Azmia yang melihat Ardiaz memejamkan mata. Dari pada berdiam diri Azmia mengambil ponselnya kemudian memberi kabar pada Karina.


"Permisi, Dokter," ucap seseorang di depan pintu.


Mendengar ada suara seseorang Azmia berdiri dari duduknya kemudian membuka pintu.


"Iya, Pak," balas Azmia saat pintu terbuka terlihat seorang laki-laki dengan pakaian OB membawa bingkisan di tangannya.


"Maaf, Mba. Dokter Ardiaznya ada?" tanya OB tersebut.


"Ada, Pak," jawab Azmia.


"Berikan saja padanya, Pak Ul," sahut Ardiaz dari dalam.


"Baik, Dok," balas OB kemudian memberikan dua kantong plastik pada Azmia.


"Terima kasih, Pak," ucap Azmia sambil menerima dua kantong plastik tersebut.


"Sama-sama, Mba kalau begitu saya permisi dulu," pamit OB.


Setelah OB pergi Azmia menutup pintu kemudian berjalan masuk. "Nih, Kak," ucap Azmia sambil menaruh kantong plastik di atas meja. Azmia membuka plastik tersebut satu plastik berisi dua kotak bubur, satu lagi berisi dua gelas teh hangat.


"Baru kali ini makan di rumah sakit di temenin cewek. Mungkin kalau punya istri begini kali ya," lirih Ardiaz sambil memasukkan sesendok bubur ke dalam mulutnya.


Azmia jadi tersedak saat mendengar ocehan Ardiaz.


"Kamu kenapa, Mi? makannya pelan-pelan saja," ujar Ardiaz sambil memberikan minum.


"Tidak apa, Kak. Terima kasih." Azmia menerima minum tersebut. Kemudian melanjutkan makannya hingga habis tak tersisa.


Selesai makan Azmia merapikan meja, memasukkan kembali bekas makan dan minum ke dalam plastik.


"Mia ke IGD saja ya, Kak Diaz pasti capek," ucap Azmia setelah kembali duduk di kursi depan Ardiaz.


"Kalau di temenin kamu rasa capek itu seketika langsung hilang," balas Ardiaz.


"Gombal," ucap Azmia.


"Hahaha. Kamu baru bangun tidur ya, Mi?" tanya Ardiaz.


"Iya, apa ada yang aneh?" Azmia balik bertanya sambil mengusap-usap wajahnya takut ada belek atau sesuatu di wajahnya.


"Enggak ada apa-apa. Tetap cantik meskipun bangun tidur," ucap Ardiaz dengan tersenyum manis.


"Memang Mia cantik dari lahir," balas Azmia.


"Nyesel saya bilang begitu," ucap Ardiaz.


"Hehehe, makanya pagi-pagi jangan gombalin orang," balas Azmia dengan tertawa kecil.


Ardiaz juga ikut tertawa.

__ADS_1


Sungguh indahnya ciptaan-MU Tuhan, batin Ardiaz.


__ADS_2