Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 375 Pesan Nila


__ADS_3

  Selesai mengadzani putrinya Alby kembali ke ruang UGD untuk melihat keadaan istrinya.


  "Bagaimana keadaan si baby, Al?" tanya Bunda Rita saat melihat kedatangan Alby.


  "Alhamdulillah sehat, Bun. Dia sangat cantik seperti Ibunya," jawab Alby dengan lirih. Dia teringat keadaan Nila yang kini memprihatinkan karena belum juga sadar.


  "Kamu harus tegar demi Putrimu." Bunda berkata sambil memegang bahu Alby memberikan kekuatan pada putranya.


 "Iya, Bun." Alby menganggukkan kepalanya.


 "Kamu, kapan sampai di sini, Dek?" tanya Alby.


 "Sepuluh menit yang lalu, Mas," jawab Azmia.


Saat mereka sedang berbincang-bincang tiba-tiba pintu ruang UGD terbuka.


  Mendengar pintu terbuka semua langsung berdiri dari duduknya menghampiri Dokter yang keluar dari ruangan.


  "Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Alby.


 "Siapa yang Azmia?" Dokter bukannya menjawab pertanyaan Alby, beliau malah balik bertanya.


 "Saya, Dok," jawab Azmia sambil berjalan sedikit kedepan.


 "Mari ikut saya!" Dokter meminta agar Azmia mengikutinya.


Azmia mengikuti Dokter masuk ke dalam ruang UGD.


  "Kalau saya boleh tahu, kenapa dokter memanggil saya?" tanya Azmia.


  "Begini, Bu. Tadi setelah menjalankan operasi Ibu Nila selalu menyebut nama Azmia terus menerus. Biasanya jika pasien memanggil nama seseorang ada yang ingin dia sampaikan kepada orang tersebut," jelas Dokter.


  "Ibu Azmia pakai itu dulu ya sebelum melihat pasien." Dokter menyuruh Azmia memakai pakaian yang di sediakan rumah sakit. (Baju yang warna biru itu lho ya reader pasti taulah ya🤭)


 Azmia pun mengikuti arahan dokter. Setelah memakai pakaian rumah sakit Azmia menghampiri dokter.


  "Mari!" ucap Dokter.


Azmia mengangguk kemudian mengikuti langkah dokter.


  "Astaghfirullah," lirih Azmia sambil menutup mulutnya. Dia begitu terkejut saat melihat keadaan Nila dengan perlahan Azmia mendekat ke arah Nila. "Assalamualaikum, Mba Nila ini Mia. Maaf Mia baru sempat menjenguk, Mba Nila cepat sembuh ya, Mba Nila harus bangun ada peri cantik yang menunggu Mba Nila," ucap Azmia sambil memegang tangan Nila tak terasa air matanya jatuh begitu saja.

__ADS_1


 "Mia yakin Mba Nila pasti sembuh sekarang Mba Nila bangun ya, supaya Mba Nila bisa melihat peri cantik." Azmia terus saja berbicara, sesekali dia menghapus airmatanya yang terus mengalir. Meskipun Nila kejam padanya, tapi saat melihat Nila terbaring tak berdaya dia begitu sedih.


 Saat Azmia ingin berbicara kembali tiba-tiba dia melihat mata Nila mengeluarkan air mata.


 "Dokter, Mba Nila menangis." Azmia memberi tahu Dokter.


  Mendengar ucapan Azmia Dokter langsung mendekat ke samping Nila lalu memeriksa keadaan Nila. "Alhamdulillah, kondisi Bu Nila kini semakin membaik. Semoga Bu Nila segera siuman," ucap Dokter. Dia tak menyangka kedatangan Azmia bisa membuat keadaan Nila tiba-tiba ada kemajuan.


  "Alhamdulillah, ya Allah." Azmia bersyukur karena Nila bisa merespon apa yang dia ucapkan. Kini dia juga berharap semoga Nila cepat bangun dari tidurnya.


 Azmia duduk di kursi samping brankar. Dia terus menggenggam tangan Nila dan mengajaknya mengobrol.


Beberapa saat kemudian Nila mulai merespon kembali dengan menggerakkan tangannya. Azmia yang merasakan itu langsung memencet tombol memanggil dokter.


 Tak berselang lama dokter datang. "Dok, Kakak saya menggerakkan tangannya," ucap Azmia.


 Dokter kembali memeriksa keadaan Nila dan hasilnya semakin membaik.


 Saat dokter ingin keluar dari ruangan tiba-tiba Azmia berteriak memanggil namanya lagi. "Dokter, lihatlah Mba Nila siuman," teriak Azmia. Azmia menangis bahagia melihat Nila perlahan membuka matanya.


 Mendengar teriakkan Azmia dokter menghentikan langkahnya kemudian berbalik badan berjalan menghampiri Nila.


 "Mi - Mi - Mia," lirih Nila dengan terbata-bata.


 "Bu Nila apa kepalanya masih sakit?" tanya Dokter.


 Nila hanya membalas dengan gelengan kepala.


 "Apa ini sakit, ini ...?" tanya Dokter.


  Lagi-lagi Nila hanya menggelengkan kepalanya.


 "Dimana, Mas Alby?" tanya Nila.


 "Mas Alby ada di luar ruangan, Mba. Sebentar biar Mia panggilkan," ucap Azmia.


 "Bu Mia di sini saja, biar saya yang memanggil Pak Alby," ujar suster.


 "Baik, Sus," balas Azmia.


 Tak lama kemudian Alby bersama Bunda berjalan menghampiri Azmia dan Nila.

__ADS_1


 "Sayang," ucap Alby sambil mencium kening Nila.


 "Mas, di mana putri kita?" tanya Nila.


 "Ini putri Ibu." Salah satu perawat datang dengan membawa anak Nila kemudian memberikannya pada Alby.


  "Sayang lihatlah putri kita cantik sekali sepertimu," ucap Alby sambil mendekatkan anaknya pada Nila.


 "Iya, Mas, dia sangat cantik," balas Nila dengan nada yang masih lemah.


  "Mia," panggil Nila.


"Iya, Mba. Mia ada di sini." Azmia mendekat ke samping Nila.


 "Mi, tolong maafkan aku yang banyak salah padamu. Maaf, karena sering melukai hatimu. Aku iri padamu, aku cemburu padamu. Kamu bisa memiliki semuanya sementara aku tak mampu apapun untuk mendapatkan ketulusan cinta Mas Alby aja itu sangat sulit. Mas Alby memang mencintai ku, tapi ketulusan cintanya hanya untukmu. Kamu memang pantas mendapatkan cinta, kamu orang baik, wanita yang luar biasa. Mi, sebelum aku pergi aku ingin menitipkan putriku padamu, aku yakin kamu bisa memberikan kasih sayang yang tulus padanya. Jika suatu saat nanti Mas Alby menikah lagi biarkan putriku tetap bersama mu, Mi. Aku akan pergi dengan tenang saat putriku bersamamu. Maafkan aku sudah merepotkan mu," ucap Nila dengan derai airmata.


  "Mba Nila nggak boleh bicara seperti itu. Mia yakin Mba Nila pasti sembuh, kita akan membesarkan peri cantik bersama-sama." Azmia berkata dengan derai air mata yang terus mengalir deras.


  Nila hanya tersenyum kearah Azmia.


  "Mas, maafkan aku jika selama ini belum bisa menjadi istri yang baik. Mas, nggak boleh sedih karena kepergian ku bukan akhir dari segalanya. Mas harus bangkit kembali, membuka lembaran baru lagi." Nila mencoba untuk tersenyum meskipun dalam hatinya sakit sekali.


  "Kamu nggak boleh ninggalin, Mas. Kamu harus kuat demi putri kita, sayang," ucap Alby.


 Nila hanya tersenyum.


Kini berganti dia memanggil putrinya.


"Putri Mama sayang, anak cantik harus pinter ya tinggal bersama Bunda Mia. Mama bahagia sekali bisa melahirkan kamu. Maafkan Mama harus pergi meninggalkan kamu, tapi kamu tenang saja Mama akan selalu ada di sampingmu anak Sholehah," ucap Nila sambil mengelus lembut putrinya yang kini berada di pelukannya.


Setelah berbicara dengan anaknya Nila berganti mengarah ke mertuanya.


"Bunda," panggil Nila.


"Iya, Nak," balas Bunda.


"Bunda, maafin Nila ya jika selama menjadi menantu sering mengecewakan Bunda, melukai hati Bunda. Tolong sampaikan permintaan maaf Nila pada Ayah juga. Semoga Bunda bisa menerima kehadiran putri Nila dalam keluarga Bunda," ujar Nila.


"Kamu harus kuat, Nak. Bunda yakin kamu pasti sembuh," balas Bunda.


Nila tersenyum dan mengangguk kepalanya.

__ADS_1


Memandangi wajah setiap orang ada yang berada di dekatnya. Orang-orang yang selalu menyayanginya meskipun sering dia lukai. Penyesalan yang begitu dalam kini dia rasakan, tapi dia sangat-sangat bersyukur karena sebelum Allah memanggilnya kembali dia di berikan kesempatan untuk meminta maaf.


__ADS_2