Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 254 Sindiran Angga


__ADS_3

Sore hari setelah selesai kelas Azmia dan Karina pergi ke sebuah Mall yang letaknya tak jauh dari kampus.


"Kira mau nyore apa gimana nih?" tanya Karina.


"Iya, Bang Angga ngajakin kita makan bareng di restoran," jawab Azmia.


"Oh, jadi kita mau di traktir nih sama Bang Angga?" tanya Karina karena tadi Azmia hanya bilang ngajak main aja ke Mall X.


"Iya," jawab Azmia.


Tak butuh waktu lama kini mereka sudah tiba di lokasi. Setelah memarkirkan mobilnya Azmia dan Karina masuk ke dalam Mall menuju restoran yang berada di lantai dua pojok sebelah kanan.


"Assalamualaikum," ucap Azmia saat tiba di samping Angga.


"Wa'alaikumussalam," balas Angga.


"Abang udah lama nunggunya?" tanya Azmia.


"Enggak juga, duduk!" Angga mempersilakan Azmia dan Karina duduk.


Azmia dan Karina pun duduk bergabung dengan Angga.


"Kalian baru pulang kuliah langsung ke sini?" tanya Angga terlihat dari penampilan mereka berdua.


"Iya, Bang. Abang kapan pulang?" tanya Karina.


"Tiga hari yang lalu," jawab Angga.


Sambil menunggu pesanan datang mereka mengobrol, cerita, bercanda bersama.


Namun, tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampiri mereka.


"Selamat sore," sapa seseorang yang baru datang.


Angga, Azmia dan Karina yang sedang asyik mengobrol saat mendengar suara seseorang mereka pun langsung menghentikan obrolannya kemudian menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


"Selamat sore juga, Dokter Diaz," balas Angga.


"Kak Dias," sambung Azmia dan Karina.


Azmia yang melihat kedatangan Ardiaz dalam hati ada rasa tidak nyaman, was-was juga takut Angga berbuat sesuatu yang tidak di inginkan.


"Boleh gabung?" tanya Ardiaz.


"Boleh silakan!" Angga mempersilakan Ardiaz untuk ikut bergabung bersama mereka.


"Terima kasih." Ardiaz duduk tepat berhadapan dengan Azmia.


"Apa kabar, Pak Angga?" tanya Ardiaz membuka obrolan.


"Alhamdulillah, seperti yang Anda lihat," jawab Angga.


"Bagaimana kabar kamu, Mi? lama kita tidak pernah bertemu." Ardiaz ganti bertanya pada Azmia.


"Alhamdulillah Mia baik, Kak," jawab Azmia.


"Alhamdulillah berkat pertolongan kamu Mama sekarang sudah sehat kembali," jawab Ardiaz.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Azmia.


"Dokter Ardiaz ingin pesan apa?" tanya Angga.


"Samain aja, Pak," jawab Ardiaz.


Angga pun memanggil weitress.


"Oh, iya bagaimana kabar pak Irwan apa beliau baik-baik saja?" tanya Angga.


"Alhamdulillah, Pak. Papa baik," jawab Ardiaz.


"Bagus deh, Saya kira kena serangan jantung dadakan kemarin," ucap Angga dengan nada yang sedikit sinis.

__ADS_1


Angga terdiam dia merasa heran dengan ucapan Angga yang berpikir kalau papanya kena penyakit jantung.


Azmia yang melihat suasana mulai sedikit panas ia pun langsung mengalihkan pembicaraan.


"Alhamdulillah, makanan sudah datang, mari kita makan terlebih dahulu nanti kita lanjut lagi ngobrolnya," ucap Azmia. Untung saja weitress datang tepat saat dia ingin mengalihkan pembicaraan jadi dia langsung dapat kata-kata yang tepat.


"Terima kasih, Mba," ucap Azmia setelah makan tersaji di meja.


"Sama-sama, Kak. Selamat menikmati." Setelah menyajikan semua makan di meja weitress kembali ke dapur mengambil pesanan yang lain.


"Dek, jangan makan terlalu pedas," ucap Angga saat melihat Azmia menuangkan saus dan sambel ke dalam mangkoknya.


"Iya, Abang," balas Azmia.


Mereka pun mulai menikmati makanan masing-masing, tapi ada yang berbeda dengan Ardiaz dia hanya mengaduk-aduk makanannya, entah apa yang dia pikirkan hingga tak berselera makan.


"Makanannya kenapa hanya di aduk-aduk saja, Kak?" tanya Azmia saat melihat makanan Ardiaz tak berkurang sedikitpun.


"Ah, tidak apa," jawab Ardiaz kemudian langsung memasukkan sesendok makanan ke dalam mulutnya karena tak ingin Azmia berpikir yang aneh-aneh.


"Tidak perlu di pikirin, Dok santai saja. Memang tidak semua yang kita lihat biasa-biasa saja, tapi ternyata dia luar biasa. Kita itu hanya manusia biasa tidak bisa menilai seseorang dari sisi luarnya saja," ucap Angga.


"Pak Angga benar sekali. Memang kesalahan terbesar di saat kita menilai seseorang hanya dari segi yang kita lihat saja tanpa mengetahui sisi dalamnya," balas Ardiaz. Ardiaz yang mulai paham dengan apa yang dia ucapkan Angga.


"Abang," panggil Azmia sambil menggelengkan kepalanya memberikan kode pada Angga agar menghentikan obrolannya yang menyindir Ardiaz.


"Apa sih, Dek," ucap Angga sambil mencubit gemas pipi Azmia. Dia paham apa yang di ucapkan Azmia, tapi dia juga tidak bisa menahan rasa kesalnya pada keluarga Irawan.


"Sakit, Abang," keluh Azmia sambil memegang tangan Angga agar melepaskan cubitannya.


"Pak Angga dekat sekali ya dengan Azmia," ucap Ardiaz.


"Iya, Dok. Azmia itu bagaikan peri kecil dalam hidup saya. Jadi siapapun yang berani menyakitinya bakal berhadapan dengan saya," tegas Angga.


Ardiaz terdiam tanpa kata.

__ADS_1


__ADS_2