
Sore hari
Azmia mengajak Mbok Asih dan Mang Udin untuk pergi ke mall Azmia ingin membelikan baju baru pada Mbok Asih dan Mang Udin.
"Mbok Asih sama Mang Udin silakan pilih baju yang kalian suka, Mia dan Mas Ali tunggu di situ ya," ucap Azmia sambil menunjuk ke arah kursi untuk para pengunjung mall yang letaknya tak jauh dari kasir.
"Baik, Non," balas Mbok Asih.
"Kamu nggak sekalian beli, Dek?" tanya Ali.
"Pakaian Mia sudah banyak, Mas," jawab Azmia.
"Tapi ini beda, Dek," ucap Ali.
"Beda apanya?" tanya Azmia.
"Ya beda kan kalau beli sekarang Mas yang beliin," jawab Ali.
"Ah ... sama saja," ucap Azmia.
Dari kejauhan tampak seseorang sedang melihat ke akraban Ali dan Azmia.
Siapa laki-laki itu ya, apa dia kekasih Azmia? samperin nggak ya, batinnya. Karena rasa penasarannya lebih tinggi dari pada keraguannya, akhirnya dia pun dengan perlahan melangkah menghampiri Azmia.
__ADS_1
"Hai ... Mi," sapanya.
"Kak Ardiaz," balas Azmia.
"Bagaimana kabarmu? lama kita nggak ketemu," ucap Ardiaz. Mereka bertemu terakhir kalinya saat Azmia bersama Angga setelah itu mereka tak pernah berjumpa lagi.
"Alhamdulillah baik," balas Azmia.
"Kakak sendiri?" tanya Azmia.
"Tidak," jawab Ardiaz.
"Terus?"
"Teman sedang milih-milih pakaian," balas Ardiaz sambil menunjuk ke arah pakaian laki-laki.
"Ali," ucap Ali sambil mengulurkan tangannya. Ardiaz pun menerima uluran tangan Ali.
Ardiaz menatap ke arah Azmia dengan tatapan seakan bertanya siapa dia.
Ali yang paham dengan tatapan Ardiaz, ia pun langsung memperkenalkan dirinya.
"Saya calon suami Azmia," ucap Ali.
__ADS_1
Azmia langsung melotot ke arah Ali bisa-bisanya kakaknya berkata seperti itu.
"Oh." Rasa penasarannya kini terjawab sudah ya meskipun jawabnya tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.
"Boleh bicara dengan Azmia sebentar, Kak?" Ardiaz meminta izin pada Ali untuk berbicara empat mata pada Azmia.
"Silakan, tapi jangan lama-lama karena tak baik ngobrol sama calon istri orang," jawab Ali.
Setelah mendapat ijin dari Ali. Ardiaz mengajak Azmia untuk keluar toko baju menuju restoran terdekat.
"Mba jus jeruk dua ya," ucap Ardiaz memesan minum untuk menemani ngobrol mereka.
"Apa ada sesuatu yang ingin, Kakak sampaikan?" tanya Azmia.
"Saya hanya ingin minta maaf atas semua kesalahan orang tua saya," ucap Ardiaz membuka obrolan.
"Saya sudah tahu semuanya, Mi. Saya jadi merasa malu dengan sikap orang tua ku yang seperti itu. Saya nggak menyangka mereka bisa berbuat seperti itu padamu," lanjut Ardiaz.
"Mia sudah memaafkannya, Kak. Semua itu tidak perlu di bahas lagi, Mia sudah melupakan semuanya," balas Azmia dengan tersenyum manis.
"Terima kasih ya, Mi. Semoga Allah selalu memberikan kebahagiaan untukmu dan semoga hubungan kamu dengan calon suami langgeng sampai maut memisahkan kalian," ujar Ardiaz.
"Amin, doa terbaik juga untuk Kakak," balas Azmia.
__ADS_1
"Terima kasih, kamu memang wanita terbaik yang pernah saya kenal sampai kapanpun saya tidak akan pernah melupakan mu. Kebahagiaan mu adalah kebahagiaan ku juga, Saya bersyukur karena Allah pernah mempertemukan kita. Ada satu hal yang perlu kamu ingat sampai matipun hatiku akan selalu ada untukmu," ujar Ardiaz.
Azmia terdiam, dia bingung harus berkata apa. Bohong salah, jujur takut salah juga.