
Perjuangan untuk sampai di titik yang sekarang. Kini satu tahun sudah Azmia berjuang menjadi sosok ibu sambung bagi Alnia.
Di bawah asuhan Azmia dan Revan, kini Alnia tumbuh dengan sehat, setiap hari semakin pandai. Tepat di usia satu tahun baby Alnia sudah bisa berjalan, meski masih setapak dua tapak.
Hari ini adalah hari yang paling bahagia bagi keluarga Azmia dan Revan karena hari ini meraka akan merayakan ulang tahun peri kecil Mereka.
Azmia dan Revan sejak semalam sudah menghias ruang tamu dengan berbagai macam aksesoris ulang tahun.
**
Pagi hari
Azmia dan Revan melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai yaitu menyulap ruang tamu.
"Enggak terasa ya, kini Alnia sudah satu tahun," ucap Revan.
"Iya, Ay," balas Azmia.
"Unda." Alnia berjalan menghampiri Azmia yang masih sibuk menyiapkan untuk acara.
"Sayang, anak Sholehah Bunda sudah bangun." Azmia mencium pipi Alnia.
"Anak cantik sama Mbok Asih dulu ya. Bunda selesaikan ini dulu." Azmia berkata dengan sangat lembut supaya Alnia mengerti apa yang ia ucapkan.
"Nia sama Si Mbok ya." Mbok Asih menggandeng tangan Alnia berjalan meninggalkan Azmia.
__ADS_1
*
*
*
Di tempat lain
Selesai meeting Alby kembali ke ruangannya bersama Daffa.
"Al, Lu datang jam berapa?" tanya Daffa.
"Nanti malam saja," jawab Alby.
"Oh, iya nanti jam istirahat kita makan di luar saja sekalian gue ingin cari kado buat Alnia," ujar Alby.
"Tak terasa kini Alnia sudah berusia satu tahun. Satu tahun pula Nila pergi." Alby terbayang kembali wajah Nila. Kepergian memang meninggalkan luka mendalam bagi Alby hingga membuatnya masih bertahan sendiri.
"Iya, satu tahun juga, Lu menduda," sambung Daffa.
"Sue, Lu."
"Hahaha. Sudah setahun, Al. Memangnya, Lu nggak mau cari pendamping lagi?" Bukan mendesak Alby agar cepat menikah, tapi Daffa hanya kasihan karena semenjak kepergian Nila, Alby suka melamun.
"Masalah itu, gue udah pasrah saja sama Allah. Jika memang Allah ridho, gue nikah lagi ya semoga saja Allah kirimkan pendamping hidup buat gue untuk yang terakhir kalinya," jawab Alby. Lelah berjuang tidak. Trauma dengan kejadian tentu tidak juga, karena setiap apa yang terjadi kan sudah ketentuan Allah.
__ADS_1
Alby hanya berharap untuk pernikahan ketiganya biarlah Allah yang memilih dan mengirimkan pasangan baginya. (Yang pertama di jodohkan, yang kedua pilihan hatinya)
"Amin. Semoga secepatnya biar, lu nggak sendirian terus." Daffa mengaminkan doa serta mendoakan sahabatnya.
"Amin." Doa yang baik maka harus di aminkan.
*
*
*
Kembali ke rumah Revan.
Tepat pukul sepuluh pagi Bunda Rita dan Mba Lasmi tiba di kediaman Revan. Beliau sengaja datang pagi supaya bisa membantu menyiapkan segalanya.
Tak kalah dengan besannya kini Mama Iren dan Papa Ari juga tiba di rumah putrinya. Sedangkan Ali masih ada pekerjaan di kampus.
Para orang tua datang pastinya tidak dengan tangan kosonglah ya. Bunda Rita membawa dua paper bag. Sedangkan Mama Iren membawa satu kotak yang lumayan besar.
"Sayang, apa kue tart nya sudah pesan?" tanya Mama Iren.
"Sudah, Ma. Nanti jam satu di anterin," jawab Azmia.
"Untuk makanan gimana?"
__ADS_1
"Mama tenang saja, soal makanan semua sudah di atur Nina dan Pras. Lagi pula ini kan acara sederhana jadi tidak terlalu repot, Ma," ujar Azmia.
Azmia memang membuat acara merayakan hari ulang tahun Alnia, tapi acaranya tidak seperti orang-orang yang lain. Azmia hanya membuat acara sederhana yang di hadiri para sanak saudara serta sahabat dan orang-orang terdekat Azmia serta Revan.