
"Hari ini pulanglah ke rumah," ucap Alby membuka suara. Kini mereka sudah duduk di kursi yang berada di dalam area taman.
"Apa, Mas Alby sudah memutuskan tentang hubungan kita?" tanya Azmia. Dia tidak ingin terluka terlalu dalam.
"Mia, plis beri aku waktu untuk memutuskan semuanya," pinta Alby dengan nada memohon.
"Mas, bukankah Mia sudah memberikan waktu ini sudah hampir satu bulan kita berpisah agar saling introspeksi diri, tapi ternyata waktu itu bukan Mas pergunakan untuk menyadari kesalahan, akan tetapi Mas gunakan bersenang-senang dengan dia." Azmia begitu kecewa dengan Alby.
"Maafkan saya, tapi saya tidak bisa secepat itu untuk memutuskan Elvina, kasihan dia hidup tanpa kasih sayang orang tua karena mereka sibuk dengan pekerjaannya jadi saya harus dengan perlahan mengakhiri semuanya," jelas Alby.
"Kamu bisa memikirkan perasaannya, tapi tidak bisa memikirkan perasaan ku, Mas." Azmia tersenyum getir.
"Bukan begitu, Mia. Apa kamu memang menginginkan perpisahan agar bisa bersama laki-laki itu," ucap Alby dengan nada sedikit tinggi.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Mas. Mia dan Dia tidak seperti yang kamu pikirkan," balas Azmia. "Jangan menuduh orang jika tidak memiliki bukti," lanjut Azmia. Suaminya itu memang menyebalkan dia yang selingkuh, tapi yang menuduh orang sembarangan.
"Bukti." Alby tertawa mengejek. "Kalian bermesraan di depan ku masih bilang nggak ada bukti," ucap Alby karena waktu itu dia melihat Azmia dan Angga bercanda gurau bersama saat berada di kafe. Tidak semua kebersamaan seseorang itu bisa artikan sebagai pasangan kekasih bisa saja mereka bersahabat atau saudara.
"Namun, Aku tidak seperti yang kamu pikirkan, Mas. Bang Angga adalah sepupu Kak Rania," jelas Azmia. Dia tidak ingin ada kesalahpahaman.
"Oh, tapi kalian bukanlah saudara kandung jadi bisa saja kalian memiliki hubungan khusus," ucap Alby. Dia tetap tidak percaya dengan Azmia.
__ADS_1
"Percuma juga Mia kasih tahu jika Mas Alby tidak percaya. Biarlah waktu yang menjawab semuanya." Azmia hanya bisa pasrah biar Allah yang memberi tahu Alby. Berdebat dengan Alby hanya buang tenaga tidak akan menang.
Azmia hendak berdiri dari duduknya, tapi Alby menahannya.
"Pulanglah, ku mohon. Meskipun kita tidak satu kamar yang penting aku bisa melihat mu setiap hari." Baginya Azmia adalah pengobat lelah untuknya. Alby memegang ke dua tangan Azmia seraya menatap ke arah istrinya.
(Tadi aja marah-marah nuduh nggak jelas sekarang mohon-mohon se enak jidatnya) author jadi kesel sendiri.
"Mas jangan seperti ini malu di lihat orang." Azmia hendak melepaskan genggaman tangan Alby, tapi Alby memegangnya dengan erat.
"Aku nggak akan lepaskan, kalau kamu tidak pulang bersamaku," tegas Alby.
*
*
*
Ditempat lain dua wanita yang sedang mencari seseorang yang telah hilang tak entah kemana.
Ya siapa lagi kalau bukan Melia dan Karina. Kini mereka berdua kelimpungan mencari Azmia. Mereka berkeliling toko yang ada di mall, tapi tetap tidak menemukan Azmia.
__ADS_1
"Rin, beli minum dulu yuk, haus!" Melia yang kelelahan sudah tak sanggup lagi untuk berjalan, hampir satu jam mereka berkeliling mall.
"Mba, es coklatnya dua," ucap Karina pada penjual es boba.
"Siap, Mba," balas penjual.
Ditempat yang sama seorang wanita telah kesal karena di tinggal kekasihnya begitu saja tanpa ucapan dan kata.
"Kamu dimana, Al?" tanyanya lewat sambungan telepon.
"................"
"Ah, baiklah." Dia mengakhiri panggilan kemudian berjalan keluar toko dengan malas karena dia harus pulang naik taksi untung saja dia bawa uang cash.
*
*
*
******
__ADS_1