Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 147 Keceplosan


__ADS_3

"Stop!" teriak seseorang yang baru saja tiba.


"Bang Angga," ucap Rania.


"Pak Angga," sambung Nisa. Azmia sengaja memanggil dengan sebutan Pak agar Rania tidak curiga dengan dirinya.


"Kamu apa-apaan sih, Nia," omel Angga.


"Nia nggak suka saja sama dia," ucap Rania dengan nada yang tinggi sambil menunjuk ke arah Azmia (Nisa).


"Kalau kamu punya masalah pribadi jangan di bawa-bawa ke sini. Ini cafe bukan lapangan. Kamu nggak malu jadi tontonan banyak orang." Angga mengarahkan pandangannya sekeliling ruangan.


"Abang kenapa jadi belain dia sih. Nia, ini sepupu, Abang," ujar Rania.


"Iya Abang tahu, tapi Nisa itu karyawan Abang. Kalau kamu ada masalah pribadi sama dia tolong selesaikan secara baik-baik, secara kekeluargaan di rumah bukan di tempat umum seperti ini." Angga sedikit menaikkan suaranya dia benar-benar marah dengan kelakuan Rania. Angga tak ingin memihak siapapun karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, jadi Angga menengahi saja.

__ADS_1


"Terserah Abang saja, Nia kecewa sama Abang," ucap Rania kemudian berdiri dari duduknya melangkahkan kaki keluar cafe. Rania pergi begitu saja meninggalkan para sahabatnya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Angga pada Azmia.


"Nisa baik-baik saja, Bang," jawab Nisa. (Azmia)


"Masuklah!" Angga menyuruh Azmia masuk ke dalam ruangan.


Azmia mengangguk kemudian berjalan masuk kedalam menuju ruangannya di ikuti Angga dari belakang.


Azmia mengangguk sebagai jawaban. Sesampainya di balkon -- ruangan terbuka di lantai tiga. Balkon paling atas biasanya untuk nongkrong para karyawan saat ngumpul bareng.


"Duduklah!" Angga menyuruh Azmia duduk di ayunan yang berada di balkon.


Azmia pun menurut apa kata Angga dia duduk di ayunan berhadapan dengan Angga.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dengan Kakakmu itu?" Angga membuka obrolan menanyakan tentang masalah apa yang terjadi pada kedua sepupunya itu.


"Mia, juga nggak ngerti dengan Kak Rania. Mia, nggak merasa punya masalah sama dia. Masa hanya karena Mia ngobrol bareng sama Bunda dan Ayah saat itu tiba-tiba tadi dia marah bilang Mia cari muka di depan Bunda. Kak Nia berpikir kalau Mia akan merebut Mas Alby darinya. Mia nggak punya pikiran seperti itu, Bang. Jika Mia ingin merebut Mas Alby, untuk apa Mia melakukan ini semua. Mia juga sudah melakukan gugatan pada Mas Alby. Mia sengaja menyamar berpenampilan seperti ini supaya tidak berurusan lagi dengan Kakak, tapi ternyata Kakak nggak berubah sama aja seperti itu." Azmia menjelaskan dengan jujur tentang apa yang terjadi sebenarnya tanpa sadar Azmia keceplosan tentang gugatannya.


Azmia merasa kecewa sekali dengan sikap Rania yang selalu saja ingin menang sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain.


"Kamu tadi bilang apa, Dek? gugatan cerai, kamu sama Alby bercerai?" tanya Angga memastikan ucapan Azmia.


"Astaghfirullah." Azmia langsung memukul mulutnya kenapa dia bisa keceplosan.


"Kenapa tidak menjawab pertanyaan Abang?" tanya Angga dengan tegas.


"Hem ... itu ...." Azmia tak bisa mengucapkan kata-kata dia belum siap bercinta dengan Angga. Azmia hanya menganggukkan kepalanya.


"Kenapa kamu tidak pernah bilang pada Abang? Apa yang terjadi sehingga membuat mu melakukan hal yang di benci oleh Allah." Angga menatap tajam ke arah Azmia.

__ADS_1


Azmia yang belum bisa menceritakan semuanya dia memilih untuk menundukkan kepalanya.


__ADS_2