
Di kampus.
Karina dan Melia begitu gelisah karena Azmia tak kunjung datang padahal sebentar lagi dosen masuk.
"Rin, Azmia kemana sih?" tanya Melia.
"Aku, juga nggak tahu, Mel. Mana telponnya nggak aktif," jawab Karina dari tadi mereka mencoba menelpon Azmia, tapi Mba operator terus yang jawab.
"Kagak biasa-biasanya nih anak kayak gini," ujar Melia.
"Iya, bikin kita khawatir saja," sambung Karina.
"Nanti pulang kuliah kita langsung ke cafe saja gimana?" tanya Melia.
"Ok, siap," jawab Karina.
***
"Kenapa kita ke sini?" tanya Azmia bingung.
"Supaya kamu bisa menenangkan diri, tenang saja Saya nggak akan macam-macam," jelas Ali. "Mau turun nggak?" tanya Ali.
Azmia mengangguk kemudian membuka pintu keluar mobil. Ali mengajak Azmia untuk duduk di kursi.
Kini mereka berdua berada di sebuah taman. Ali sengaja membawa Azmia ke taman karena udaranya yang sejuk mungkin bisa membantu menenangkan pikiran dan hatinya.
"Apa, Bapak sering kesini?" tanya Azmia.
"Kadang, kalau ingin sendiri," jawab Ali.
"Kenapa, Bapak suka dengan tempat ini biasanya kalau laki-laki lebih suka ke tempat __ seperti itu," ucap Azmia.
"Bapak lagi Bapak," lirih Ali.
"Maaf," balas Azmia. Meskipun ucapan Ali begitu pelan tapi Azmia mendengarnya.
__ADS_1
"Saat Saya masih kecil Mama selalu mengajak saya ke sini. Makanya saya lebih suka ke sini," jelas Ali.
"Oh, Mia sangat berterima kasih karena Mas Al sudah bantuin Mia keluar dari rumah itu," ucap Azmia.
"Iya. Kalau boleh tau memangnya siapa mereka?" tanya Ali yang penasaran meskipun dia sudah mendengar obrolan tadi, tapi dia masih penasaran.
"Mereka adalah keluarga angkat Mia. Mama Sonia beliau adalah Ibu angkat Mia beliau yang mengasuh Mia sejak kecil, sedangkan yang satunya lagi namanya Kak Rania -- Kakak angkat Mia. Saat kecil kami hidup bahagia, tapi entah kenapa sekarang menjadi seperti ini," jelas Azmia. Rasanya ingin sekali dia menangis karena mengingat kejadian tadi. Dia tak menyangka Mama dan Kakaknya begitu tega padanya, padahal selama ini dia sudah selalu mengalah untuk keluarga mereka, tapi tetap saja pengorbanannya tidak pernah berarti di mata mereka.
"Menangis lah jika itu bisa menenangkan hatimu," ucap Ali.
"Dari mana, Pak Ali tahu jika Mia di culik mereka?" tanya Azmia.
"Tadi saat saya ingin berangkat ke kampus tanpa sengaja saya melihat kamu mendorong motor, tapi saat saya ingin menghampiri mu, tiba-tiba ada orang yang menyekap mu. Jadi saya mengurungkan niat saya keluar dari mobil. Saya memilih mengikuti mobil mereka saja dari belakang," jawab Ali.
"Boleh saya tanya sesuatu?" tanya Ali.
"Boleh," jawab Azmia.
"Siapa itu Alby? kenapa mereka memarahimu gara-gara orang itu?"
Azmia terdiam haruskah dia menjawab dan menceritakan semuanya pada orang yang baru dia kenal.
"Mas Alby itu mantan suami, Mia," jawab Azmia jujur. Dia nggak malu dengan statusnya toh dia menikah dengan status yang sah dan cerai pun resmi di pengadilan agama.
"Suami?" Ali di buat terkejut dengan jawaban Azmia.
"Iya," jawab Azmia dengan tersenyum getir.
Ali terdiam dia tak menyangka dengan kenyataan. 'Apa yang di maksud Angga dan Devan saat itu suami Azmia,' batin Ali.
"Kenapa, apa ada yang salah? pasti Mas Al nggak menyangka ya kalau Mia seorang ja __." Ucapan Azmia harus tertahan karena Ali lebih dulu menyahutnya.
"Jangan teruskan lagi," sahut Ali agar Azmia tak melanjutkan ucapannya.
Setelah itu mereka sama-sama diam.
__ADS_1
***
"Mel, kamu udah bilang ke Derry?" tanya Karina saat mereka berada di parkiran.
"Sudah. Lebih baik kamu telpon Nina sama Novi dulu deh sebelum kita ke cafe, kamu tanya Azmia ada nggak di cafe," ucap Melia.
"Oh, iya-ya. Yaudah kamu yang nyetir biar aku telpon." Karina memberikan kunci mobil pada Melia kemudian mereka masuk ke dalam mobil.
"Hallo, Nin," sapa Karina saat sambungan teleponnya tersambung.
"......."
"Oh, gitu." Karina menutup sambungan teleponnya.
"Gimana, Rin?" tanya Melia.
"Nggak ada. Di cafe cinta nggak ada, di cafe lovely juga tak ada, barusan aku japri Novi," jawab Karina.
"Lha terus tuh anak kemana?" mereka berdua jadi bertanya-tanya. Melia bingung dia harus melajukan mobilnya ke arah mana.
"Rin, coba telpon Azmia lagi." Melia menyuruh Karina agar mencoba menghubungi Azmia kembali.
Karina mengangguk kemudian mencari kontak Azmia. "Ini dia," ucap Karina setelah menemukan nomor yang ia cari kemudian dia memencet tombol hijau mulai melakukan panggilan.
"Kamu di mana sih, Mi? dari tadi kita telpon kamu susah banget. Kita tuh khawatir sama kamu dari pagi nggak masuk kuliah, tapi nggak kasih kabar ke kita," cerocos Karina saat sambungan teleponnya sudah terhubung.
"Hust ... ngomong pelan-pelan jangan nerocos aja," omel Azmia.
"Maaf. Aku tuh khawatir sama kamu, Mi. Sekarang kamu ada di mana? Aku sama Melia sedang berada di perjalanan nih mau nyariin kamu," ucap Karina.
"Aku berada di taman, tapi aku juga nggak pasti dimana nya karena aku baru pertama kali ke sini. Tunggu sebentar aku tanyakan dulu," balas Azmia kemudian dia bertanya pada Ali lokasi mereka sekarang berada.
"Rin, aku chat aja alamatnya," lanjut Azmia.
"Ok." Karina memutuskan sambungan teleponnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian pesan chat masuk. "Mel, kamu tahu alamat ini?" tanya Karina sambil memperlihatkan alamat yang di kirim Azmia.
"Tau, go!" Melia melajukan mobilnya kembali untuk melanjutkan perjalanan menuju ke lokasi.