Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 249 Penyesalan


__ADS_3

Di kediaman Ardiaz


"Papa kenapa sih sejak tadi pulang dari kantor mukanya kayak orang gelisah gitu?" tanya Mama Irana. Kini mereka sedang berada di ruang keluarga menyaksikan acara televisi.


"Tadi Papa di buat jantungan oleh seseorang, Ma," jawab Papa Irwan.


"Siapa, Kenapa?" tanya Mama Irana mulai penasaran.


"Begini, Ma. Tadi siang kan Papa ada pertemuan dengan perusahaan pak Angga, tapi beliau tidak bisa hadir jadi di wakilkan pada adiknya. Mama tahu siapa putri Dewata?" Papa Irwan meminta Mama Iren untuk menebaknya.


"Memangnya Pak Dewata punya anak perempuan, Pa?" tanya Mama Irana karena yang mereka tahu Dewata hanya memiliki putra yaitu Angga.


"Punya Ma. Papa juga baru tahu tadi saat dia mewakili pak Angga dan dialah yang hampir membuat Papa punya penyakit jantung," balas Papa Irwan.


"Memangnya siapa sih putri Dewata sampai bikin Papa seperti itu?"


"Mama jangan kaget ya," ucap Papa Irwan.


Mama Irana mengangguk.


Sebelum memberitahu istrinya Papa Irwan lebih dulu menghela nafasnya.


"Pu ... tri ... Dewata ada ... lah ... Azmia,"ujar Papa Irwan.


"Apa?" Mama Irana tak kalah terkejutnya saat mengetahui nama Putri Dewata.

__ADS_1


"Tarik napas, Ma," ujar Papa Irwan sambil mengelus lengan istrinya.


"Papa nggak bohong kan?" tanya Mama Irana yang tak percaya dengan ucapan suaminya.


"Buat apa Papa bohong, Ma," balas Papa Irwan.


"Awalnya Papa juga kurang percaya saat sekretaris pak Dewata memperkenalkan Azmia, tapi setelah itu pak Dewata sendiri yang memperkenalkannya pada Papa, saat itulah papa semakin terkejut," jelas Papa Irwan karena setiap menghadiri acara perusahaan Azmia tidak pernah ikut hanya Papi Dewata dan Mami yang selalu hadir.


"Kira-kira pak Dewata tahu nggak, Pa, kalau kita pernah memarahi putrinya?" tanya Mama Irana.


"Sepertinya tidak, Ma," jawab Papa Irwan.


"Ada satu lagi yang tidak kita ketahui ternyata selain putri dari pengusaha terkenal, Azmia itu seorang pengusaha juga dia itu memiliki dua cafe." Papa Irwan menceritakan semua tentang Azmia pada istrinya.


"Siapa yang bukan karyawan cafe, Ma?" sahut Ardiaz saat lewat tanpa sengaja mendengar Mama Irana menyebut namanya. Ardiaz pun yang tadi ingin keluar rumah jadi belok ke ruang keluarga menghampiri Mama dan Papanya.


"Ada apaan sih Mama dan Papa mukanya serius banget?" tanya Ardiaz.


"Pa." Mama Irana menyenggol lengan suaminya sebagai kode agar Papa Irwan menjelaskan pada Ardiaz.


"Mama saja." Papa Irwan balik menyuruh istrinya karena biasanya paling mudah menjelaskan kepada anak itu seorang ibu.


Mama Irana mengangguk sebagai jawaban.


"Mama bingung harus menjelaskan pada kamu dari mana intinya Mama ingin kamu tahu bahwa Azmia bukanlah wanita biasa yang seperti kamu lihat," jelas Mama Irana.

__ADS_1


"Maksud, Mama?" tanya Ardiaz.


"Azmia itu bukan karyawan cafe, tapi dia itu pemilik cafe terus asal kamu tahu Azmia itu putri dari keluarga Dewata adik dari pengusaha muda yang bernama Angga," jelas Mama Irana.


Ardiaz terdiam mencerna penjelasan Mamanya.


"Mama tahu dari mana tentang Azmia?" tanya Ardiaz setelah diam beberapa saat.


"Tadi siang papa ada pertemuan dengan perusahaan pak Angga, tapi beliau berhalangan jadi di wakilkan dengan Azmia dan pak Dewata sendiri yang memperkenalkan Azmia pada Papa kamu," jawab Mama Irana menceritakan sesuai yang di ceritakan suaminya.


"Sekarang Mama dan Papa sudah mengetahui kebenaran tentang Azmia, bagaimana pendapat Papa dan Mama?" tanya Ardiaz.


"Maafkan Mama, Ar. Mama benar-benar sangat menyesal dan malu jika bertemu dengan Azmia," jawab Mama Irana.


"Papa gimana? bukankah selama ini, Papa yang lebih menentang keras tentang Azmia," ucap Ardiaz.


Papa Irwan hanya diam tak menjawab.


"Sekarang Mama dan Papa baru menyesal setelah mengetahui Azmia yang sebenarnya. Apa Mama dan Papa tidak memikirkan bagaimana perasaan Azmia saat di restoran, jangan berpikir bahwa Ar tidak mengetahui yang terjadi di restoran. Ar, tahu semuanya, Ma. Ar sengaja diam Ar ingin Mama atau Papa jujur pada Ar, tapi ternyata tak ada satupun yang mau berkata jujur." Ardiaz begitu kecewa saat itu melihat sikap Mama dan Papanya.


** Ardiaz bisa mengetahui karena saat Mama dan Papanya memaki Azmia, Ardiaz sudah kembali dari toilet dan berdiri tak jauh dari mejanya. **


"Apa Papa masih ingat saat kejadian di rumah sakit bagaimana papa memarahi Azmia tanpa ampun, menuduhnya tanpa bukti. Ar, sudah bilang jangan berkata sembarangan tanpa ada buktinya, tapi Papa tidak mau mendengar ucapan Ardiaz. Ar, tuh sayang sama Mama dan Papa. Ar, tidak ingin Mama, Papa su'udzon, berperilaku buruk terhadap orang lain dan satu lagi jangan pernah menilai orang lain dari segi penampilan," ucap Ardiaz. Bukan sok menasehati orang tua, tapi Ardiaz hanya ingin Mama dan Papanya berperilaku baik terhadap siapapun karena kita semua sama di mata Allah.


Mama Irana dan Papa Irwan terdiam tak membalas ucapan putranya karena apa yang di ucapkan putranya memang benar. Kini mereka sangat menyesal dengan sikapnya yang seakan manusia paling sempurna.

__ADS_1


__ADS_2