
"Al, jalan yuk!" ajak Daffa. Jika orang-orang dibluar sana malam minggu mengajak jalan kekasihnya beda dengan Daffa dia mengajak jalan bosnya. Beginilah nasib jomblo yang satu nggak punya pacar yang satu di tinggal istri.
"Gue lagi malas sekali keluar rumah," balas Alby. Dia sudah PW dengan posisinya rebahan di atas sofa sambil menonton acara televisi.
"Ada cafe yang baru di buka kita coba kesana yuk, Al kali aja nanti bisa dapat jodoh di sana," ucap Daffa.
"Dasar jones," cibir Alby. Sepertinya dia tidak sadar dengan dirinya sendiri.
"Sama kayak lu," balas Daffa. "Al, hp lu ada yang telpon tuh," lanjut Daffa saat melihat ponsel Alby yang berada di atas meja berkedip-kedip karena tak ada suara jadi layarnya berkedip.
Alby segera mengambil ponselnya menekan tombol hijau.
"Assalamualaikum."
"........"
"Baiklah, sebentar lagi aku jemput." Alby memutuskan layar ponselnya.
"Siapa, Al?" tanya Daffa.
"Rania ngajakin pergi," jawab Alby.
"Giliran di ajak jalan cewek aja lu garcep, tadi gue ajakin nggak mau," ucap Daffa yang kecewa dengan sikap Alby.
"Bukan begitu, sudahlah ayo! jalan kita jemput Rania terlebih dahulu," ujar Alby.
"Males gue," balas Daffa.
"Cepatlah!" Alby menarik tangan Daffa supaya mengikutinya. Alby lebih nyaman jika pergi sama Rania mengajak Daffa.
Daffa hanya pasrah mengikuti Alby meskipun dia sangat malas jika ikut Alby karena pasti akan jadi obat nyamuk.
Karena Daffa lagi kurang mood jadi dengan terpaksa kini Alby yang membawa mobil. Daffa seperti bosnya duduk bersantai di samping sopir.
Selama perjalanan mereka hanya diam tak berbicara entah kenapa mereka berdua seperti orang sedang berantem.
Tak butuh waktu lama kini mereka sudah sampai di kediaman Pranata. Alby menyalakan klakson mobil supaya Rania keluar.
Rania yang mendengar ada suara klakson mobil secepatnya langsung keluar rumah. "Apa Alby sudah datang?" tanya Mama Sonia pada putrinya yang sudah mulai berdiri dari tempat duduknya.
"Sepertinya sudah, Ma. Nia berangkat dulu ya, Ma," pamit Rania pada Mamanya.
"Iya, sayang hati-hati," balas Mama Sonia.
Setelah berpamitan dengan Mamanya. Rania melangkah ke luar rumah meninggalkan Mamanya yang sedang asyik menyaksikan acara televisi.
Rania keluar rumah menghampiri mobil Alby. Dia masuk ke dalam mobil duduk di kursi belakang di samping Alby. Tadi sebelum Rania datang Alby lebih dulu pindah ke belakang.
__ADS_1
"Apa kabar, Mas?" tanya Rania setelah berada di dalam mobil.
"Alhamdulillah, baik," balas Alby.
"Selalu saja gue jadi korban," gerutu Daffa.
"Kita mau kemana, Mas?" tanya Rania.
"Kata Daffa ada cafe yang baru buka kita kesana saja ya," ucap Alby.
"Ok. Nia ikut Mas Alby saja," balas Rania pasrah saja mau kemana pun yang terpenting baginya adalah bisa pergi bersama Alby sudah membuatnya bahagia.
Bahagia di atas penderitaan adik tirinya.
****
Cafe Lovely.
Azmia bersama yang lain sudah bergabung dengan Fakhri dan para sahabatnya.
Namun, Sebelum membicarakan dengan Fakhri. Tadi saat Derry datang dia lebih dulu membicarakan niatnya pada Derry meminta pendapat tentang niatnya.
"Apa ada sesuatu yang ingin kalian sampaikan?" tanya Fakhri.
"Iya, sob," jawab Derry.
"Maksudnya kerjasama gimana?" Fakhri yang tak mengerti.
"Jadi begini, Kak. Saya ingin Kakak bisa ngisi live musik saat weekend. Gimana, Kak? apa Kakak bersedia?" Kini Azmia yang angkat bicara.
"Nanti aku obrolin dulu sama yang lain ya, Mi karena kan kita tampil lima orang jadi jika salah satu nggak setuju kita nggak bisa tampil," balas Fakhri. Meskipun Fakhri ketua bandnya, tapi dia tak mau mengambil keputusan sendiri.
"Baik, Kak tidak masalah nanti apapun keputusannya Kak Fakhri bisa hubungi Kak Derry," ucap Azmia.
"Siap," balas Fakhri. "Gue sih tertarik banget ya buat ngisi live musik di sini, tapi ada dua orang yang tadi ada urusan jadi nggak bisa ikut kesini," lanjut Fakhri setelah melihat keadaan di cafe. Tempatnya yang keren dan dekorasi cafe juga sangat menarik sehingga membuatnya tertarik dengan penawaran Azmia, pengunjung juga lumayan ramai. Mengisi live musik di cafe bisa jadi peluang bandnya agar bisa terkenal.
"Semoga para sahabat Kak Fakhri juga setuju," balas Azmia.
"Gue sih setuju-setuju saja," sahut Ronal salah satu personil yang memegang gitar.
"Nanti kita bicara dulu pada Amir dan Doni," ucap Fakhri.
"Ok, Ri," balas Ronal.
Setelah membicarakan tentang niatnya kini mereka mengobrol santai sambil menikmati cemilan dan minuman yang di sediakan oleh Azmia.
Saat mereka asyik mengobrol tiba-tiba Azmia di colek Karina.
__ADS_1
"Apa?" tanya Azmia dengan nada pelan.
"Tuh." Karina mengarahkan pandangannya ke meja nomor dua. Azmia pun mengikuti arah pandang Karina.
Deg
Ada rasa nyeri saat melihat pemandangan itu, tapi ada juga rasa bahagia karena sebentar lagi dia bisa bebas dari semuanya.
"Kamu nggak apa, Mi?" bisik Karina karena posisi Karina duduk di samping Azmia.
"Tidak, tenang saja aku baik-baik saja," balas Azmia. Meskipun hatinya berkata lain.
Karina memegang tangan Azmia menguatkan sahabatnya. Karina tau meskipun mereka menikah karena terpaksa, tapi tetap saja jika melihat suami bersama wanita lain pasti itu akan sangat sakit.
Azmia tersenyum ke arah Karina.
*
*
"Al, lu lihat deh pengunjung yang berada di situ," ucap Daffa mengarahkan pandangannya ke meja paling ujung.
"Wanita itu?" Alby menatap ke arah Daffa setelah melihat wanita yang berada di meja tersebut.
"He'em. Wanita berkacamata itu sepertinya dekat sekali dengan para sahabatnya Azmia. Lu liat dia duduk di samping Karina," ujar Daffa.
"Iya, betul. Siapa sebenarnya wanita itu?" Alby terus saja memandangi wanita berkacamata yang tak jauh dari mejanya.
"Kalian berdua kenapa sih?" tanya Rania. Rania mengikuti arah pandang Alby dan juga Daffa.
"Siapa dia, kalian kenal?" tanya Rania lagi.
"Tidak, tapi kita penasaran dengan wanita yang memakai kacamata," jawab Daffa.
"Wanita bukankah yang waktu itu berfoto dengan Bunda ya?" Rania mengingat-ingat wanita berkacamata tersebut.
"Iya, benar sekali," jawab Alby.
"Apa dia kekasih Revan?" tanya Rania karena dia liat kedua di SW Bunda itu foto bersama yang memperlihatkan semuanya termasuk Revan.
"Sepertinya begitu," jawab Alby.
"Kalau hati gue bilang sih enggak," sambung Daffa. Entah kenapa batin Daffa berkata lain dia lebih yakin jika perempuan berkacamata itu Azmia meskipun dia belum bisa membuktikan itu karena penampilan yang sangat berbeda.
"Kenapa tidak. Wanita itu cocok kok sama Revan dia cantik dan sepertinya berpendidikan," ucap Rania saat melihat wanita berkacamata tersebut.
"Sudahlah, kita nikmati aja malam mingguan kita tidak perlu memikirkan wanita itu," balas Alby menghentikan pembahasan tentang wanita berkacamata ya meskipun di sangat penasaran sekali besok dia akan coba bertanya pada Bunda saja.
__ADS_1