
Selesai makan malam Azmia beserta keluarga Papi Angga berkumpul di teras rumah menikmati keindahan malam sambil ngopi dan ngobrol santai.
"Gimana perusahaan, Van?" tanya Papi membuka obrolan.
"Alhamdulillah, aman, Pi," jawab Revan.
"Syukurlah, tetaplah menjadi pengusaha yang telaten supaya sukses karena kesuksesan itu butuh perjuangan extra," ucap Papi.
"Iya, Pi, insya'Allah," balas Revan.
"Kalian berdua ngapain sih, kayak orang pacaran begitu, Sayang anak Papi, ini ada suami kamu. Memangnya nggak malu suami liatin," ucap Papi karena Azmia sama Angga malah sibuk sendiri berdua. Azmia duduk sambil menyandarkan kepalanya di bahu Angga sambil bisik-bisik tetangga.
"Enggak apa kok, Pi. Mia kan jarang sekali ketemu Bang Angga," balas Revan.
"Pinjem sebentar ya, Van," ucap Angga meminta izin pinjem Azmia. Dia kira barang kali di pinjem dulu.
"Iya, Bang," balas Revan dengan tersenyum kecil.
"Begitulah mereka jika lama tak bertemu sekali ketemu lupa sama yang lain," ujar Mami Erna.
__ADS_1
"Iya, Mi. Revan bisa ngerti kok," balas Revan. Dia nggak mungkin melarang istrinya karena terkadang istri juga butuh saudara di sampingnya berbagi cerita sama saudara, apalagi Azmia sejak kecil dekat sekali dengan Angga hanya Angga yang selalu ada untuknya.
"Abang memang sudah pernah lihat orangnya secara langsung?" tanya Azmia saat Angga memperlihatkan foto seseorang di ponselnya.
"Belum sih, makanya Abang cerita ke kamu supaya kamu bisa bantu Abang mencari tahu informasi tentang dia," jawab Angga.
"Kamu diam-diam saja ya, jangan cerita ke Mami," ucap Angga memperingatkan Azmia agar tidak mengadu pada Maminya.
"Siap, Bos!" balas Azmia.
"Menurut kamu dia cantik nggak, Dek?" tanya Angga.
"Ada benarnya juga sih, mudah-mudahan saja dia seperti bayangan kita," ujar Angga berharap saat mengetahui identitas wanita itu sesuai dengan apa yang ada di bayangnnya.
"Amin, tapi jangan terlalu berharap, takut nanti kecewa sakitnya tuh di sini." Azmia berkata sambil memegang dadanya, karena jika harapan itu tinggi saat kecewa di hati langsung maknyes.
"Iya, Peri kecilku," ucap Angga sambil mencubit hidung Azmia yang mancung.
"Abang," keluh Azmia sambil mengelus-elus hidungnya bekas cubitan Angga.
__ADS_1
"Nanti kita bahas lagi ya, sekarang waktunya kita gabung bersama mereka." Angga menatap ke arah Mami, Papi, dan Revan yang sedang asyik mengobrol.
"Sudah rapatnya?" tanya Mami setelah Putra dan Putrinya bergabung kembali.
"Sudah, Mi besok lanjut lagi," jawab Angga.
"Oh, iya Mia lupa kasih tahu ke Mami dan Papi." Azmia menepuk jidatnya.
"Lupa apa, Sayang?" tanya Mami.
"Itu, Mi. Jadi gini selain kangen sama Mami dan Papi, kedatangan Mia kesini itu ingin mengundang Mami dan Papi agar hari sabtu besok bisa hadir di cafe lovey," ucap Azmia.
"Ada acara apa, Sayang?" tanya Mami.
"Acara kecil-kecilan, Mi. Syukuran atas kelulusan Azmia jadi Azmia ingin berbagi kebahagiaan bersama," jawab Azmia.
"Oh, baiklah. Insya'Allah Mami dan Papi datang mudah-mudahan kami tidak ada halangan," ujar Mami. Dia tidak ingin berjanji karena kita tidak pernah tahu hari esok.
"Amin," balas Azmia dan yang lain.
__ADS_1