
Malam hari
Setelah selesai membersihkan toko serta menutup cafe semua karyawan berkumpul.
"Ini sudah kumpul semua?" tanya Azmia saat tiba di balkon lantai tiga. Tempat paling nyaman untuk berkumpul bersama.
"Sudah, Mba," jawab Nina.
"Ok, baiklah. Kita ngobrol santai saja bisa sambil ngopi atau ngemil yang terpenting adalah mendengarkan ucapan saya," ucap Azmia.
"Siap, Mba," balas semua karyawan.
"Jadi begini, insya'Allah malam minggu besok saya akan mengadakan acara selamatan rumah, saya minta tolong pada kalian semua mulai hari jum'at cafe kita tutup saja sampai hari minggu. Nah, hari jumat kalian semua bisa ke rumah saya untuk membantu saya menyiapkan acara dari mendekorasi rumah, menyiapkan beberapa menu masakan, dan yang lain intinya saya minta tolong pada kalian untuk bisa hadir di rumah saya membantu saya mempersiapkan acara tersebut. Untuk lokasinya nanti saya akan informasikan kepada ketua kalian masing-masing yaitu yang di cafe cinta akan saya share di Nina dan cafe lovely nanti saya akan share lokasi di Novi," ucap Azmia.
__ADS_1
"Ashiap, Mbak Mia dengan senang hati kita pasti akan datang dan membantu, Mbak Mia. Betul nggak semua?" teriak Pras meminta suara pada karyawan yang lain.
"Betul banget tuh, Mbak kata Pras, kita pasti akan membantu Mbak Mia dengan senang hati," sambung yang lain.
"Alhamdulillah terima kasih ya semua. Mudah-mudahan untuk acara saya minggu depan semuanya lancar tidak ada halangan apapun dan kalian juga sehat semua bisa membantu saya untuk melaksanakan acara tersebut," ujar Azmia.
"Amin," balas semua karyawan.
"Maksud, Lu?" Revan yang tak mengerti dengan ucapan Kabin.
"Ya, Lu liat aja mana ada karyawan ngobrol sama bos dengan begitu santai ada yang tiduran, ada yang sambil makan, ada yang ngemil, ada yang ngopi, ada yang sambil ghibah begitu, enak banget ya punya bos begitu. Gua juga mau jadi karyawannya dari pada sama Lu," jelas Kabin.
"Sue, Lu. Gue juga baik kali lah lu ngobrol sama gue juga sama bisa sambil ngopi," ucap Revan yang tak terima di bandingkan dengan istrinya.
__ADS_1
"Iya itu kan kalau, kita berdua doang di ruangan, Lu," balas Kabin.
"Ya kan beda, Bambang. Kalau kita kan bekerja dalam perusahaan jadi harus sesuai dengan peraturan perusahaan nggak mungkin seenak jidat, Lu," ujar Revan.
"Iya sih, tapi gue baru nemu lho kayak begini ngobrol sama bos begitu santai. Karena yang sering gue lihat-lihat nih ya di tempat-tempat lain di cafe atau toko gitu kalau lagi pada ngobrol pasti di duduk tuh di kursi ada mejanya terus sediain minum, lha ini mah agak beda duduk di lantai pada selonjoran santai banget. Karyawan sama bos, udah kayak saudara." Kabin yang merasa heran saat melihat kebersamaan Azmia dengan para karyawan cafe begitu akrab bagaikan keluarga.
" Lu, kan tahu seperti apa Azmia. Kayak kagak kenal Azmia aja, Lu," ucap Revan.
"Iya juga sih. Asmi itu memang luar biasa meskipun sekarang dia sudah jadi orang yang super duper kaya tapi tetap saja dia tuh rendah hati," balas Kabin. Dia bangga dengan kerendahan hati Azmia yang sejak dulu tertanam dalam dirinya. Meskipun sekarang takdir mengubahnya, tapi tak membuat dirinya sombong dengan keadaan yang sekarang.
"Nah itu, Lu tahu," ucap Revan.
Setelah memberi tahu pada semua karyawan kini Azmia dan para karyawan makan malam bersama.
__ADS_1