Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 114 Para pejuang cinta


__ADS_3

Selesai acara Azmia pulang duluan karena meras badannya sudah sangat lelah mungkin karena semalaman tidak bisa tidur nyenyak.


Azmia pulang ke apartemen di antar Devan karena Devan tak membiarkannya pulang sendiri.


"Besok pagi Kakak jemput," ucap Devan.


"Mia bareng Karina saja, Kak." Mia menolak secara halus.


"Tidak ada penolakan," ujar Devan.


"Baiklah," balas Azmia dengan pasrah. Pokoknya kalau sudah berhadapan dengan yang lebih tua Devan, Angga dan Alby. Azmia hanya bisa pasrah dia seperti anak bawang karena mungkin umurnya yang masih muda di banding mereka.


"Anak pinter." Devan memegang kepala Azmia.


"Ingat besok jangan pergi dulu sebelum Kakak jemput," ucap Devan sebelum Azmia keluar dari mobil.


"Iya, Pak Dosen," balas Azmia. "Terima kasih atas tumpangannya," lanjut Azmia.


"Sama-sama bidadari ku," balas Devan.


Setelah itu Azmia keluar dari mobil Devan berjalan masuk menuju apartemennya.


Sesampainya di kamar Azmia langsung membersihkan diri dan berganti pakaian biasa kemudian dia langsung merebahkan tubuhnya yang terasa lemas.


'Kenapa mereka harus hadir dalam hidupku?' batin Azmia mengingat kejadian tadi saat di cafe Lovly. Saat Devan dan Revan memperlakukan dia bagaikan ratunya sedangkan suaminya sendiri entah kemana. Sudah lama Azmia tak mendengar kabar Alby, dia juga tak ada niat untuk bertanya kabar. Bukan ingin menjadi istri durhaka, tapi karena Azmia ingin Alby bahagia dengan cintanya.


***


Ditempat lain tepatnya masih di cafe Lovly.


Setelah para tamu undangan pulang Melia menghampiri Karina, Kabin dan Revan yang masih duduk di kursi meja paling pojok. Lama tak berjumpa membuat mereka ingin menghabiskan waktu lebih lama untuk bersama meskipun hanya sekedar berkumpul, mengobrol itu sudah mengobati rasa rindu mereka.


Sedangkan Derry berbincang-bincang dengan para keluarganya yang masih berada di cafe.


"Suami kamu mana, Mel?" tanya Kabin karena Melia menghampiri mereka sendirian.


"Lagi ngobrol sama saudaranya," jawab Melia.

__ADS_1


"Rin, jawab yang jujur cowok yang tadi bersama Azmia siapa sih?" tanya Revan yang penasaran dengan sosok Devan.


"Ada yang cemburu nih ye," goda Karina.


"Gue nanya duang," balas Revan berbohong nggak mungkin kan dia berkata jujur jika dia memang cemburu, gengsi dong.p


"Kasih tau nggak ya." Karina tertawa cekikikan.


"Nggak usah ngeledek lu, Rin," ucap Revan.


"Hahaha, Kak Revan kepo," balas Karina.


"Sepertinya dia ada saingan lagi, Rin," sambung Melia.


"Bukannya Azmia masih istri sah Mas Alby?" Kini Kabin ikut angkat bicara.


"Masih," jawab Karina.


"Terus laki-laki itu siapa?"tanya Kabin. Dia juga merasa heran saat melihat Azmia dan Devan karena mereka sangat dekat sekali, jika hanya sekedar teman tidak mungkin sedekat itu.


"Cepatlah." Kabin yang kesal karena Karina tidak kunjung bercerita.


"Sabar, Bambang," balas Karina.


Sebelum bercerita Karina lebih dulu tarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskan nya. Dia sengaja mengulur waktu.


"Aku juga tidak tahu pasti sih, tapi inilah penjelasan dari Azmia. Awalnya Aku dan Melia juga kaget pas tahu yang sebenarnya, tapi sebagai sahabat kita hanya bisa mendukung dan mendoakan yang terbaik untuknya.


Pak Devan itu adalah dosen terbaru di kampus kita. Bukan hanya dosen bagi Azmia beliau itu seseorang yang berarti sekali karena selalu ada buat Azmia sejak kecil, tapi waktu memisahkan mereka saat mereka sudah sama-sama dewasa karena Devan harus pergi melanjutkan pendidikannya ke luar negeri.


Namun, setelah dewasa sepertinya perasaan itu berbeda bukan hanya sekedar hubungan Kakak beradik biasa karena lambat laut Pak Devan memiliki perasaan yang lebih dari pada itu. Perasaan cinta dan ingin memiliki Azmia seutuhnya, selamanya. Bagi Azmia pak Devan juga pahlawan untuknya, akan tetapi semua harus terkubur karena Azmia kini sudah menikah dan masih sah berstatus sebagai istri." Karina menjelaskan sesuai dengan apa yang dia dengar dan dia tahu.


Revan terdiam setelah mendengar penjelasan dari Karina. 'Terlalu lama aku menunggunya belum bisa memiliki dia. Ternyata masih banyak yang sama seperti ku menanti sebuah cinta yang tak pasti,' batin Revan.


"Apa Azmia juga ada hati dengan dosen itu?" tanya Kabin.


"Entahlah." Karina mengangkat kedua bahunya sebagai tanda dia juga tidak tahu yang sebenarnya. Dia belum menanyakan tentang hal itu karena takut salah atau menyinggung Azmia pasalnya saat ini Azmia masih berstatus sebagai istri orang.

__ADS_1


"Berat ini bro. Dosen bro saingan lu." Kabin berkata sambil menepuk bahu Revan.


"Melepaskan cinta untuk kebahagiaannya itu tidak masalah. Bukankah cinta memang tidak harus memiliki," sahut seseorang yang baru datang.


"Kak Derry," ucap Melia.


"Hai ... bro," sapa Kabin.


Derry membalasnya dengan senyuman dan lambaian tangan. 🤚


"Duduk, Kak!" Melia mempersilakan suaminya untuk duduk. Derry pun duduk di samping Melia.


"Melupakan orang yang kita cintai memang sulit, apalagi cinta itu sudah terlalu dalam, tapi belajarlah untuk menerima keadaan. Aku juga sama sepertimu, tapi dengan seiring berjalannya waktu sedikit demi sedikit cinta itu terhapus dengan sendirinya. Jika kita mau berusaha pasti bisa. Biarkan dia bahagia dengan pilihan hatinya karena kita tak bisa memaksanya untuk bersama kita." Derry berkata seakan mewakili hatinya.


"Kak Derry itu sama seperti Kak Revan sama-sama mencintai orang yang sama, tapi sama-sama tidak bisa memilikinya," sambung Melia.


"Dia, suami lu?" tanya Kabin yang tak percaya dengan ucapan Melia.


"Iya, Kak. Kak Derry juga mencintai Azmia bahkan sudah dua kali Kak Derry menyatakan cintanya, tapi kalian tahu Azmia seperti apa. Pernikahan aku dan Kak Derry bukan awal dari saling cinta kita adalah korban perjodohan orang tua. Aku sempat menolak perjodohan ini karena aku tahu cinta Kak Derry hanya untuk Azmia, hanya ada Azmia di hatinya, tapi orang tua kami tidak ingin ada penolakan. Akhirnya ya sudahlah kita jalani semuanya karena aku yakin cinta bisa hadir dengan kita sering bersama dan aku yakin memang inilah takdir kita," jelas Melia.


Revan dan Kabin terdiam mereka berdua tak percaya jika Melia menikah dengan orang yang mencintai sahabatnya sendiri, itu pasti rasanya sakit sekali, tapi itulah takdir kita tidak pernah tahu dimana dan siapa jodoh kita. Bahkan terkadang ternyata jodoh kita ada di depan mata, orang yang selalu bersama kita, orang kita benci, orang yang tidak kita cintai.


Allah sudah mengatur semuanya. Skenario Allah tak pernah ada yang tahu. Manusia hanya bisa menjalani saat Allah sudah menentukan ini dan itu.


***


Revan : Thor, lu tega banget sih sama gue saingan gue berat.


Author : Namanya juga perjalanan hidup nikmatin aja dulu.


Revan : Gue harus gimana menyerah, merelakan Azmia untuk orang lain.


Author : Ya mau bagaimana lagi. Lagian Azmia masih jadi istri sah Abang lu, Van.


Revan : Tapi, perasaan gue nggak enak Thor. Hati gue berkata Azmia akan berpisah sama Abang gue. Apalagi para reader ngedukung banget kalau Azmia cerai dari Mas Alby.


Author : Sabar dulu ya, Van. Author lagi memutar otak nih.

__ADS_1


__ADS_2