Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 208 Daffa dan Karina


__ADS_3

Setelah selesai melaksanakan acara makan malam Karina meminta ijin pada kedua orangtuanya agar berbicara berdua dengan Daffa.


Karina mengajak Daffa duduk di ayunan samping rumahnya. Mereka pun duduk berhadapan sambil menggoyangkan ayunan.


"Kak," panggil Karina.


"Sudah tenang saja. Saya tahu maksud kamu semau ini kan saya yang punya ide jadi saya akan tanggung jawab kamu tidak perlu bingung," ucap Daffa.


"Tapikan __." Karina belum selesai berbicara Daffa memotongnya lebih dulu.


"Intinya sekarang kamu mau nggak jadi istri saya?" tanya Daffa sambil menatap kearah Karina. Entah keberanian dari mana dia bisa mengatakan seperti itu.


Karina diam tak menjawab. Ini dia nembak apa gimana sih? kenapa jadi seperti ini sih, batin Karina. Dia bingung harus jawab apa baru juga kenal Daffa tiba-tiba di tanya seperti itu bikin penyakit jantung dadakan.


"Aku tahu ini pasti terlalu cepat untuk kita, tapi mau bagaimana lagi semua sudah terlanjur. Sekarang keputusan ada di kamu saya akan tunggu jawaban kamu sampai besok malam apapun itu kamu harus memberi kabar pada saya," ucap Daffa karena keputusan ada di tangan Karina, antara lanjut atau berhenti.

__ADS_1


Karina tetap diam tak menjawab. Dia nggak tau harus berkata apa otaknya bener-bener buntu nggak bisa di ajak mikir.


"Pikiran baik-baik ini semua demi dirimu sendiri. Mungkin saya memang bukan tipe kamu, tapi kita bisa belajar untuk saling mengenal setelah pernikahan. Saya akan berusaha yang terbaik buat kamu," ujar Daffa sambil memegang tangan Karina.


Karina hanya menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu saya pulang dulu, jangan terlalu di pikirkan nanti kamu bisa sakit," pesan Daffa sebelum beranjak dari duduknya.


Sebelum pulang Daffa lebih dulu berpamitan pada ke dua orang tua Karina.


***


Sepasang suami istri yang sedang berbaring di atas kasur menonton acara televisi kesukaannya.


"Pa, tadi siang Ali bawa mahasiswinya ke rumah, tapi kok ada yang aneh ya, Pa," ucap Mama Iren membuka obrolan.

__ADS_1


"Aneh bagaimana, Ma?" tanya Papa Amar. Hanya mulutnya yang bersuara matanya tetap mengarah ke televisi.


"Enggak tau, Pa. Pokoknya Mama tuh merasa deket sekali dengan dia padahal kan Mama baru pertama kali bertemu dengan dia," jawab Mama Iren menceritakan tentang kejadian tadi siang saat di bertemu Azmia.


"Mungkin hanya perasaan Mama aja kali," ucap Papa Amar.


"Iya, kali ya, Pa," balas Mama Iren membenarkan ucapan Papa Amar, tapi dalam hatinya dia masih bertanya-tanya.


Di dalam kamar Ali sedang duduk bersandar di kepala ranjang sambil memangku laptop mengotak-atik benda yang ada di pangkuannya mengerjakan beberapa proyek yang harus dia kerjakan untuk perusahaan orang tuanya.


***


Sesampainya di rumah Daffa memarkirkan mobilnya, setelah itu berjalan masuk ke dalam rumah menuju kamar berganti pakaian santai kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Mimpi apa gue kemarin malam hingga bisa terjebak dalam situasi seperti ini. Gue kan niatnya cuma mau bantuin dia aja, dari pada gue nggak ada kerjaan, eh ... malah jadinya begini pusing kan jadinya gue, sekarang gue harus sedih apa bahagia ya nggak kebayang gimana nanti gue bilang sama Bunda dan Ayah. Mereka juga pasti kaget tiba-tiba gue mau nikah, batin Daffa meratapi nasibnya. Mungkin memang itulah cara Allah mempersatukan mereka.

__ADS_1


__ADS_2