Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 105 Ketahuan


__ADS_3

"Mia, hari ini kita ke cafe yuk!" ajak Karina.


"Aku nggak bisa," jawab Azmia.


"Kenapa, sudah lama kita tidak ke sana?"


"Apa terjadi sesuatu?" Kini Melia yang bertanya.


"Nanti saja ceritanya setelah pulang kuliah kita ke apartemen ku," jawab Azmia.


"Sejak kapan kamu tinggal di apartemen lagi?" tanya Karina.


"Nanti saja ceritanya," jawab Azmia.


"Baiklah," ucap Karina.


Sambil menunggu dosen masuk seperti biasa Azmia membaca buku novel kesayangannya.


***


Di Kediaman Pranata


"Kenapa, itu muka cemberut terus?" tanya Mama Sonia saat melihat wajah Rania yang kusut.


"Mama." Rania menghampiri Mamanya yang sedang menonton acara televisi.


"Kenapa, Sayang. Bukankah semalam kamu habis bertemu dengan Alby?" tanya Mama Rania.


"Iya, tapi Mas Alby bikin kesel Nia," jawab Rania.


"Kenapa - kenapa, cerita sama Mama?" Mama Sonia menarik kepala Rania agar tiduran di pangkuan sang Mama.


"Mas Alby selalu saja mengungkit kejadian waktu itu bikin Azmia kesal, Mam. Mas Alby juga ngomongin Azmia terus. Ah ... pokoknya Mas Alby menyebalkan." Rania menceritakan semua yang terjadi semalam saat bersama Alby di taman kota.


"Sabar, Sayang. Melupakan seseorang memang butuh waktu tidak secepat kilat. Kamu harus lebih sabar agar bisa mendapatkan cinta Alby kembali. Cinta itu butuh perjuangan, sayang," ucap Mama Sonia.


"Iya, Ma," balas Rania.

__ADS_1


"Sekarang cepat rapi - rapi kemudian datang ke kantor Alby ajak makan siang bersama di luar," ujar Mama Sonia.


"Nia lagi malas ketemu Mas Alby," balas Rania.


"Jangan mudah menyerah untuk mencapai apa yang kita inginkan," ucap Mama Sonia.


"Baiklah," balas Rania kemudian bergegas masuk ke dalam kamar membersihkan diri.


***


Di apartemen


Setelah selesai kuliah Karina dan Melia ikut pulang Azmia ke apartemen.


Hanya butuh waktu satu jam untuk sampai di apartemen. Setelah memarkirkan mobilnya mereka bertiga keluar dari mobil berjalan menuju kamar Azmia.


"Ayo, masuk!" Azmia mempersilakan kedua sahabatnya untuk masuk ke dalam.


"Wah, sepertinya di modif ulang nih," ucap Karina saat melihat apartemen Azmia tampilannya sedikit berbeda dari yang dulu.


"Hanya di cat ulang sama menambahkan beberapa barang saja," balas Azmia.


"Es apa saja yang penting es," jawab Karina dan Melia bersama.


Azmia pun berjalan menuju dapur membuatkan minum untuk kedua sahabatnya.


"Mi, kok nggak ada foto nikahan kamu sih?" tanya Melia yang heran karena tak satupun foto Azmia bersama Alby dari ruang tamu hingga kamar yang terpajang hanya foto Azmia sendiri, foto bersama keluarga Pranata dan foto bersama keluarga Angga.


Sedangkan Karina berkeliling melihat-lihat sekeliling apartemen Azmia tanpa sengaja Karina melihat satu Album yang berada di atas meja tempat kerja Azmial karena penasaran Karina pun mengambil album tersebut kemudian membukanya. "Why?" teriak Karina.


"Kenapa, Rin?" tanya Azmia dan Melia bersama mereka pun langsung menghampiri Karina.


"Ada apaan sih, Rin?" tanya Melia.


"Ini - ini." Karina hanya menunjuk-nunjuk foto yang ada di tangannya.


"Coba lihat." Melis menghampiri Karina kemudian melihat foto yang di tunjuk Karina.

__ADS_1


"What? ini beneran?" Melia dan Karina saling menatap kemudian beralih menatap kearah Azmia.


"Apaan sih?" Azmia yang bingung dengan tatapan para sahabatnya seakan ingin menerkamnya hidup-hidup. Azmia yang tadinya duduk di sofa yang tak jauh dari tempat kerjanya seketika langsung berdiri melihat tatapan serius dari sahabatnya ia pun melangkah kan kakinya menghampiri kedua sahabatnya.


"Jelaskan pada kita, ini apa?" Karina memperlihatkan foto yang ada di tangannya.


"Oh ... itu, hanya foto masa lalu," jawab Azmia dengan santainya.


"Berarti kamu dengan Pak Devan sudah saling kenal sejak dulu?" tanya Karina.


"Iya. Kak Devan itu sahabat Bang Angga sekolah rumahnya juga berdekatan jadi setiap aku main di rumah Mommy pasti ada Kak Devan. Kak Devan itu seperti Bang Angga mereka berdua bagaikan pahlawan untuk ku karena selalu menjagaku, tidak membiarkan orang lain menyakiti ku, tapi semua berubah saat kita sudah sama-sama dewasa. Bang Angga dan Kak Devan harus melanjutkan pendidikannya di negeri orang karena itulah cita-cita mereka sejak kecil, saat itu aku harus bisa mandiri tanpa mereka di sampingku, tapi aku bersyukur saat SMA bisa mengenal kalian berdua." Azmia merangkul pundak ke dua sahabatnya.


"Oh ... begitu. Kira-kira Pak Jatuh cinta nggak sama kamu, Mi?" tanya Karina.


"Kamu bicara apa sih, Rin. Aku itu selalu menganggap Kak Devan seperti Kakak ku sendiri," balas Azmia.


"Itukan kamu, Mi kita tidak tahu bagaimana dengan Pak Devan," sahut Melia.


"Rasa itu hanya sebagai saudara Kakak dan Adik. Andaikan cinta juga semua itu sudah terlambat. Keadaan sudah berbeda," ucap Azmia tanpa dia sadari tiba-tiba air matanya mengalir.


"Mia, kok kamu nangis." Karina dan Melia bingung padahal mereka tidak berbicara yang aneh-aneh, tapi kenapa tiba-tiba Azmia menangis. Karina dan Melia langsung memeluk Azmia. "Apa kamu ada masalah?" tanya Karina.


Entah kenapa saat mengatakan keadaannya, ada rasa nyeri di hatinya, Azmia terbayang tentang kehidupan rumah tangganya yang berada di ujung tanduk.


"Aku nggak tahu harus bicara apa sama kalian, Aku hanya minta pada kalian jangan pernah memberi tahu keberadaan ku pada Mas Alby," ujar Azmia.


"Apa kamu berpenampilan seperti ini juga karena Mas Alby?" tanya Melia.


Azmia mengangguk. "Kenapa, Mi?" tanya Karina.


"Aku nggak tau harus dari mana cerita sama kalian, intinya aku hanya ingin bebas tak ingin berurusan dengan mereka lagi. Aku lelah, lebih baik aku mengalah asal keluarga Pranata bahagia," jelas Azmia.


"Apa Kak Rania berulah?" tebak Karina.


Azmia hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Mi, kenapa kamu harus terus mengalah ada saatnya untuk kamu bersikap tegas agar mereka tidak semena-mena," ucap Melia.

__ADS_1


"Mengalahkan bukan berarti kalah, Mel," balas Azmia karena diamnya orang mengalah itu ada suatu keindahan yang telah tersimpan di waktu yang akan datang.


__ADS_2