Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 214 obrolan


__ADS_3

Pagi hari


Seperti biasa bangun tidur mandi, sarapan, kemudian berangkat kuliah karena ada kelas pagi.


Hari ini Azmia berangkat bareng Karina. Semalam Karina di antar Daffa kembali ke cafe lovely sekalian dia jemput Alby.


"Semalam gimana, Rin?" tanya Azmia. Kini mereka sudah berada di dalam mobil perjalanan menuju kampus, karena semalam mereka belum sempat ngobrol selesai pertemuan langsung pada istirahat.


"Ya begitulah," jawab Karina.


"Begitu gimana kan kita beda tempat jadi aku nggak tau lah," ucap Azmia. Memangnya dia bisa nerawang seseorang jarak jauh.


"Ya intinya Kak Daffa meminta penjelasan dan kepastian dari aku antara mau lanjut atau berhenti gitu," jelas Karina.


"Oh, begitu. Terus kamu mau lanjut ke jenjang yang lebih serius?" tanya Azmia seperti polisi yang interogasi tersangka nanya mulu.


"Jujur ya, Mi. Aku masih ragu dengan semua ini, tapi entah kenapa semalam saat Kak Daffa bilang mau menghentikan sandiwara ini rasanya begitu sesak seakan nggak rela kalau harus berhenti begitu saja," jelas Karina. Mungkin karena memang Daffa adalah jodohnya.


"Wah ... sepertinya sudah tumbuh butir-butir cinta nih," goda Azmia.


"Ih ... apaan sih, Mi ngaco aja," ucap Karina dengan tersipu malu.


"Menurut kamu Kak Daffa itu sosok yang seperti apa?" tanya Azmia.


"Dia baik, dewasa, perhatian sepertinya di juga laki-laki yang penyayang," jawab Karina.


"Berarti malam minggu besok jadi tunangan kan?" tanya Azmia lagi.


"Insya'Allah, tapi semua itu tergantung Kak Daffa yang penting datang ke rumah bersama orang tua," jawab Karina.


"Mudah-mudahan lancar semuanya ya, Rin," ucap Azmia.


"Amin," balas Karina.

__ADS_1


Saking asyiknya ngobrol tanpa terasa kini mereka tiba di kampus.


Karina memarkirkan mobilnya terlebih dahulu setelah itu mereka berdua keluar dari mobil berjalan menuju ruang kelas.


"Mas Alby semalam ngapain ngajak ketemuan?" tanya Karina. Kini gantian Karina yang mengintrogasi Azmia. Mereka mengobrol sambil berjalan menuju kelas.


"Cuma kasih tau, kalau dua minggu lagi dia akan lamaran dan aku di suruh hadir," jawab Azmia.


"Jadi sama Mba Nila?" tanya Karina.


"Alhamdulillah," jawab Azmia.


"Terus kamu akan datang gitu?" tanya Karina.


"Insya'Allah, kalau nggak ada halangan," jawab Azmia.


"Hebat kamu, Mi kalau aku mah ogah suruh datang ke tempat mantan," ujar Karina.


"Assalamualaikum," sapa Ali saat berpapasan dengan Azmia dan Karina yang ingin masuk ke dalam kelas.


"Wa'alaikumussalam, Pak," balas Azmia dan Karina.


"Mi, dapat salam dari Mama. Mama juga bilang jika kamu ada waktu di suruh main ke rumah lagi," ucap Ali menyampaikan pesan Mamanya.


"Wa'alaikumussalam, iya, Pak. Oh, iya bagaimana kabar Mama Pak Ali apa beliau sudah sembuh?" tanya Azmia


"Alhamdulillah sekarang lebih baik. Kamu mau sibuk nggak hari ini?" tanya Ali.


"Tidak, memangnya kenapa?" Azmia bertanya lagi.


"Nanti main ke rumah ya," ucap Ali.


"Ok, tapi Mia boleh ajak Karina kan?"

__ADS_1


"Boleh. Nanti setelah kelas tunggu saya di parkiran," ujar Ali


"Baik, Pak Dosen," balas Azmia.


Setelah obrolan itu Azmia dan Karina masuk ke dalam kelas lebih dulu, kemudian di susul Ali dari belakang karena hari ini dia jadwal di kelas Azmia.


***


Di tempat lain


Sebelum berangkat ke kantor. Setelah selesai sarapan Alby mengajak Bunda duduk di sofa membicarakan tentang persiapan lamarannya.


"Al, kemarin kamu jadi kan kasih tau Azmia?" tanya Bunda.


"Jadi, Bun," jawab Alby.


"Kapan mau ke butik?" tanya Bunda karena waktunya hanya tinggal beberapa hari lagi.


"Terserah Bunda saja," jawab Alby. Dia memasrahkan seragam pada Bunda karena baginya Bunda lebih paham daripada dirinya.


Emak-emak kan emang lebih paham masalah fasion dari pada bapak-bapak.


"Baiklah, kalau begitu besok Bunda ke butik langganan Bunda bersama Azmia," ucap Bunda.


"Iya, besok Bunda kabarin Al kalau sudah di butik biar Al sama Nila nyusul ke sana," balas Alby.


"Iya." Bunda menganggukkan kepalanya.


"Yasudah kalau begitu, Al berangkat ke kantor dulu ya, Bun," pamit Alby sambil mencium pergelangan tangan Bundanya.


"Iya, hati-hati," balas Bunda.


Setelah berpamitan pada Bunda. Alby berjalan keluar rumah menuju parkiran mobil.

__ADS_1


__ADS_2