
Keesokan hari setelah kemarin bercerita pada Derry, kini Ardiaz mengikuti saran Derry untuk berbicara pada kedua orangtuanya.
Malam hari setelah selesai acara makan malam Ardiaz meminta Mama dan Papanya agar berkumpul di ruang keluarga.
"Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?" tanya Mama Irana membuka obrolan. Kini mereka sudah berkumpul duduk di sofa ruang keluarga.
"Iya, Ma," jawab Ardiaz sedikit ragu dengan niatnya.
"Sepertinya serius," ucap Papa Irwan karena Putranya jarang sekali punya waktu berkumpul dengan kedua orangtuanya. Saat libur Ardiaz menghabiskan waktu di rumah sakit atau nongkrong bareng temen-temennya.
"Begini, Ma, Pa. Ar ingin minta restu pada Mama dan Papa tentang hubungan Ar dengan Azmia," ujar Ardiaz mengungkapkan niatnya meminta persetujuan dari kedua orangtuanya, ya meskipun sebenarnya hubungan dia dengan Azmia masih berstatus pacar pura-pura.
"Mama setuju kok," balas Mama Irana.
"Iya, tapi ini masalahnya begini Ma ___." Ardiaz menghentikan ucapannya takut ada penolakan dari kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Kenapa sih, Ar. Apakah ada sesuatu yang menghalangi hubungan kalian?" tanya Mama Irana karena Ardiaz menghentikan ucapannya.
"Iya, Ma ini soal status Azmia," balas Ardiaz.
"Kalau Papa sih terserah kamu saja, Ar, tapi menurut Papa jika ada yang lain kenapa harus memilih dia," ucap Papa Irwan seakan dia sudah paham arah bicara putranya.
"Mama setuju dengan Papa kamu. Awalnya Mama memang sudah merestui hubungan kalian, tapi kalau dari awal Mama tahu status dia, pasti Mama akan pikir ulang," sambung Mama Irana.
"Kenapa, Ma. Bukankah semua sama saja?" tanya Ardiaz seolah meminta alasan pada kedua orangtuanya karena menolak setelah mengetahui status Azmia.
"Azmia wanita yang baik, Ma. Sholehah, mandiri." Ardiaz mencoba meyakinkan pada Mamanya jika Azmia adalah wanita idaman.
"Ar, kamu kan baru mengenal dia. Kamu belum tahu sifat dia, karakter dia, keluarga dia bibit bobotnya," ujar Mama Irana.
"Kalau dia memang wanita baik, kenapa berstatus j**da di usia dia yang terbilang masih muda, masih kuliah pula," lanjut Mama Irana. Menolak keras hubungan Putranya.
__ADS_1
"Kamu itu masih muda, Ar, carilah yang sepadan dengan kamu dan keluarga kita jangan mencoreng nama baik keluarga kita karena keinginan kamu yang tiba-tiba seperti ini. Pernikahan itu bukan mainan, bukan hubungan yang sehari dua hari, sebulan dua bulan, tapi kalau bisa seumur hidup sekali. Lagi pula kamu itu kan seorang dokter pasti banyaklah di rumah sakit yang lebih pantas untuk berada di samping mu," sambung Papa Irwan.
"Ma, Pa, tidak adakah kesempatan untuk Ardiaz memperkenalkan Azmia pada kalian? Ardiaz akan mengikuti keputusan Mama dan Papa, tapi dengan satu syarat," ucap Ardiaz.
"Apa syaratnya?" tanya Mama Irana.
"Ar ingin Mama dan Papa bertemu dengan Azmia malam minggu besok, kita makan malam bersama di restoran RN setelah itu Ar akan menuruti apapun keputusan Mama dan Papa," ujar Ardiaz. Dia mencoba untuk memperkenalkan Azmia pada kedua orangtuanya, barang kali setelah perkenalan itu Mama dan Papanya berubah pikiran.
"Ok, baiklah." Mama Irana menyetujui persyaratan yang di ajukan Ardiaz.
"Terima kasih, Ma. Kalau begitu Ar masuk ke dalam kamar dulu," ucap Ardiaz pada kedua orangtuanya.
"Iya," balas Mama Irana.
Setelah berpamitan pada Mama dan Papanya. Ardiaz meninggalkan ruang keluarga berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
__ADS_1
Sesampainya di kamar Ardiaz langsung menuju ke kasur merebahkan tubuhnya sambil menatap ke arah langit-langit kamar memikirkan ucapan ke dua orangtuanya yang menolak keras hubungan dia dengan Azmia. Ardiaz berpikir bagaimana nanti jika setelah pertemuan Mama dan Papanya tetap menolak Azmia, bagaimana dia menyampaikan pada Azmia.