Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 61 Pergi


__ADS_3

"Assalamualaikum," ucap Alby saat masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumussalam, lho kok sendirian, Den. Non Mia mana?" tanya Mbok Asih.


"Lho, Mbok. Azmia belum pulang?" tanya Alby.


"Belum, Den," jawab Mbok Asih.


"Kalau begitu, Alby keluar dulu ya Mbok," pamit Alby. "Oh, iya nanti jika Azmia sudah pulang tolong kabari Alby ya Mbok," ucap Alby sebelum benar-benar keluar dari rumah.


"Baik, Den," balas Mbok Asih dengan bingung. 'Ada apa sebenarnya,' batin Mbok Asih.


Setelah keluar dari gerbang rumah Alby melajukan mobilnya menuju cafe. Alby melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi jalanan yang sepi membuatnya lebih leluasa saat berkendara, tanpa memikirkan keselamatannya. Kini yang ada di benaknya yaitu cepat bertemu Azmia. Tak butuh waktu lama Alby sampai di cafe.


"Permisi, Mba. Apa ada Azmia?" tanya Alby di meja kasir.


"Maaf, Pak, tadi Mba Mia ijin libur," jawab Nina. Dia terpaksa berbohong karena Azmia menyuruh Nina agar tidak memberitahu siapapun jika dia ada di ruangan, karena Azmia lagi ingin sendiri.


"Oh, begitu ya, baiklah terima kasih, Mba," ucap Alby.


"Sama-sama," balas Nina.


Alby berjalan keluar cafe dengan gontai karena yang dia tidak ada, hatinya semakin gelisah memikirkan keberadaan istrinya, ponsel Azmia juga tidak bisa di hubungi. Andai waktu bisa di putar kembali mungkin dia tidak akan pernah meninggalkan Azmia sendiri di rumah itu. Alby ingin menghubungi Angga, tapi Alby takut Angga memarahinya. Memang penyesalan datangnya pasti belakangan.


Alby melajukan mobilnya keluar cafe entah kemana lagi dia akan mencari, Alby tak mengetahui tentang sahabat Azmia. Alby hanya bisa menelusuri jalanan barang kali Azmia duduk atau berjalan di trotoar jalan.


Hingga larut malam Alby berkeliling, tapi dia tak menemukan sosok yang ia cari karena tak tahu lagi harus kemana Alby memilih pulang ke rumah.


"Gimana, Den?" tanya Mbok Asih saat melihat Alby masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Alby hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Yang sabar ya, Den. Mudah-mudahan besok Non Mia pulang," ucap Mbok Asih mencoba menenangkan majikannya.


"Amin. Alby masuk kamar dulu ya, Mbok," pamit Alby.


"Iya, Den," balas Mbok Asih.


Setelah berpamitan pada Mbok Asih, Alby berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya, sampai di kamar Alby langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. 'Sebenarnya sekarang kamu ada dimana, Mi. Kenapa kamu harus pergi, aku belum menjelaskan apapun padamu, Mi. Jika kamu tahu yang sebenarnya pasti kamu akan bahagia,' batin Alby sambil memandangi langit kamarnya. Entah apa yang ada di pikiran Alby hanya dia yang tahu.


**


Di cafe.


"Mba Mia, ingin makan apa biar Nina buatkan?" tanya Nina.


"Mba Mia, nggak pulang?" tanya Nina.


"Sepertinya hari ini aku ingin bermalam di sini saja, Nin," jawab Azmia.


"Baiklah, kalau begitu Nina ke kamar dulu ya, Mba," pamit Nina kemudian berjalan keluar dari ruangan Azmia menuju kamar mes miliknya. Di cafe di sediakan beberapa kamar untuk para karyawan yang tidak pulang ke rumah.


Azmia mengangguk sebagai jawaban. Setelah Nina pergi, Azmia berdiri dari duduknya berjalan menuju kamar miliknya. Di ruangan Azmia juga tersedia kamar untuknya beristirahat. 'Maafkan Mia, Mas harus bermalam di sini tanpa memberimu kabar, Mia ingin menenangkan hati Mia terlebih dahulu, entah kenapa hati ini begitu sakit lebih sakit dari goresan luka karena terkena pisau,' batin Azmia sambil memandang menatap kearah langit-langit kamar.


*


*


*

__ADS_1


Di tempat lain.


"Gimana, sayang?"


"Sedikit, lagi Ma. Kita harus sedikit bersabar," jawabnya.


"Apa kalian tidak kasihan pada Azmia, kalau kamu memang mencintai Alby, kenapa saat itu kamu pergi meninggalkannya, memilih laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu." Kini Prabu angkat bicara.


"Papa gimana sih, harusnya Papa bantu anak kita supaya Azmia dan Alby bisa secepatnya berpisah," balas Sonia.


"Ma, dulu kita yang memaksanya untuk bersama Alby, sekarang kamu menyuruhku untuk memisahkan mereka. Papa seperti orang tua yang tidak berguna saja terus menindasnya," ujar Prabu.


"Anak Papa sebenarnya siapa sih Nia atau Azmia?" tanya Rania dengan nada sedikit tinggi. Kemudian dia menghampiri sang Mama memeluk Sonia sambil menangis. "Papa tidak sayang, Nia lagi, Ma," ucapnya sela-sela isak tangisnya.


"Kalian berdua anak Papa," balas Prabu.


"Namun, Papa tidak sayang Nia, Papa hanya sayang pada Azmia," ucap Rania.


"Bukan begitu, Nak. Papa hanya tidak ingin kalian bertengkar saja, sudah cukup kita membuatnya sedih, biarkan sekarang dia bahagia," jelas Prabu kemudian berdiri dari duduknya dari pada beradu mulut dengan anaknya.


"Ma." Rengek Rania.


"Sudahlah, nanti biar Mama yang bicara pada Papa." Sonia menenangkan anaknya.


Rania mengangguk.


"Sekarang tidurlah sudah larut malam!"


"Baik, Ma." Rania melepaskan pelukannya kemudian berdiri dari duduknya berjalan menuju kamar.

__ADS_1


__ADS_2