
Di hari terakhir refreshing sebelum nanti sore mereka semua pulang hari Angga menjadwalkan agar semua pergi di tempat yang sama agar bisa mengambil foto bersama.
"Kalian sudah siap?" teriak Angga. Dia seperti pemandu acara rekreasi.
"Siap, Bos," jawab semuanya.
Mereka berjalan bersama Angga berada di barisan paling depan bersama Devan serta Ali. Sedangkan Azmia, Karina, Melia dan Derry memilih berada di barisan paling belakang.
"Luka kamu sudah sembuh, Mi?" tanya Melia.
"Alhamdulillah sudah, Mel," jawab Azmia.
"Oh, iya gimana sudah ada tanda-tanda ada ponakan buat kita?" goda Karina sambil menyenggol lengan Melia.
"Doain saja, Rin." Bukan Melia yang menjawab melainkan Derry.
"Band Fakhri nggak ada yang ikut, Mi?" tanya Derry.
"Enggak, Kak. Mereka katanya ada tugas kuliah," jawab Azmia.
"Suami kamu nggak ikut, Mi?" tanya Derry.
Azmia tersenyum getir. "Mas Alby sedang ada tugas di luar kota," jawab Azmia berbohong karena nggak mungkin dia berkata yang sejujurnya di tempat umum seperti ini.
Mendengar jawaban Azmia, Karina langsung menoleh ke arah Azmia seakan bertanya kenapa berbohong.
Azmia yang mengerti dengan tatapan mata Karina, dia pun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Setelah sekitar dua puluh menit berjalan kini mereka tiba di lokasi pantai BR, tapi bukan sekedar pantai di situ terdapat toko yang menjual oleh-oleh, terus ada taman, ada tempat khusus foto pokoknya disini tempat yang harus di kunjungi bagi para wisatawan.
Mereka foto bersama sebelum berpencar dengan tujuan masing-masing.
"Rin, kita duduk di ayunan itu yuk!" Azmia menunjuk ke arah ayunan yang berada tak jauh dari gerbang.
"Ok." Mereka berdua berjalan menuju ayunan.
"Kenapa, tadi berbohong ke Kak Derry?" tanya Karina. Kini mereka sudah duduk di ayunan.
"Tidak bermaksud berbohong, tapi belum saatnya saja mereka tahu biar Allah saja yang memberi tahu," jawab Azmia.
"Apa, setelah perceraian, Mas Alby pernah menghubungi mu?" tanya Karina.
"Pernah beberapa kali," jawab Azmia.
"Nanyain apaan tuh, Mi?" selidik Karina.
"Ya paling nanyain kabar, terus ngajak ketemuan, tapi kalau ketemuan selalu aku tolak,"balas Azmia dengan jujur. Mereka mengobrol sambil mengayunkan ayunan.
"Kenapa?" tanya Karina.
"Supaya Mas Alby mencari kehidupan yang baru," jawab Azmia.
__ADS_1
"Semoga kamu juga bisa menemukan pendamping yang terbaik," ucap Karina.
"Amin," balas Azmia.
"Kalian nggak keliling ini hari terakhir lho kita refreshing?" tanya Melia saat menghampiri kedua sahabatnya kemudian duduk di samping Karina.
"Lagi males nih," jawab Azmia.
"Aku ngikut Azmia saja, kalau aku tinggal kasihan dia sendirian," sambung Karina.
"Kamu sendiri, Mel? Kak Derry mana?" tanya Azmia.
"Tadi sih bilangnya ke toilet, tau tuh lama banget," jawab Melia.
"Kita ke toko oleh-oleh yuk!" Melia mengajak Azmia dan Karina mengunjungi toko oleh-oleh .
"Ayolah!" Azmia menyetujui ajakan Melia. Mereka pun berdiri dari ayunan berjalan menuju toko oleh-oleh.
"Suasana disini berbeda sekali ya dengan tempat yang lain, di sini lebih sejuk," ucap Karina.
"Betul banget, Rin," balas Melia.
"Kalian mau kemana?" tanya Angga saat berpapasan dengan ketiga trio wek-wek.
"Kita ingin lihat-lihat pedagang oleh-oleh," jawab Azmia.
"Yasudah bareng sekalian," ucap Angga.
"Enggak," jawab Angga.
"Terus mau ngapain?" tanya Azmia.
"Ngikutin kamu aja," jawab Angga.
"Hist ... Abang nggak jelas," ujar Azmia kemudian berjalan lebih cepat.
"Dek, tungguin nanti nggak Abang bayarin lho," teriak Angga.
"Biarin, nanti Mia di bayarin Karina," balas Azmia.
"Mana ada begitu yang ada aku yang nyari gretongan," sambung Karina.
"Kamu mah, Rin nggak jauh-jauh dari gretongan, sultan juga masih aja suka yang gretongan," ucap Melia.
"Yang sultan nyokap bukan aku," balas Karina.
"Sudahlah, kenapa jadi bahas begituan." Azmia menghentikan perdebatan kedua sahabatnya.
"Wah, bagus-bagus sekali bajunya," ucap Karina.
"Iya, jadi bingung pilih yang mana ya," balas Melia.
__ADS_1
"Iya, aku juga bingung," sambung Azmia.
Mereka bertiga memilih beberapa baju serta membeli cemilan khas kota R. Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan mereka bertiga bergegas kembali ke hotel.
"Mau kemana?" tanya Devan.
"Ke hotel udah dapat banyak nih," jawab Azmia.
"Duh, dasar emak-emak ya," ucap Devan sambil menepuk jidatnya.
"Kenapa dengan kita nggak ada yang salah," balas Azmia.
"Iya, Pak Devan kenapa sih?" sambung Karina.
"Ngomong sama mereka tambah bikin tambah puyeng," ucap Angga pada Devan.
"Bener juga lu, Ga. Adek lu, Bambang," balas Devan.
"Iya, ya. Ah ... sudahlah biarin mereka kembali ke hotel," ucap Angga.
"Ih ... pada nggak jelas. Ayolah!" Azmia mengajak kedua sahabatnya melanjutkan perjalanan menuju hotel.
Angga sama Devan hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan adek angkatnya. Pokonya kalau melawan emak-emak nggak akan menang.
"Ga, kok gue baru sadar ya, si Alby nggak ikut pergi?" tanya Devan.
"Tanya saja sama Azmia," jawab Angga. Bukan tak mau memberi tahu Devan, tapi dia takut salah bicara jadi lebih baik kalau Devan nanya sendiri ke Azmia. Lagi pula itu adalah urusan pribadi adeknya, jadi dia nggak berani mengumbar ke orang lain meskipun Devan orang terdekat mereka.
"Ada yang lu sembunyikan ke gue ya?" tebak Devan.
"Nggak, tapi kan alangkah baiknya lu nanya langsung aja ke Azmia," jawab Angga.
"Sudahlah yuk, balik ke hotel udah hampir Zuhur nih," ucap Ali menghentikan obrolan kedua sahabatnya.
"Lu nggak beli oleh-oleh buat si Bella, Al?" tanya Devan.
"Siapa, Bella?" Ali balik bertanya.
"Pura-pura lupa, awas amnesia beneran lu," jawab Devan.
"Bella yang sriwilkutil itu?" tanya Angga sambil tertawa.
"Iya, dia," balas Devan.
"Tau, ah," kesal Ali kemudian berlalu pergi meninggalkan ke dua sahabat terlaknatnya.
Devan dan Angga yang melihat Ali pergi begitu saja tertawa sambil berjalan mengikuti Ali dari belakang.
***
'Kenapa kamu nggak mau jujur padaku, Mi. Kalau kamu sudah cerai. Apa kamu takut jika hatiku masih ada kamu, tapi jika boleh jujur namamu akan selalu ada di hatiku sampai kapanpun meski sudah ada orang lain yang menemani perjalanan hidupku. Andai aku tahu jika semua akan seperti ini maka saat itu aku akan menolak perjodohan itu.'
__ADS_1