
Sesampainya di lantai bawah ternyata sudah pada berkumpul. Azmia dan Karina menghampiri meja Revan dan Kabin. "Selamat pagi," sapa Azmia dan Karina.
"Pagi, juga Kakak ipar ku sayang," balas Revan. "Silakan duduk!" Revan menggeserkan kursi untuk Azmia duduk.
"Terima kasih, Kak," ucap Azmia.
"Sama-sama," balas Revan.
"Kalian kemana aja sih lama sekali," omel Melia. Saat dia tahu Azmia dan Karina duduk di meja Revan. Melia langsung menghampirinya.
"Noh, mandi kembang dulu," ucap Azmia sambil menunjuk ke arah Karina.
Karina memasang senyum Pepsodent.
"Kebiasaan," ucap Melia.
"Sudah, sana!" Karina mengusir Melia.
"Bentar. Mi, Pak Devan dan Bang Angga kok belum kelihatan ya?" tanya Melia karena tak melihat Devan dan Angga sarapan bersama.
"Mereka sudah pergi setelah subuh karena ada urusan penting," jawab Azmia.
"Oh, begitu," balas Melia kemudian pergi berjalan menghampiri suaminya lagi.
*
*
*
***
Di kantor.
__ADS_1
Sesampainya di kantor Alby dan Daffa langsung bergegas menuju ruangan. Kebiasaan Daffa dia bukan menuju ruangannya melainkan duduk manis di ruangan Alby.
"Al, gimana semalam?" tanya Daffa.
"Sepertinya gue harus menyerah, Daf dan membiarkannya bahagia dengan yang lain," balas Alby.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Daffa.
"Azmia tak ingin kembali lagi, dia bersikeras untuk melanjutkan perceraian kita. Gue nggak bisa maksa dia untuk kembali, tapi gue juga nggak rela jika harus kehilangan dia," jelas Alby karena kegalauannya dia sampai tidak bisa tidur hingga menjelang pagi. Cinta terkadang membuat kita merana.
"Pikirkan baik-baik sebelum mengambil keputusan karena ini menyangkut masa depan lu," ucap Daffa menasehati Alby.
"Iya. Dia memang nggak cinta sama gue," balas Alby.
"Azmia tuh bukan nggak cinta, Al, tapi dia juga bingung harus memilih siapa antara lu atau keluarganya. Sudahlah, sekarang lu tandatangi saja surat itu dan lu lanjutkan hubungan lu sama Rania. Ya meskipun kembali ke masa lalu itu kurang bagus," ucap Daffa.
"Kenapa sih di harus selalu jadi orang baik." Alby jadi merasa kesal sendiri dengan istrinya karena mempunyai hati yang begitu baik, sehingga dengan mudah orang memanfaatkan dirinya.
***
Kembali ke hotel
Setelah selesai sarapan bersama ada sebagian keluarga yang pulang ke rumah ada juga yang masih betah tinggal di hotel.
Azmia dan Karina juga masih memilih di hotel nanti sore baru dia akan pulang.
"Mi, semalam kamu dari mana? aku lihat kamu dari arah parkiran." Karina merasa aneh karena Azmia tiba-tiba hilang beberapa saat kemudian tanpa sengaja dia melihat Azmia berjalan dari arah perkiran.
"Ngobrol sama Mas Alby karena jika di dalam tidak nyaman ada banyak orang," balas Azmia dengan jujur.
"Oh, aku kira kamu dari mana. Memangnya Mas Alby datang?" tanya Karina karena dia tidak melihat suami Azmia berada di tempat acara.
"Iya, tamu dari papa Kak Derry," jawab Azmia.
__ADS_1
"Oh. Kamu nggak ikut pulang?"
"Itu tidak akan mungkin terjadi, Rin," balas Azmia karena baginya semua sudah selesai.
"Azmia, Karina," teriak seseorang dari depan pintu.
"Itu suara Melia kan, Mi?" tanya Karina.
"Iya," jawab Azmia kemudian bergegas membukakan pintu untuk Melia.
"Ada apaan sih, Mel teriak-teriak?" Azmia yang heran sama Melia senang sekali ke kamarnya.
"Ini apa ini?" Melia memperlihatkan ponselnya pada Azmia.
"Masuk dulu!" Azmia menarik Melia agar masuk terlebih dahulu. Azmia membawa Melia duduk di atas kasur sebelah Karina.
"Apaan sih, Mel?" tanya Karina.
"Tuh lihat apaan ini?" Melia memperlihatkan ponselnya pada Azmia dan Karina.
"Sudah lihat dari pagi," ucap Azmia dan Karina bersama.
"Yah, aku telat dong," ujar Melia.
"Hemmm." Azmia dan Karina mengangguk.
"Besok saat masuk kuliah bisa jadi trending topik nih, pak Devan," ucap Melia.
"Itu sudah pasti," balas Karina.
"Biarin, biar cepat nyusul kamu, Mel," sambung Azmia.
"Amin," ucap Karina dan Melia bersama mengaminkan doa Azmia.
__ADS_1