
Musibah memang kita tak pernah ada yang tahu kapan dia akan datang. Dan pertemuan yang seharusnya di hindari tak bisa kita tolak jika Allah sudah menghendaki.
Allah sudah mengatur semuanya.
**
"Mel," panggil Azmia.
"Iya, Mi. Ada apa?" tanya Melia. Melia menghentikan aktivitasnya yang tadi sedang merapikan buku-bukunya karena sudah jam pulang kuliah.
"Rencananya bulan depan aku akan pergi berlibur kamu dan Kak Derry ikut ya," ucap Azmia.
"Insya'Allah, nanti aku bilang dulu ke Kak Derry," balas Melia.
"Ok. Ayo!" Azmia mengajak Melia keluar kelas bareng.
Melia pun mengangguk kemudian berdiri dari duduknya melangkahkan kakinya keluar kelas menuju parkiran.
Sesampainya di parkiran mereka harus berpisah karena Melia membawa mobil sendiri, sedangkan Azmia pulang bersama Karina. Sejak Azmia tinggal di cafe lovely Karina lebih sering ikut Azmia menginap di cafe dari pada pulang ke rumahnya.
Karina malas jika harus pulang ke rumah karena orang tuanya sering ada kerjaan keluar kota jadi kalau dia tinggal di rumah hanya bersama art.
Karina akan pulang ke rumah jika orang tuanya pulang.
"Gimana, Mi. Melia mau ikut?" tanya Karina.
"Nanti dia bilang dulu ke Kak Derry," jawab Azmia.
"Mi, mampir dulu ya ke supermarket," ujar Karina.
"Iya," balas Karina.
Karina memarkirkan mobilnya saat sampai di supermarket yang tak jauh dari kampus.
"Kamu mau ikut turun apa di sini saja?" tanya Karina sebelum dia keluar mobil.
"Aku tunggu di mobil saja," jawab Azmia.
"Baiklah." Karina keluar dari mobil seorang diri kemudian dia berjalan masuk ke dalam supermarket membeli beberapa keperluannya. Setelah mendapatkan apa yang di cari Karina membawa ke meja kasir membayar belanjanya terlebih dahulu. Selesai membayar Karina keluar supermarket dengan membawa dua kantong belanja.
__ADS_1
"Banyak banget itu belanjaan," ucap Azmia saat melihat Karina menaruh tas belanjanya di kursi belakang.
"Buat stok, Mi," balas Karina.
Selesai belanja mereka melanjutkan perjalanannya menuju cafe, tapi saat baru beberapa meter jalan mereka di kejutkan dengan kejadian yang di luar dugaannya.
"Mi, ada apa itu ramai sekali," ucap Karina.
"Iya, sepertinya sedang terjadi kecelakaan," balas Azmia.
Baru saja mereka diam tiba-tiba mobil mereka di stop seseorang. Karina pun membuka jendela.
"Ada apa, Pak kenapa berdiri di depan mobil itu sangat berbahaya," ucap Karina.
Bapak-bapak paruh baya yang menyetop mobil Karina berjalan menghampiri Karina.
"Tolong, Mba itu ada ibu-ibu tadi tertabrak mobil dan lukanya sangat parah sedangkan mobil yang menabrak pergi begitu saja," ucap bapak-bapak paruh baya berdiri di samping mobil Karina tepatnya berdiri di samping jendela sopir.
"Baiklah, tolong angkat bawa ke mobil saya, Pak," balas Karina.
Bapak tersebut berlari menghampiri kerumunan kemudian tak lama kemudian beliau kembali bersama beberapa orang menggotong tubuh korban tabrak lari ingin memasukkan korban ke dalam mobil Karina.
"Mba nya kenal dengan Ibu ini?" tanya Bapak-bapak yang membawa korban.
"Iya, Pak. Beliau adalah mertua saya," jawab Azmia. "Cepat masukkan ke dalam mobil, Pak!" ucap Azmia.
Orang-orang itu memasukkan korban ke kursi bagian belakang.
"Terima kasih, Pak," ucap Azmia pada para orang-orang yang menolong Bunda.
"Rin, cepat Rin!" Azmia menyuruh Azmia agar segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Azmia terus saja memandangi wajah Bunda Rita sambil mengelus lembut wajah Bunda yang penuh dengan darah.
"Bunda, kenapa bisa seperti ini. Bunda bangunlah ini Mia, Bun. Bertahan ya Bun sebentar lagi kita sampai di rumah sakit," ucap Azmia dengan lirih air matanya tak henti-hentinya mengalir membasahi pipinya.
Tak butuh waktu lama kini mobil Karina telah sampai di rumah sakit. Karina segera keluar dari mobil. "Dokter, suster," teriak Karina di depan rumah sakit.
Perawat yang mendengar teriakan Karina langsung lari sambil mendorong brankar.
Karina membuka pintu mobil kemudian para perawat langsung mengangkat tubuh Bunda Rita memindahkannya di atas brankar setelah itu mendorongnya masuk kedalam rumah sakit Azmia selalu setia berada di samping Bunda. "Langsung bawa ke ruang IGD," teriak salah satu dokter yang tadi sudah di beri tahu salah satu perawat.
__ADS_1
"Tolong tunggu di luar ya, Mba," ucap salah satu perawat saat sampai di depan ruang IGD.
Azmia mengangguk. Dia berdiri di depan pintu IGD.
"Mi, tenanglah jangan terus menangis!" Karina memeluk tubuh Azmia mencoba menenangkan sahabatnya agar tidak terus bersedih.
"Bunda, Rin. Bunda," ucap Azmia di sela-sela pelukannya dia terus menangis tak tega melihat mertuanya terbaring sakit seperti itu.
"Kita do'akan, Bunda mudah-mudahan Bunda cepat siuman dan segera pulih kembali," sambung Karina sambil mengelus lembut punggung Azmia.
"Kita duduk dulu ya!" Karina melepas pelukannya mengajak Azmia agar duduk di kursi tunggu depan ruangan.
Azmia menyandarkan kepalanya di bahu Karina.
"Mia," panggil seseorang yang baru datang.
"Ayah," ucap Azmia saat melihat seseorang yang memanggilnya. Azmia langsung berdiri menghampiri Ayah Wisnu.
"Bagaimana keadaan, Bunda?" tanya Ayah Wisnu. Ayah Wisnu sudah mengetahui jika Nisa itu Azmia. Bunda Rita sudah menceritakan semuanya pada Ayah Wisnu.
Azmia hanya membalasnya dengan gelengan kepala. Azmia kembali menangis.
"Jangan menangis, Bunda pasti baik-baik saja.," ucap Ayah Wisnu sambil mengelus lembut kepala Azmia.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ayah Wisnu dengan nada pelan. Kini mereka sudah duduk di kursi tunggu.
"Mia, juga tidak tahu pasti, Yah. Tadi saat Mia pulang kuliah tiba-tiba di pertengahan jalan saat Mia ingin menuju cafe ada bapak-bapak yang menghadang mobil kita minta bantuan agar membawa korban tabrak lari yang ternyata itu adalah Bunda." Azmia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dia juga nggak menyangka akan bertemu Bunda dengan cara seperti ini.
Tak berselang lama salah satu perawat dan dokter keluar dari ruangan.
"Keluarga, Nyonya Rita," panggil perawat.
"Saya suaminya, Sus," ucap Ayah Wisnu dengan cepat langsung menghampiri perawat tersebut.
"Silakan ikut dokter ya, Pak!" perawat menyuruh agar Ayah Wisnu ikut ke ruangan dokter.
"Mari silakan, Pak!" Dokter mempersilakan Ayah Wisnu agar mengikutinya.
Ayah Wisnu pun mengangguk kemudian mengikuti langkah dokter.
__ADS_1
"Apa terjadi sesuatu yang serius ya, Rin? hingga Ayah di suruh ke ruangan dokter." Azmia harap-harap cemas. Kecemasan semakin meningkat saat Ayah Wisnu di suruh ke ruang dokter.