
"Sayang, perlengkapan si cantik sudah di siapkan di kamar mu ya," ucap Bunda Rita pada Azmia.
"Iya, Bun," balas Azmia.
"Sekarang bawa Nia ke kamar dulu supaya istirahat," ujar Bunda.
"Baik, Bun."
"Anak Papa sekarang ikut Bunda Mia dulu ya, Nia nggak boleh rewel ya, nanti kasihan Bunda." Alby berkata pada Putrinya kemudian dia berikan Nia pada Azmia supaya istirahat.
"Mia bawa Nia dulu ya, Bun." Azmia dan Revan ijin membawa Nia ke kamarnya.
"Iya, Sayang," balas Bunda.
Sesampainya di kamar, Azmia menidurkan Alnia di kasur kecil yang sudah di siapkan Mba Lasmi.
"Peri cantik, bobo dulu ya sayang." Azmia mencium pipi Nia kemudian dia tidurkan Nia di ranjang.
"Sayang, apa perlu Kakak carikan baby sister?" tanya Revan.
"Tidak perlu, Kak. Mia ingin mengurus Nia sendiri saja. Lagi pula di rumah kita kan sudah ada Mbok Asih," jawab Azmia.
"Baiklah kalau begitu. Kalau nanti memang butuh baby sister kamu bilang ke Kakak ya," ucap Revan.
"Iya, Ay. Terima kasih ya," ujar Azmia.
"Untuk?"
__ADS_1
"Semuanya," jawab Azmia.
****
Di kamar Alby.
Setelah Azmia membawa Nia ke kamar. Alby juga masuk ke dalam kamarnya.
"Sabar ya, suatu hari nanti pasti akan ada keindahan yang datang menghampirimu." Bunda berkata sambil memegang pundak putranya. Hatinya terasa teriris saat melihat putranya begitu rapuh seperti saat ini kehilangan istri dan harus jauh dengan putrinya.
"Jika kamu ingin menangis, maka menangislah Bunda akan selalu ada untukmu."
Tanpa ucapan dan kata Alby mengubah posisi duduknya menjadi rebahan menidurkan kepalanya di pangkuan Bunda.
Sebagai orang tua yang ikatan batinnya lebih kuat. Bunda bisa merasakan bagaimana keadaan putranya saat ini.
Bunda mengelus lembut kepala putranya. Alby memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut dari Bunda tercinta yang sudah lama tak pernah ia rasakan.
"Bunda, apa setelah ini Al bisa tinggal disini lagi bersama Bunda dan Ayah?" tanya Alby masih dengan mode mata tertutup rapat hanya mulut saja yang berbicara.
"Tentu saja boleh, pintu rumah Bunda selalu terbuka untukmu, Nak," jawab Bunda.
"Al, nggak mau tinggal di rumah Al. Di sana sepi dan terlalu banyak kenangan," ucap Alby.
"Tanpa di rumah pun kenangan itu pasti selalu ada dalam ingatan, Al. Bunda sih terserah kamu mau tinggal dimana yang terpenting kamu selalu jaga diri, kesehatan," balas Bunda.
"Iya, Bun."
__ADS_1
****
Di tempat lain.
"Mas, kamu sudah denger belum, kalau kakak iparnya Azmia meninggal dunia?" tanya Delisa.
"Innalilahi wa innailaihi raji'un, kapan meninggalnya?" tanya Ardiaz.
"Tiga hari yang lalu, aku baru tahu lihat story Karina," jawab Delisa.
"Yasudah nanti aku coba telpon Mama supaya ke rumah duka, karena nggak mungkin kita pulang lagi," ucap Ardiaz.
"Iya, Mas," balas Delisa.
****
Di kamar
Azmia dan Revan kini sudah mulai siap siaga jika Alnia menangis mereka berdua bergantian menjaga Alnia. Kini Alnia masih tertidur pulas setelah meminum susu.
"Kak," panggil Azmia.
Revan dan Azmia kini berada di atas ranjang duduk bersandar di kepala ranjang.
"Iya, Sayang," balas Revan.
"Saat melihat Alnia, Mia jadi terbayang diri Mia sendiri," ujar Azmia sambil menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.
__ADS_1
Mendengar ucapan istrinya yang serius. Revan langsung menutup layar laptopnya.
"Maksudnya?" tanya Revan yang penasaran.