Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 384 Ide cemerlang


__ADS_3

Hari demi hari Azmia lalui. Setelah mempunyai Alnia, sekarang Azmia memilih kerja di rumah. Azmia meminta Karina untuk bekerja di kantornya supaya bisa memantau keadaaan di kantor selama dia berada di rumah.


 Azmia bukan tidak percaya dengan sekretarisnya, tapi untuk mempercayai seseorang itu tidak bisa di lihat dari tampilan dan cara kerjanya, karena terkadang orang curang dengan cara yang halus sehingga tidak bisa terlihat langsung kelicikannya.


 Sedangkan Karina orang yang sudah bertahun-tahun bersamanya suka duka udah mereka alami bersama.


*


*


*


 "Permisi, Non ini tehnya," ucap Mbok Asih.


 "Iya, masuk saja!" balas Azmia mempersilakan Mbok Asih masuk ke dalam karena pintu tidak di kunci.


 Setelah mendapat jawaban dari Azmia. Mbok Asih melangkah masuk ke dalam mengantarkan segelas es teh manis sesuai permintaan Azmia.


 "Biar, Alnia sama saya saja ya, Non." Mbok Asih menawarkan untuk menjaga Alnia.


 "Apa kerjaan Mbok Asih tidak sibuk?" tanya Azmia.


 "Tidak, Non. Kerjaan si Mbok sudah beres semua," jawab Mbok Asih.


 "Baiklah, kalau begitu. Terima kasih ya, Mbok," ujar Azmia.


 "Iya, Non sama-sama," balas Mbok Asih.

__ADS_1


"Alnia ikut si Mbok ya, Bunda biar kerja dulu," ucap Mbok Asih sambil menggendong Alnia.


 "Si Mbok permisi dulu ya, Non," pamit Mbok Asih.


 "Iya, Mbok," balas Azmia.


 Mbok Asih membawa Alnia ke teras rumah menikmati udara luar.


 "Loh, Bu kok si kecil di bawa keluar," ujar Mang Udin saat melihat Mbok Asih membawa Alnia di teras rumah.


 "Iya, Pak. Si Mbok nggak tega lihat Non Mia kerja sambil jagain Alnia jadi si Mbok ajak saja Alnia supaya Non Mia bisa fokus kerja," balas Mbok Asih.


 "Tumben jam segini Non Mia sudah di ruang kerja," ucap Mang Udin.


"Sepertinya lagi meeting, Pak karena tadi ada suara orang ngomong," jelas Mbok Asih.


  "Jangan dong, Mang nanti kalau di cubit aku nangis," balas Mbok Asih dengan nada anak kecil.


 "Kenapa ya, Bu dulu Non Nila benci banget dengan Non Mia padahal Non Mia baik banget, lihat sekarang meskipun Non Nila sering menyakiti dia, tapi dia bersedia mengasuh putrinya. Mudah-mudahan nanti Alnia sifatnya sama kayak Bunda Mia ya, sayang, baik hati, sederhana tidak sombong." Mang Udin berkata sambil mengelus lembut kepala Alnia.


 "Amin. Sudahlah, Pak jangan di bahas lagi nggak baik orangnya kan sudah meninggal." Mbok menasehati suaminya supaya tidak mengungkit lagi kehidupan orang yang sudah meninggal.


"Iya, Bu," balas Mang Udin.


*


*

__ADS_1


*


Di kantor


Setelah meeting dengan para petinggi kantor Alby bergegas kembali ke ruangannya di ikuti Daffa dari belakang.


"Lu, kenapa sih, Al lemes banget, Lu belum sarapan?" tanya Daffa. Dia melihat Alby hari ini berbeda dengan hari biasanya. Hari ini Alby terlihat sangat lesu, tak berdaya seakan separuh jiwanya hilang.


"Sudah," jawab Alby.


"Lalu kenapa melehoy begitu nggak semangat banget?" tanya Daffa menyelidik.


"Gue kangen sama Alnia," jawab Alby sambil mengelus lembut foto Alnia yang ada di mejanya. Kini di meja kerjanya terdapat foto dia dan Alnia.


"Kalau lu kangen kan tinggal ke rumah Revan begitu saja kok repot," ujar Daffa.


"Gue kan enggak enak hati jika terus berkunjung ke rumah Revan, gue takut Revan cemburu atau salah paham," balas Alby.


"Revan nggak sebodoh itu kali, Al. Kalau nggak begini saja nanti malam minggu kita main ke rumah Revan bersama biar gue ajak Karina." Daffa memberikan solusi.


"Ide bagus tuh, bolehlah kalau begitu." Alby menyetujui ide Daffa yang cemerlang.


"Ok, deh nanti gue bilang dulu ke Karina. Kalau sama Karina kan lebih enak. Azmia bisa ngobrol dengan Karina sedangkan, lu bisa sepuasnya bareng Alnia," ucap Daffa.


"Tumben pinter," balas Alby.


"Memang gue pinter dari lahir," balas Daffa dengan tertawa.

__ADS_1


__ADS_2