Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 113


__ADS_3

"Cie," ledek Karina.


"Apaan sih, Rin," ucap Azmia.


"Kakak jangan aneh-aneh deh. Mia tuh masih punya suami," ujar Azmia meskipun dalam hati berkata lain.


"Mana suami Mia memangnya dia masih menganggap kamu sebagai istrinya?" tanya Devan.


"Enggak tahu juga. Nggak apa sih nggak di anggap. Dari dulu juga memang aku istri yang tak di anggap. Aku kan hanya sebagai peran pengganti." Azmia berkata dengan mata berkaca-kaca sakit rasanya saat dia mengucapkan kata-kata itu. Azmia berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh. Azmia meminum dan memasukkan cemilan ke dalam mulutnya agar bisa menenangkan hatinya.


"Jangan pernah berkata seperti itu di depan Kakak. Ketika kamu tersakiti, Kakak juga merasa sakit melihat bidadari Kakak di sakiti. Dik, masih banyak orang yang mencintai dan menyayangi mu, jangan pernah merasa sendiri dengan luka itu karena kami akan selalu ada untukmu." Devan mengelus lembut kepala Azmia.


Azmia pun hanya bisa menganggukkan kepalanya. Sulit baginya untuk mengucapkan kata-kata.


"Mi, kamu lapar apa doyan?" tanya Karina saat melihat Azmia memasukkan banyak makanan ke dalam mulutnya dengan cepat.


"Awas nanti gemuk," ledek Devan.


"Biarin," balas Azmia masih saja memakan cemilan yang ada di meja.


"Makanlah sesukamu jika itu mampu membuat mu lega," ujar Devan.


Azmia hanya membalasnya dengan senyuman.


Terkadang saat kita sakit hati rasanya selera makan tuh hilang. Berbeda dengan Azmia dia melampiaskan kekesalannya dengan banyak memakan agar bisa mengontrol emosinya dan menstabilkan hatinya yang sedang tidak baik-baik saja.


"Abang Angga kemana, Pak?" tanya Karina karena tak melihat sosok Angga ada di dalam cafe.


"Angga belum bisa hadir karena tadi pagi tiba-tiba dapat telpon dari asistennya agar datang ke perusahaan karena ada meeting dadakan," jawab Devan.


"Oh ... begitu."


**


"Selamat ya, Mel-Mel," ucap Revan sambil memberikan burket uang yang ukurannya lumayan besar.


"Terima kasih ya, Kak," balas Melia setelah menerima burket uang yang di berikan Revan.


Kini giliran Kabin. "Selamat, Mel. Jangan lupa setelah ini masak." Kabin memberikan burket perlengkapan dapur. Sendok makan, sendok teh, garpu bumbu masak instan. Bukan Kabin dan Revan namanya jika nggak jahil.


"Parah lu, Kak masa gue di kasih beginian," ucap Melia.


"Biar lu pinter masak, hahaha," balas Kabin.


"Ngeledek, tapi gue tetap senang banget kalian berdua bisa hadir di acara pernikahan gue. Kalian pulang pasti demi gue kan?"


"PD benget lu. Kita tuh pulang ada acara keluarga," balas Kabin.


"Tinggal iya aja gitu, Kak biar gue seneng," ujar Melia.


"Iya-iya dah," balas Kabin.


"Oh, iya, Mel. Azmia mana?" tanya Revan.

__ADS_1


Melia mengarahkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari keberadaan Azmia. "Nah, itu dia, Kak yang duduk di kursi meja paling ujung," balas Melia.


"Ok." Gue kesana dulu ya Kabin dan Revan turun dari panggung pelaminan berjalan menuju meja Azmia.


"Assalamualaikum," ucap Revan dan Kabin..


Azmia yang merasa kenal dengan suara itu ia pun langsung menoleh ke belakang. "Kak Revan," ucap Azmia dengan ekspresi terkejut karena tak menyangka Revan bakalan pulang.


"Salam ku belum di jawab," ujar Revan dengan tersenyum manis.


"Wa'alaikumussalam," balas Azmia dengan tersenyum.


"Boleh gabung?" tanya Kabin.


"Silakan, Kak," jawab Karina.


Revan duduk di samping Azmia sedangkan Kabin duduk di samping Karina.


"Duh ... di apit sama pejuang cinta," sindir Karina saat melihat Revan duduk di samping kanan Azmia sedangkan Devan duduk samping kiri Azmia.


Azmia yang sedang meminum pun langsung tersendak.


"Kamu tidak apa, Dik." Devan memberikan segelas air.


"Kamu tak apa, Mi." Revan juga menyodorkan segelas minum.


"Duh ... senangnya di perhatikan dua pejuang cinta," celetuk Karina.


"Mia, tidak apa-apa, Kak," balas Azmia.


"Kamu hari ini cantik banget, Mi. Aku sampai tidak mengenalimu aku pikir tadi Karina jalan sama saudara Meli ternyata kamu," ucap Revan.


"Kok, Kakak tahu Mia ada disini?" tanya Azmia.


"Tadi nanya Melia," jawab Revan.


"Dia galau banget tuh, Mi sedari tadi nyariin kamu nggak ketemu padahal kan hanya tidak mengenali kamu karena tampil berbeda," sambung Kabin.


"Kak Kabin bisa saja," balas Azmia.


"Beneran, Mi. Dia bela-belain pulang cuma pengen ketemu kamu," ujar Kabin.


Mendengar perkataan Kabin. Azmia langsung menatap ke arah Revan. "Kakak kapan sampai?" tanya Azmia.


"Kemarin siang," jawab Revan.


"Mi, foto yuk berdua!" Revan meminta foto berdua dengan Azmia.


"Sini biar aku yang fotoin," ucap Karina.


Revan pun memberikan ponselnya pada Karina.


"Sekalian di depan penghulu yuk, Mi!" goda Revan.

__ADS_1


"Kakak," ucap Azmia.


"Bercanda, sayang," balas Revan.


"Ayo! cepat kalian ingin foto dimana?" tanya Karina.


"Sini dulu satu, nanti kita duduk di kursi itu ya, Dik." Revan menunjuk kursi khusus untuk foto para tamu undangan.


Azmia mengangguk. Mereka pun berdiri dari duduknya berjalan menuju tempat foto.


Devan duduk seorang diri dia bingung melihat kedekatan Azmia dengan Revan dia jadi bertanya-tanya. 'Siapa dia? sepertinya mereka sangat dekat sekali. Apa dia mantan Azmia, tapi Angga bilang Azmia tidak pernah pacaran terus siapa laki-laki itu?' Ah ... sudahlah masa iya gue cemburu sama dia. Nanti akan gue tanyakan pada Angga,' batin Devan.


Selesai berfoto sana sini kini mereka berempat kembali duduk bergabung dengan Devan.


"Pak Devan, mau foto nggak sama Azmia? biar Karina fotoin," tawar Karina.


"Boleh. Nih." Devan memberikan ponselnya pada Karina.


"Mau foto dimana?" tanya Karina karena ada dua tempat khusus foto para tamu.


"Disini saja," jawab Devan.


"Ok." Karina sudah siap mengambil gambar. Azmia dan Devan mulai bergaya kemudian terakhir foto bersama berlima.


"Kakak, nggak makan?" tanya Azmia karena sedari tadi Devan sibuk dengan ponselnya.


"Nanti saja, Dik belum lapar," jawab Devan.


"Makan dulu, Kak. Sibuk terus main handphone dari siapa sih? gebetan?" tanya Azmia.


"Tidak, kan calon Kakak ada di samping Kakak," jawab Devan dengan tersenyum manis.


"Tau ah." Dari pada terus di goda Devan lebih baik makan lagi. Azmia sudah memegang kue yang akan dia makan, tapi saat tangannya ingin memasukkan ke dalam mulutnya, Devan membelokkan ke arahnya jadilah Devan yang makan kue tersebut.


"Kakak," kesal Azmia. Dia kan jadi malu apalagi di depan banyak orang begini.


"He'em ... gerah banget ya di sini," celetuk Karina.


"Dingin begini kamu bilang gerah, Rin," ujar Azmia.


"Dasar nggak peka," sindir Karina. Dia bingung sama Azmia kenapa hari ini dia lola sekali. Dia sengaja berkata seperti itu mewakili hati Revan yang pasti sangat panas melihat Azmia bersama Devan.


'Siapa sih laki-laki itu, terus kok gue nggak lihat Mas Alby ya. Apa Azmia sudah bercerai kalau gue lihat Azmia dekat sekali dengan laki-laki itu dan laki-laki itu juga sepertinya perhatian banget sama Azmia. Nanti gue tanya Karina ajalah dari pada mati penasaran,' batin Revan.


***


Devan : Thor, Azmia buat gue aja ya.


Revan : Buat gue aja Thor.


Alby : Buat gue, gue kan suaminya. Gue nggak akan tandatangani surat cerai biar mereka gak bisa bersama Azmia.


Author : Terserah author lah, kita lihat nanti aja. Nggak usah pada berantem karena nasib kalian ada di tangan author 😂😂😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2