
"Maaf, Pak Alby lama menunggu," ucap seseorang yang baru datang.
"Tidak apa, saya juga baru sampai," balas Alby. ""Silakan!" Alby mempersilakan tamunya untuk duduk.
"Azmia," ucapnya saat menyalami orang yang berada di samping Alby.
"Kak Bagas," balas Azmia terkejut saat melihat orang yang akan bertemu dengan Alby ternyata Kak Bagas arsitektur yang mengurus rencana pembangunan cafe miliknya.
"Kalian sudah saling kenal?" Alby yang heran melihat tamunya mengenali istrinya.
"Iya, Pak Alby. Azmia adalah salah satu klien saya," jelas Bagas.
Alby langsung menatap ke arah Azmia.
Azmia yang mengerti tentang tatapan Alby, dia pun langsung berkata. "Abang, menyuruh Mia untuk mengatur urusan cafe jadi Mia memilih Kak Bagas sebagai arsiteknya."
Alby mengangguk-angguk sebagai tanda ia mengerti.
"Apa Azmia adalah sekretaris Pak Alby?" tanya Bagas.
Alby menoleh ke arah Azmia. Azmia pun mengangguk pelan sebagai kode.
"Iya, Pak Bagas. Azmia baru beberapa minggu bekerja dengan saya," jawab Alby.
"Oh, begitu." Bagas juga tak mengetahui jika Azmia adalah pemilik cafe yang sesungguhnya. Bagas juga menyangka jika Azmia asisten bos cafe karena penampilannya yang sangat sederhana.
__ADS_1
"Pak Bagas ingin pesan apa?" tanya Daffa.
"Samakan saja," jawab Bagas.
"Gimana, Mi. Kapan mulai pembangunan?" tanya Bagas.
"Nunggu keputusan dari Abang Angga dulu, Kak," balas Azmia. Dia selalu menjawab ala kadarnya Azmia merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti ini, dia takut Alby salah paham tentangnya.
"Bisa kita mulai sekarang, Pak Bagas?" tanya Alby.
"Ah, iya," balas Bagas.
Setelah semua deal Alby langsung berpamitan pulang.
"Duh gerah banget padahal ac mobil sudah nyala," ucap Daffa.
"Kalau penasaran langsung saja tanya, orangnya ada di depan mata," ucap Daffa.
Daffa sengaja menyindir Alby. Daffa tau saat ini Alby pasti sedang cemburu karena sedari tadi setelah pertemuan dengan Bagas, Alby hanya diam.
"Apaan sih, Lu," omel Alby.
"Ini ada apaan sih?" Azmia yang bingung dengan ucapan kedua manusia di dekatnya.
"Alby cemburu tuh sama Pak Bagas," jawab Daffa.
__ADS_1
"Hah ...." Azmia tak percaya karena saat kita pertemuan kita satu meja kenapa suaminya cemburu.
"Memangnya lu nggak sadar apa, Mi dari tadi kan Pak Bagas merhatiin lu terus," cerocos Daffa entah kenapa dia itu seperti cctv.
"Mia merasa biasa saja." Meskipun sebenarnya dia juga merasa tidak nyaman saat di dalam, tapi dia berpikir mungkin karena belum terbiasa.
"Apa kamu sering ketemuan dengan Bagas?" kini Alby yang angkat bicara.
"Tidak. Mia hanya sekali bertemu dengan Kak Bagas," jawab Azmia jujur karena memang cuma sekali saat membahas pembangunan cafe.
"Kalau ingin bertemu dengannya harus sama aku," ucap Alby.
"Tap __." ucapan Azmia belum selesai Alby sudah menyahutnya.
"Nggak ada tapi-tapian," sambung Alby.
"Baiklah." Azmia memilih mengalah.
"Dasar bucin," sindir Daffa.
"Biarin, jones." Alby yang tak mau kalah.
"Sepertinya lebih baik kamu jadi sekretaris aku saja dari pada jadi asisten Bang Angga," ucap Alby.
"Tidak bisa seperti itu, Mas. Mia nggak bisa ninggalin cafe begitu saja," balas Azmia.
__ADS_1
Bagaimana bisa dia ninggalin cafe. Meskipun dia pemilik cafe dan memiliki banyak karyawan, tapi tetap saja dia ingin turun tangan sendiri untuk melihat perkembangan cafe.
Azmia lebih suka turun sendiri dari pada menyuruh orang lain.